forgotten

Judul: Forgotten Massacre; Persahabatan dan Cinta di Tengah Tragedi G-30-S-PKI

Penulis: Peer Holm Jorgensen

Penerjemah: Ingrid Nimpoeno

Penerbit: Qanita

Cetakan: I, Juni 2009

Tebal: 452 halaman

 

Jika kau bertanya kepadaku, Kasper, apa yang mengemuka di benak ini kala mendengar kata G-30-S-PKI, jawabannya adalah makar dan pertumpahan darah yang didengungkan setiap tahun melalui film dokumenter hitam putih di televisi. Aku tidak pernah tuntas menyimak tayangan menuju larut malam, bahkan dini hari, itu dikarenakan banyaknya cerita mencekam ihwal kematian orang-orang yang diklaim tak bersalah. Yang terekam oleh ingatanku ialah adegan-adegan rapat dengan suara samar di tengah kepulan asap rokok, suatu penanda kerahasiaan dan keseriusan peristiwa yang kemudian diukir dalam buku-buku PSPB [tolong jangan tanyakan kepanjangannya] selaku pelecut Hari Kesaktian Pancasila.

Saat waktu merangkak dalam proses tumbuh kembangku, menguarlah suara-suara lain bahwa sejarah kerap diulang-alik oleh mereka yang berkepentingan. Bermunculanlah pihak-pihak yang berlabel korban kekerasan politik, hal yang masih berupa bayang-bayang kutangkap dalam relevansinya dengan formulir panjang lebar kala melamar pekerjaan dan mencantumkan butir Pemahaman Pancasila serta Ideologi. Asupanku terbatas pada film-film yang hanya separuh kumengerti, serta sejumlah karya fiksi yang perlahan tapi pasti membuka mataku akan ketidakjelasan yang lama mengusik hati.

Tatkala mengamati kulit muka novel yang menyala ini, Kasper, serta-merta tergiur tanganku untuk menggapai dan menyimak lembar demi lembarnya. Aku sangat ingin tahu, bagaimana pandangan seorang warga negara asing, meski hanya singgah untuk kepentingan pekerjaan, tentang Indonesia pada masa kelam itu? Sering kali suatu kelompok, besar atau kecil, tak ubahnya berada dalam akuarium. Hanya orang-orang di luarlah yang melihat keruh airnya atau kegelisahan di sekitarnya.

Menilik karaktermu yang cenderung berpihak pada bangsa Indonesia, menaruh animo besar terhadap kehidupan masyarakatnya, sekaligus keprihatinan akan kekisruhan yang melanda tanah yang kau pijak beberapa lama, tak pelak pembaca akan langsung membidikmu jatuh hati pada tanah air kami sehingga menggelontorkan opini-opini yang tidak bening. Namun toh dari kacamatamu itu, terhidang fakta-fakta meringiskan batin mengenai petugas keamanan yang gemar disogok. Dicekal rasa malu, tak urung simpati menghinggapiku saat engkau menyatakan kerikuhan digeledah sampai tak dibalut benang sehelai pun. Perbuatan yang melanggar pagar-pagar kepantasan semata demi menoreh keping harta yang kausembunyikan. Sikap yang justru memperkuat pameo “peraturan dibuat untuk dilanggar.”

Kasper, pribadimu membuatku sukar beranjak dari alinea ke alinea. Kau yang tidak chauvinist, kau yang dalam tonggak umur belia masih menyempatkan pandangan penuh kepedulian terhadap anak-anak singkong, kau yang diterpa praduga menyukai sesama jenis. Aku masih tertatih-tatih meraba benang merah antara bab satu dengan lainnya, tatkala kisahmu menjejak pertemuan dengan Nadia dan keenggananmu berhadapan dengan Malabar si anjing berseling uraian konspirasi yang mengerutkan kening. Bagaikan grafik, lesatannya terbilang drastis. Namun lambat-laun aku memahami bahwa begitulah sistematika yang digunakan Peer Holm Jorgensen untuk memperlunak suasana cerita sehingga pembaca tidak terseok-seok mencerna.

Kasper, kontribusi Ingrid Nimpoeno selaku pengalih bahasa dan Indradya SP yang menyerasikan alunan isi novel ini tidaklah kecil. Aku terseret dalam gaya hidup pelaut yang kerap membuatku terkapar, perkelahianmu dengan lelaki Jerman Timur yang hendak melecehkan Nadia, ketidakmengertianmu akan sikap gadis itu yang tak juga beringsut dari Indonesia walau carut-marut di sekitarnya semakin nyata, banyaknya alkohol yang memasuki lambungmu sehingga menularkan mual. Di situlah pikiranku menjadi terang akan subjudul yang diterakan pada novel ini. Di samping berderetnya pertanyaanku kepada seorang pembaca aktif yang lebih tahu seputar sejarah politik: apakah Soekarno memang pro komunis? Mengapa Amerika harus resah jika Indonesia hanya berhubungan bilateral dengan Cina? Paparan-paparan yang, bagiku, mengelupas kedok metode politik Amerika dengan aneka strategi dan selama ini hanya kutangkap dari layar lebar dan sejumlah fiksi lain menggeliatkan diskusi di dunia maya meski tak panjang benar.

Tapi dengan sejujurnya, kunyatakan diri bukan peminat romansa. Maka aku sempat terjerembab rasa jemu ketika cerita mengalun-alunkan ketidakpastian antara kau, Nadia, dan Thomas. Walau sedikit, masih terkandung muatan observatif dari asumsi-asumsimu… bahwa Nadia pasti bukan muslim, karena itu ia bekerja di London Bar; bahwa Sophie tidak serius menjalankan Islam, terlihat dari caranya berpakaian; bahwa Jimmy pasti seorang muslim, maka dari itu ia menenggak bir cepat-cepat sebelum orang lain melihat. Pemikiran serbasederhana yang tetap membuatku merenung.

Kendati terhuyung-huyung, aku masih mencoba mengikuti irama ceritamu. Arus politik yang kusangka hanya latar belakang terpisah tidak pelak menyeretmu juga. Seperti tarian, di titik itulah langkah dan musik pengiring menjadi padu. Ketika kau memutuskan untuk terlibat dalam urusan Jimmy dan Sophie, kau bukan sekadar didudukkan sang novelis sebagai nonsimpatisan Soekarno yang lugu dan kerap alpa mengritiknya di depan para pendukung.

Kasper, tidak perlu kukemukakan terlalu rinci mengenai penutup kisahmu yang filmis. Aku telah sampai pada kesimpulan: Forgotten Massacre bukan memoar yang jamak kudapati. Dan terima kasih kuhaturkan kepada Mr. Jorgensen, karena telah sudi membaca seulas singkat komentarku di suatu forum dan menyatakan menyukainya.

[rating=3]

Catatan:

Resensi ini menjadi salah satu yang terpilih sebagai pemenang lomba di Penerbit Qanita tahun 2009. Hadiah-hadiahnya tidak terlupakan sebab dari situlah saya berkenalan dengan Lisbeth Salander ^_^


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)