Judul: In Darkness, Death!
Penulis: Dorothy & Thomas Hoobler
Penerjemah: Hari Ambari
Penerbit: Dastan
Cetakan: I, Maret 2009
Tebal: 296 halaman
ISBN: 978-979-3972-62-6

Walaupun merupakan sekuel, buku ketiga Kisah Seikei Konoike ini dapat dibaca secara terpisah tanpa menimbulkan kebingungan karena tidak mengikuti buku-buku sebelumnya. Masih berkisar pembuktian kemampuan Seikei sebagai detektif sekaligus putra angkat seorang hakim, kali ini ia terlibat dalam pengungkapan kasus pembunuhan seorang tuan tanah bernama Inaba. Satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku adalah origami kupu-kupu.

Dalam perjalanan membongkar kejahatan ini, Seikei diperkenalkan lebih dekat pada dunia ninja. Ia dititipkan kepada Tatsuno, seorang ninja yang mendampinginya menyelidiki beberapa hal sesuai perintah Hakim Ooka. Di sini terlihat bahwa sebagai seorang ayah, Ooka melepas putranya mengetahui lebih banyak hal. Akan tetapi, bukan berarti ia cuci tangan terhadap risiko maut yang mengancam Seikei. Tatsuno diwanti-wanti bahwa Hakim Ooka akan bisa menemukannya di mana pun jika terjadi sesuatu pada putra angkatnya tersebut.

Tatsuno menjelaskan berbagai hal terkait asumsi keliru masyarakat terhadap ninja. Ninja sangat bersahabat dengan kami (roh) dan biasa tinggal dalam kesenyapan di pegunungan. Akan tetapi Shogun gelisah apabila terdapat pihak-pihak yang berada di luar jangkauan mereka. Seiring dengan aliran plot yang menegangkan, hal-hal lazim yang mungkin telah sering didengar mengenai ninja muncul. Sebut saja senjata rahasianya, shuriken, dan kemampuan ninja menghilang. Sama halnya dengan samurai, ninja memiliki etika kehormatan tersendiri dan tidak akan melanggar janji.

Seperti biasa, Dorothy dan Thomas Hoobler membentangkan elemen budaya Jepang dalam bab demi bab. Sejak permulaan, misalnya, diungkapkan bahwa makanan yang dihidangkan menunjukkan apakah tuan rumah menghendaki tamunya tetap tinggal atau justru tidak menyukai mereka. Keterangan mengenai lantai bulbul, yang berderak sehingga penjaga mengetahui ada orang mendekat, pun sempat memancing tawa ketika pada suatu bab Seikei justru terjatuh dan menginjaknya tanpa ampun karena tidak mampu merayap di dinding selihai Tatsuno. Karakternya yang masih lugu dan idealis terkadang menggemaskan hati, walau kemudian dipaparkan bahwa putra angkat Hakim Ooka ini telah menunjukkan kedewasaan dengan sikapnya yang pantang menyerah.

Pesona novel yang meraih Edgar Allan Poe Award ini antara lain nampak pada beberapa kalimat berikut:

“Jika hatimu adalah hati seorang samurai sejati, pedang kayu akan setajam pedang baja.” (hal. 48)

“Tak bijak untuk menganggap hanya karena seseorang tak punya sopan santun, dia berarti tak pandai berperang.” (hal. 50)

“Jika kehormatanmu memintamu untuk membunuh setiap anjing yang menggonggongimu…”kau hanya akan menghabiskan sisa hidupmu mengejar anjing-anjing. Tak ada kehormatan di sana.” (hal. 51)

Penampilan fisik In Darkness, Death! tak kurang unik. Sisipan pembatas buku yang senantiasa menjiwai isi cerita, kali ini berupa bentuk kupu-kupu, walaupun tidak begitu maksimal menjalankan fungsinya untuk menandai halaman. Toh, novel ini sangat patut ditengok para penggemar kisah detektif dan yang berbau negeri matahari terbit.

[rating=4]


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)