Penulis: Sarah Singleton
Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 328 halaman
Cetakan: I, Oktober 2007

Heretic: Orang yang memiliki opini berbeda dengan pihak berwajib atau
penguasa ortodoks; memiliki kepercayaan agamis yang bertentangan
dengan Gereja yang berkuasa (halaman 8). Seperti itulah Elizabeth
Dyer, bersama keluarganya dikucilkan masyarakat karena menganut agama
Katolik. Ia mengenal arti persahabatan tatkala bertemu dengan Isabella
Leland, gadis bertubuh kehijauan, saat menyambangi sebuah pertapaan.
Penampilan Isabella membuatnya dipandang sebagai makhluk ajaib dari
antah-berantah, dan kepada Elizabeth-lah ia menuturkan identitasnya.

Ratusan tahun Isabella dibesarkan di dunia peri, yang disebutnya
sebagai negeri bayangan. Ibunya, Ruth, dihukum mati karena pengaruh
sebuah keluarga terhormat yang menuduh wanita ahli obat-obatan itu
menenung bayi lelaki mereka sejak lahir. Isabella dan adiknya, John,
diserahkan kepada kaum gagak supaya selamat. Sesekali gadis itu
menengok dunia manusia, meski tak dapat menampilkan diri seutuhnya di
luar pertapaan sementara sang adik telah menjadi pangeran negeri
bayangan.

Nasib Elizabeth tak jauh berbeda. Ibunya, Jane, direnggut dari rumah
kecil mereka di Jalan Perak karena menyembunyikan Pastor Thomas
Montford atas prakarsa sang kakak, Robert. Pastor itu sendiri aman di
liangnya. Hal ini mengingatkan saya pada lubang persembunyian Barabbas
di rumah Joachim dalam Virgin Mary dan tempat berlindung budak-budak
kulit hitam dalam Kapten March. Jane terpaksa meninggalkan putri
mungilnya, Esther, bersama pengasuhnya, Mary. Sedangkan Elizabeth
berada di sisi Lady Catherine yang menyayanginya, walau bahaya tetap
mengancamnya. Isabella dan Elizabeth saling membantu. Keduanya menyimpan rahasia
besar, yang kelak mengungkap keterkaitan keluarga masing-masing.

Dibandingkan Century, nuansa fantasi dalam novel ini lebih kuat dengan
bingkai sejarah pertentangan Katolik dan Protestan di kerajaan
Inggris. Seperti biasa, Singleton menghasilkan kombinasi yang hebat.
Meramu kejutan demi kejutan, misalnya pada klimaks tatkala Elizabeth
mengikuti Isabella menghadap Ratu Negeri Bayangan. Lompatan waktu
seakan menjadi ciri khas Singleton, yang juga ditampilkan lebih
dominan dalam Century.

Penutup kisah ini disajikan sangat menawan, tidak sekadar penyelesaian
yang adil bagi Isabella dan Elizabeth. Namun satu hal yang masih saya
pertanyakan: mengapa Santo Jerome menganggap kaum gagak — yang
dicurigai sekutu setan– itu sebagai malaikat?

Skor: 3/5


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

NEXT ARTICLE

Leave a Reply

  • (not be published)