Sensasi menonton ulang acap kali tak kalah “menggetarkan” dengan membaca ulang.

Menyaksikan kembali Hide and Seek dengan gambar yang lebih jelas dan teks yang relatif lebih baik ini semacam tes ingatan atas pengalaman pertama 7 tahun lampau. Saya terkenang pertanyaan-pertanyaan remeh di hati sendiri sewaktu nonton, sekaligus aneka kesimpulan yang juga ditarik sendiri. Misalnya:

  1. Oh, psikiater tidak boleh merawat anak sendiri. Mungkin masalah kode etik dan konflik kepentingan. Saya pernah nemu istilahnya di novel Sheldon, tapi cuma ingat “reference”.
  2. Psikiater juga perlu berkomunikasi dan bertanya pada psikiater lain.
  3. Mereka hanya tinggal berdua. Rumahnya besar, kok bisa ya selalu rapi dan bersih? Apakah dibenahi dulu sebelum mulai syuting?

Mempunyai ayah psikiater dan ibu yang tewas bunuh diri di bak mandi menciptakan tekanan jiwa yang berat bagi Emily Callaway (Dakota Fanning). Gadis cilik ini dibawa pindah ke pinggiran kota yang tenang oleh sang ayah, Dr. David Callaway (Robert De Niro) untuk memantau lebih dalam perkembangannya. Khas penderita gangguan jiwa, Emily (lagi-lagi) digambarkan tak suka berteman, memiliki kawan imajiner, dan gemar mencoret-coret. Salah satu terapinya adalah menulis diari.

Kawasan tenang itu tidak berarti bebas dari masalah. Ada tetangga yang berduka sekian lama karena anaknya meninggal, kenalan wanita lain yang baru bercerai, sementara upaya David untuk “menormalkan” kehidupan dan perilaku Emily kian sulit. Dia terus merindukan ibunya, juga memelihara kebiasaan membuka pintu sedikit sebelum tidur.

Menonton film ini membuat saya ingat pikiran iseng terkait permainan petak umpet. Bagaimana kalau yang ngumpet itu tidak kembali? Bagaimana kalau sewaktu ngumpet dia diculik? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Hide and Seek sungguh memesona. Thriller psikologi yang masuk daftar favorit kami:)

Sumber poster

Skor: 4,5/5


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)