Sependek pengetahuan saya, ada editor in house yang sebelumnya bukan penulis dalam arti tidak menekuni bidang itu selaku profesi. Bisa saja “terdampar”, bisa tidak. Seorang adik angkatan lain jurusan di kampus dulu sempat bekerja sebagai editor in house yang sesuai latar belakang akademiknya di sebuah penerbit buku pelajaran, kendati tak mengantongi pengalaman sebagai penulis. Lagi pula tugas editor in house toh tidak melulu mengurusi naskah. Cukup banyak editor in house yang piawai menulis, namun keterbatasan waktu tidak memungkinkan untuk (sering) menghasilkan buku.

Untuk editor lepas, sepertinya berbeda. Lantaran spesifik menangani naskah, sangat diharapkan dia mampu menulis. Berpengalaman mempublikasikan karya menjadi nilai tambah yang baik. Beberapa kenalan penulis memperoleh pekerjaan menyunting karena ditawari, jadi tidak melamar lebih dulu.

Bagaimana dengan penulis nonbuku? Kesempatan menjadi penyunting lepas tetap ada, karena kepenulisan tidak hanya berkaitan dengan buku. Sekarang ini peluang menerbitkan buku semakin luas meski tidak berarti kian mudah (dikarenakan banyaknya peminat yang bertambah terus). Memilih jalur indie pun membutuhkan waktu berproses. Oleh karena itu kecakapan menulis artikel di majalah, cerpen, menulis di koran, menjadi web content writer, copywriter, menulis skrip radio, skenario film dan TV, serta banyak lagi lainnya tetap diperhitungkan. Yang penting kita bersedia dan sanggup belajar untuk mengadaptasi media baru mengingat format dan aturan main menyunting buku jelas berbeda. Di samping itu, komitmen. Menulis bisa relatif “sesuka hati”, sedangkan menyunting ada tenggatnya.

Seperti halnya penerjemah merangkap editor, penulis pun sangat boleh merangkap penyunting naskah lokal. Syaratnya mampu mengelola waktu dan energi. Boleh-boleh saja menentukan prioritas sendiri, misalnya lebih mengutamakan menulis atau sebaliknya.

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)