Judul Terjemahan: Kotak Berbentuk Hati

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2011

Penerjemah: Andra Wisnu

Tebal: 440 halaman

Genre: horor

 

Sebagian orang memang suka menderita.

Alkisah, saya lagi sakaw horor. Film-film horor yang saya tonton sejauh ini kurang memuaskan, dalam arti sekadar seram dan tidak menawarkan sesuatu yang baru. Selagi istirahat sejenak karena tangan kanan cedera, saya putuskan meneruskan membaca novel karya Joe Hill ini. Sekian halaman sudah dibaca tahun lalu, kemudian terlupakan karena ini dan itu. Namun saya tidak baca dari awal lagi, sekalian menguji daya ingat.

Cinta ditolak, dukun bertindak. Slogan yang familier di sini ternyata juga bisa berlaku di mancanegara sana, kemudian diolah Joe Hill menjadi cerita horor bernuansa musik metal. Judas Coyne alias Jude iseng-iseng membeli setelan milik orang mati dari internet, yang ternyata “ditempeli” sesuatu alias hantu si pemilik. Dari situ saja saya sudah tertarik, lalu ternyata si hantu adalah ayah tiri Anna alias Florida, wanita yang pernah dipacari Jude dan dicampakkannya. Craddock McDermott, si ayah tiri, hendak menuntut balas karena Anna bunuh diri gara-gara Jude.

Pikir saya, jika semua pacar/pengagum musisi balas dendam, betapa sengsaranya hidup sang bintang.

Wajar saja bila di permulaan saya masih “ngambang” lantaran mencerna hubungan antartokoh, masih bersifat pengenalan dan serpihan keterangan di sana-sini. Di bagian itulah seperti biasa penulis mengarahkan sugesti dan pemahaman pembaca. Jude yang bergaya hidup bebas dan menamai gadis-gadis yang dekat dengannya sesuai negara bagian asal mereka. Yang terkini adalah Georgia, gadis penari yang lihai melempar pisau. Karakter ini keren di mata saya.

Sedikit demi sedikit terkuaklah latar belakang Jude yang getir. Dengan alur balik sekali-sekali, saya dibuat mengerti oleh dialog Anna dan Jude. Tampaklah kekuatan Joe Hill untuk mengupas karakter dan perwatakan melalui kalimat demi kalimat obrolannya yang kadang sarkastis namun tidak sampai “menyesatkan”. Penampilan seram sang musisi (mungkin juga banyak orang) merupakan tameng karena di masa lalu, ia pernah disakiti orang yang semestinya tidak berbuat begitu. Jaket kulit pun semacam pelindung, pertanda dirinya menutupi luka lama. Saya manggut-manggut, termasuk saat dijelaskan bahwa Anna yang depresi berat sangat hobi bertanya. Menurut Jude, barangkali semasa kecil Anna sering merusuhi orangtua dengan pertanyaan semacam, “Mengapa langit biru?”

Tidak baik membandingkan anak dengan ayah, saudara dengan saudari, atau semacamnya. Maka saya upayakan sekuat tenaga tidak melakukan hal serupa terhadap karya Joe Hill dan ayahnya, Stephen King sang legenda horor. Saya sangat menikmati imajinasi Joe Hill yang hidup, terkadang tertegun dan berpikir, “Yang dia tulis ini hal-hal yang sering saya bayangkan, lamunkan, yang kata orang hanya khayalan semu.” Misalnya profesi Craddock sebagai dowser, pencari sumber air dengan metode pendulum. Saya pernah berjumpa dan melihat langsung pelaku profesi ini bekerja, meski metodenya berbeda. Craddock juga mampu menangani penderita depresi dengan hipnosis dan mencari orang hilang (yang memang sudah meninggal, tapi tidak diketahui di mana). Masih macam-macam lagi yang saya temukan, di antaranya suara hantu yang menembus gelombang radio. Hewan yang mampu mendeteksi makhluk gaib bukan hal baru, namun penggambarannya tak ayal membuat saya asyik mencermati dan menyelami.

Ada hantu yang suka meniup-niup dandelion

Lantaran membaca sejak pagi sampai siang, banyak suara dan peristiwa sekitar yang membuat saya sulit konsen pada deskripsi aneka hantu yang menakjubkan. Sebagaimana jenis yang saya gemari, bukan melulu menakutkan, namun juga menancapkan rasa melankolis. Drama yang proporsional khas novel horor bernapas maskulin diselingi kengerian yang menegangkan. Tangan kanan saya nyut-nyutan di bagian cerita tangan kanan Jude dihancurkan ayahnya semasa remaja. Tangan yang digunakannya untuk membuat kord sehingga dia harus belajar keras memakai tangan kiri. Senar gitar bisa dibalik, seandainya kibor laptop juga bisa begitu…

Nilai tambah lain, Georgia bukan karakter wanita yang hobi jerit-jerit ketakutan lalu lari lintang pukang kemudian mati konyol di tangan monster/penjahat. Bammy selaku nenek tercinta Georgia yang memiliki masa silam pedih berkaitan dengan kegaiban juga tak kalah memesona. Lagi-lagi deskripsi Joe Hill membuat mata saya enggan beralih dan terus membalik halaman. Kendati tidak akrab betul dengan musik metal, saya cengar-cengir karena ada penyebutan Motley Crue dan Metallica. Ada pula pengetahuan baru untuk menangkal hipnosis dan trans.

