Lagi, saya berjodoh dengan materi berbau dokter-dokteran. Memang sewaktu menggarap ini saya tidak terlalu diharuskan meriset istilah medis serta belum memiliki kamus Dorland yang belakangan sangat membantu. Ada gunanya juga ‘pengalaman’ saya bolak-balik opname semasa muda sehingga masih ingat apa itu endoskopi, misalnya.

Secara umum, komik berjudul asli Les Toubibs yang digarap Alain Sirvent berkolaborasi dengan Bélom ini adalah black comedy mengenai dokter. Karakter dokternya mata keranjang dan kadang-kadang membuat saya bingung. Ia dokter umum, tapi dalam suatu cerita juga memeriksa mata.

Mengerjakannya cukup menjadi hiburan untuk saya yang kerap merinding membayangkan tempat praktik dokter, rumah sakit dan bau obat. Dokter gigi, dokter umum, dokter mata, semua rasanya sama. Adakalanya saya membayangkan jika dokter mengenakan jas bermotif kembang-kembang atau rumah sakit tidak bercat putih, mungkin tidak terlalu menegangkan:D

Salah satu adegan yang membuat saya tergelak-gelak adalah ketika sang dokter menerima telepon di depan pasien mengenai cara membunuh orang yang paling efektif. Pasien sampai pucat mendengar saran-saran itu, padahal dokter hanya membantu riset kawannya yang sedang menulis fiksi.

Satu cerita sindiran membahas sang dokter yang bertemu pasiennya di jalan. Sang pasien lebih segar setelah mengurangi daging sesuai saran dokter itu. Namun dengan sedih ia bercerita bahwa kawan baiknya, tukang daging, bangkrut dan depresi sampai meninggal.

Di cerita lain, seorang pasien kesal karena doanya, “Semoga sehat selalu” di Tahun Baru tidak ditanggapi sang dokter. Sekretaris dokter menjawab, “Anda harus mengerti. Kalau dia mendoakan Anda sehat terus, dia akan menganggur.”

Seperti Patroli Kosmik, Humor Dokter pun ditujukan bagi pembaca dewasa. Buku aslinya dua tome (volume), tapi terjemahan Indonesianya dijadikan satu buku oleh penerbit.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)