hatta

Sebenarnya bisa dikatakan cerita singkat, karena saya hanya sempat mengintip sebentar-sebentar proses pengerjaan suntingan tersebut. Sekitar dua tahun silam, Mas Agus ditawari Mbak Esti dan Prisca Primasari (Prisca waktu itu masih editor Qanita) untuk menyunting novel dari kisah nyata ini.

Sejarah memang salah satu kecintaan Mas Agus. Selang beberapa bulan sebelumnya, dia membaca buku nonfiksi mengenai Hatta terbitan KPG dan sangat terkesan. Saya sendiri belum membacanya, bahkan novel ini baru saya baca utuh setelah terbit.

Seperti biasa, Mas Agus menyunting satu bab dulu untuk diperlihatkan kepada penulis. Sebagaimana diuraikan di Pengantar, penulis pernah menyutradarai dokudrama mengenai tokoh besar ini. Saat hendak menyetor contoh suntingan itulah, saya mem-proof sedikit dan baru tahu bahwa Bung Hatta seorang pecinta buku kelas berat. Menurut saya, penulis sangat menjiwai tafsir memoar ini dan punya kelebihan dalam diksi puitis. Contohnya sbb:

[sws_green_box box_size=”100″] Kesendirian dalam galau kadang bisa menyeret pada perasaan yang semakin menekan. (hal. 24) [/sws_green_box]

Tokoh favorit saya adalah Pak Gaek, yang pernah menegur Hatta kecil (hal. 41),

Kalau kesukaan sudah melupakan orang pada tanggung jawab, itu sudah tidak benar.

Walaupun banyak elemen politik dalam cerita, penulis mengimbangi dengan keseharian Hatta yang ringan dan manusiawi. Kecintaan beliau akan kopi, contohnya. Saya bukan peminum kopi namun memahami kerinduan beliau ketika jauh dari sesuatu yang disukai. Bagian-bagian perjuangan keluarga untuk bertahan secara ekonomi juga cukup mengharukan.

Ada pembaca yang kurang sreg dengan dramatisasi novel ini, namun seluruhnya telah disetujui oleh keluarga Hatta. Itulah sebabnya proses cetak memakan waktu hampir dua tahun seusai penyuntingan. Bahkan diam-diam sudah cetak ulang:)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)