“Jika pandanganmu bisa membunuh, mungkin aku sudah kena kanker.”

Dahaga saya akan cerita horor yang bagus benar-benar terobati. Pantaslah novel ini meraih Bram Stoker Award for First Novel.

Kabarnya, buku ini akan diadaptasi ke layar perak namun masih dalam proses berkepanjangan.

Judul Terjemahan: Kotak Berbentuk Hati Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2011 Penerjemah: Andra Wisnu Tebal: 440 halaman Genre: horor   Sebagian orang memang suka menderita. Alkisah, saya lagi sakaw horor. Film-film horor yang saya tonton sejauh ini kurang memuaskan, dalam arti sekadar seram dan tidak menawarkan sesuatu yang baru. Selagi istirahat sejenak karena tangan kanan cedera, saya putuskan meneruskan membaca novel karya Joe Hill ini. Sekian halaman sudah dibaca tahun lalu, kemudian terlupakan karena ini dan itu. Namun saya tidak baca dari awal lagi, sekalian menguji daya ingat. Cinta ditolak, dukun bertindak. Slogan yang familier di sini ternyata juga bisa berlaku di mancanegara sana, kemudian diolah Joe Hill menjadi cerita horor bernuansa musik metal. Judas Coyne alias Jude iseng-iseng membeli setelan milik orang mati dari internet, yang ternyata "ditempeli" sesuatu alias hantu si pemilik. Dari situ saja saya sudah tertarik, lalu ternyata si hantu adalah ayah tiri Anna alias Florida, wanita yang pernah dipacari Jude dan dicampakkannya. Craddock McDermott, si ayah tiri, hendak menuntut balas karena Anna bunuh diri gara-gara Jude. Pikir saya, jika semua pacar/pengagum musisi balas dendam, betapa sengsaranya hidup sang bintang. Wajar saja bila di permulaan saya masih "ngambang" lantaran mencerna hubungan antartokoh, masih bersifat pengenalan dan serpihan keterangan di sana-sini. Di bagian itulah seperti biasa penulis mengarahkan sugesti dan pemahaman pembaca. Jude yang bergaya hidup bebas dan menamai gadis-gadis yang dekat dengannya sesuai negara bagian asal mereka. Yang terkini adalah Georgia, gadis penari yang lihai melempar pisau. Karakter ini keren di mata saya. Sedikit demi sedikit terkuaklah latar belakang Jude yang getir. Dengan alur balik sekali-sekali, saya dibuat mengerti oleh dialog Anna dan Jude. Tampaklah kekuatan Joe Hill untuk mengupas karakter dan perwatakan melalui kalimat demi kalimat obrolannya yang kadang sarkastis namun tidak sampai "menyesatkan". Penampilan seram sang musisi (mungkin juga banyak orang) merupakan tameng karena di masa lalu, ia pernah disakiti orang yang semestinya tidak berbuat begitu. Jaket kulit pun semacam pelindung, pertanda dirinya menutupi luka lama. Saya manggut-manggut, termasuk saat dijelaskan bahwa Anna yang depresi berat sangat hobi bertanya. Menurut Jude, barangkali semasa kecil Anna sering merusuhi orangtua dengan pertanyaan semacam, "Mengapa langit biru?" Tidak baik membandingkan anak dengan ayah, saudara dengan saudari, atau semacamnya. Maka saya upayakan sekuat tenaga tidak melakukan hal serupa terhadap karya Joe Hill dan ayahnya, Stephen King sang legenda horor. Saya sangat menikmati imajinasi Joe Hill yang hidup, terkadang tertegun dan berpikir, "Yang dia tulis ini hal-hal yang sering saya bayangkan, lamunkan, yang kata orang hanya khayalan semu." Misalnya profesi Craddock sebagai dowser, pencari sumber air dengan metode pendulum. Saya pernah berjumpa dan melihat langsung pelaku profesi ini bekerja, meski metodenya berbeda. Craddock juga mampu menangani penderita depresi dengan hipnosis dan mencari orang hilang (yang memang sudah meninggal, tapi tidak diketahui di mana). Masih macam-macam lagi yang saya temukan, di antaranya suara hantu yang menembus gelombang radio. Hewan yang mampu mendeteksi makhluk gaib bukan hal baru, namun penggambarannya tak ayal membuat saya asyik mencermati dan menyelami. Ada hantu yang suka meniup-niup dandelion Lantaran membaca sejak pagi…

Kesan Rinurbad

Keseluruhan - 9.8

9.8

Novel Keren

Cocok untuk penggemar musik metal, horor, dan perpaduannya.

User Rating: Be the first one !
10

Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Heart Shaped Box (Joe Hill) ”

  1. gravatar Salman Faris Reply
    April 6th, 2015

    Wah kalau baca kayaknya bakalan horor banget ya mba

    • gravatar Rini Nurul Reply
      April 7th, 2015

      Iya, di situ bagusnya.

Leave a Reply

  • (not be published)