Anthony Hopkins salah satu aktor favorit kami. Saking sukanya, saya pernah terlupa membeli film yang sama dua kali. Bukannya ngecek dulu, yang penting ada dia main, ya saya ambil:p

Ihwal Alfred Hitchcock sendiri, saya lebih akrab dengan film-film hitam putihnya yang pernah ditayangkan di TVRI: Alfred Hitchcock Presents. Singkat, penuh misteri, sadis, namun mengesankan. Masa itu saya masih SD atau baru masuk SMP, sama sekali tidak trauma menontonnya bahkan selalu menantikan seri ini. Bisa jadi itulah cikal bakal rasa tertarik saya pada genre sejenis. Pikir saya, idenya termasuk terobosan. Salah satu yang saya ingat ialah gadis tunanetra (atau kelainan jantung? Saya lupa:p) yang dioperasi dan diperjuangkan sang kekasih agar segera sembuh. Setelah sehat, malah si gadis selingkuh dengan dokternya.

Dalam film ini, yang diangkat adalah Hitchcock di puncak masa jaya dan ingin mencoba sesuatu yang baru. Hal yang lebih mendekati prinsip idealisnya. Dia merindukan kebebasan berkarya sehingga bersepakat dengan sang istri untuk membiayai sendiri produksi film Psycho. Itulah film horor garapan Hitch yang pertama.

Tentu saja diungkapkan sisi-sisi kelam kepribadian Hitch, konflik dengan istrinya yang sekian lama mendukung dan punya bakat menulis juga. Secara keseluruhan, unsur drama persuamiistrian ini mengandung banyak pelajaran. Diam, bukan berarti tidak tahu. Saling menghargai dan tidak menjadikan yang satu sebagai bayang-bayang sangat penting dalam hubungan rumah tangga, terutama bila ada dua genius di satu rumah. Kolaborasi kompak Helen Mirren dan Hopkins membuat film ini istimewa. Tak ayal, kami terkesima oleh penghayatan dan rias wajah Hopkins. Pasti capek menirukan cara bicara sang sutradara yang asli:D

Banyak juga pengetahuan mengenai produksi film, setidaknya untuk zaman baheula. Yang paling saya perhatikan adalah negosiasi Hitch dengan badan sensor. Cara komunikasi dengan bahasa halus yang “mencubit” sangat memberi inspirasi.

I’m just a man hiding in the corner, with a camera… watching.”

Dalam proses editing, salah satu kru berkomentar, “I think I’ll never have another shower again.” Saya senyum-senyum, karena pernah nonton sekilas Psycho ini di waktu remaja dan sulit melupakannya. Setiap kali melihat kamar mandi ber-shower dengan tirai, saya enggan berlama-lama dan membayangkan ada pembunuh menyusup sambil mengangkat pisau. Siap menikam di belakang.

Tentang film ini? Te o pe be ge te.

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)