Suatu hari, seorang kolega penerjemah hendak menjajaki kerja sama dengan suatu penerbitan yang berpusat di Bandung. Ketika saya sarankan mengirim lamaran lagi, ia berkata, “Kan selama ini aku sudah menerjemahkan di grup itu, Rin, kirain sudah otomatis “masuk” datanya.”

Saya jelaskan bahwa, sependek pengetahuan saya, tiap anak grup memiliki kebijakan, contact person, lini produk, dan database sendiri-sendiri. Jangankan berbeda cabang, jika penerjemah fiksi hendak mengajukan lamaran ke divisi nonfiksi pun tidak bisa “titip” lewat editor yang dikenalnya. Sangat dianjurkan untuk melamar ulang ke editor penanggung jawab genre tersebut agar tepat sasaran.

Memang rumit menghafal dan mengenali cabang atau anak grup penerbitan yang terbilang besar. Di sinilah jasa internet, dengan ketekunan menyaring “sampah” informasi yang tidak relevan bahkan tidak berguna, terasa. Atau hobi mencermati halaman hak cipta di buku, ternyata iseng-iseng yang bermanfaat. Jangankan membedakan anak grup, sampai hari ini masih banyak yang tidak bisa memisahkan suatu jaringan toko buku dengan penerbit yang bernama sama. Bagi pembaca mungkin tak terlalu masalah, selalu ada yang menunjukkan “jalan” alias informasi yang benar. Namun untuk pelaku penerjemahan dan penyuntingan buku, termasuk penulisan, alangkah baiknya memahami perbedaan tersebut.

Anak grup bisa dikatakan cabang perusahaan dalam penerbitan. Ada yang berlokasi di kota berlainan, ada juga yang tidak. Biasanya produk buku yang dihasilkan memiliki kekhasan, meski tidak signifikan benar. Sebagai contoh, ada anak grup yang dominan memproduksi komik dan novel grafis, sedangkan anak grup lain menerbitkan buku-buku umum namun terkadang menerbitkan novel grafis juga. Tim yang mengawakinya sudah pasti berbeda. Karena itu redaksi suatu anak grup biasanya tidak tahu produk atau rencana terbit anak grup lain.

Bagaimana dengan imprint? Dua definisi di bawah ini menurut saya paling mengena:

the designation under which a publisher issues a given list of titles. a designation by which the books of a publisher are identified.

Sumber

There are several meanings for the word imprint, but it usually means a subsidiary publishing house. Imprint publishers will often be specialty publishers, whereas their parent companies may publish books with no limitations on subjects or content.

Imprint bukan mutlak “milik” grup penerbitan besar. Istilah sederhananya adalah lini, yang ditentukan untuk membedakan genre produk. Sebagai contoh, ketika suatu penerbit yang identik dengan buku-buku fantasi melirik genre drama, mereka membuat imprint bernama lain. Umumnya saat promosi, dicantumkan seperti ini: XYZ (imprint GHI).
Jenis produklah tolok ukur yang dapat membedakan imprint satu dengan lainnya dalam satu penerbitan. Tim yang menangani bisa saja itu-itu juga, atau kolaborasi dengan divisi/anak grup lain. Wajar bila timbul kebingungan ketika dibentuk imprint yang “mengawinkan” beberapa anak grup sekaligus. Katakanlah, satu imprint buku remaja yang ternyata mencakup buku terbitan A, B, dan C yang sama-sama di bawah grup ABC.
Diferensiasi produk tidak bisa lagi dijadikan parameter di penerbitan tertentu, sehingga membedakan imprint semakin rumit. Belum lagi kalau kita ketinggalan informasi alias jarang menjenguk dunia perbukuan sehingga tahu-tahu satu imprint berumur pendek atau dilebur dengan nama baru. Ini lumrah saja. Suatu penerbitan yang sudah tutup kerap dikira satu grup dengan penerbitan lain yang sama sekali tidak ada hubungannya, bahkan oleh praktisi perbukuan.
Catatan: ini sependek pengamatan saya terhadap penerbitan buku umum. Ihwal penerbit khusus buku pelajaran baik yang melebarkan sayap ke buku umum atau tidak, saya tidak tahu.

Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)