Mei, saya, dan Indra Kendati paham menyungainya tugas editor in house, tak ayal saya bertanya-tanya mengapa mereka yang punya blog sangat jarang menulis tentang hal-hal berbau pekerjaan. Indradya, editor Mizan Pustaka yang kini identik dengan buku traveling karena blognya dan beberapa buku yang ia sunting (Geography of Bliss dan Bikepacker Nekat di antaranya) sama saja. Ketika saya minta menulis barang sedikit tentang penerjemahan dan penyuntingan, katanya seperti disuruh lari 10 kali keliling Bangkok. Untunglah Indra bisa saya “ganggu” dengan tanya ini-itu alias wawancara santai, dengan banyak ngalor-ngidul di awalnya. Berikut obrolan tempo hari: R: Sebelum jadi editor in house, gimana bayangan Indra mengenai tugasnya? Apakah kenyataannya sekarang mirip, atau jauh berbeda? I: Sebelum jadi editor in house, saya malah jadi guru bahasa inggris. tapi saya sudah cukup banyak tahu seperti apa detail pekerjaan seorang editor. Modal untuk tahu soal itu cuma dengan browsing dan blogwalking. ditambah minat, tentu saja. Setelah jadi editor di sini selama 4 tahun, tugas editor tak jauh berbeda dengan bayangan saya. Aslinya sih saya memang ingin jadi editor. R: Kabarnya penerjemah bisa ketahuan lebih bagus di nonfiksi atau fiksi. Adakah kriterianya? I: Ciri paling gampang bisa dilihat dari apa minat bacanya. Kalau bacanya hampir selalu buku fiksi, ya kemungkinan besar di situ kemampuan dan pengetahuannya. Saya sendiri membaca banyak tema, baik fiksi maupun nonfiksi. Imbasnya, buku yang saya edit juga beragam temanya. Sejauh ini saya sangat menikmati kok. R: Jadi Indra sekarang menangani nonfiksi saja atau fiksi juga? I: Saya sekarang lebih banyak diberi jatah buku nonfiksi. Persentasenya kira2 65% nonfiksi dan 35% fiksi. R: Apakah pernah menangani buku yang dirasa kurang cocok? I: Editor in chief kan udah tau genre ini cocoknya buat editor A atau B, sudah terpetakan di sini. Kalaupun saya ngerasa nggak sanggup, boleh nolak kok... atau cari editor freelance yang pas untuk naskah tersebut.   R: Bagaimana cara Indra sendiri menentukan penerjemah yang cocok untuk naskah tertentu? I: Diliat track record juga, plus ngobrol-ngobrol dulu. Buku ini temanya begini-begitu, sanggup/mau nggak? Kalau dari pengalaman, penerjemah yang merasa tidak sanggup atau tidak berminat pasti menolak. “Wah, saya mendingan buku bisnis/manajemen aja Mas.” Untuk penerjemah/editor freelance baru, dalam artian yang belum pernah bekerja sama dengan penerbit saya, ya tentunya dilihat CV-nya, dites dulu, plus ngobrol dan dilacak hal-hal lainnya, misalnya blog atau buku-buku yang pernah dia terjemahkan di penerbit lain. Makanya, penerjemah/editor freelance perlu banget punya blog. Apalagi kalau si editor/penerjemah lepas ini juga bisa nulis bagus, makin tinggilah skornya. Makin besar kesempatan buat dicolek sama penerbit. R: kalau memang biasa garap berbeda-beda genre/tema, gimana cara beralih dengan mulus waktu nerjemahin/ngedit? I: Awalnya baca bismillah dulu, abis itu skimming dan scanning. Dengan beban pekerjaan seperti ini, begitu satu naskah sudah masuk percetakan, lupakan yang sudah lewat dan langsung hajar yang berikutnya. R: Bisa otomatis melupakan gitu aja? I: Lama-lama ya biasa. Kalo buku yg sudah dicetak ada masalah, memori itu akan kembali, karena jeda waktunya juga tidak lama. R: Apa asyiknya industri perbukuan buat Indra? I: bisa terus belajar…

User Rating: Be the first one !
0
Mei, saya, dan Indra

Mei, saya, dan Indra

Kendati paham menyungainya tugas editor in house, tak ayal saya bertanya-tanya mengapa mereka yang punya blog sangat jarang menulis tentang hal-hal berbau pekerjaan. Indradya, editor Mizan Pustaka yang kini identik dengan buku traveling karena blognya dan beberapa buku yang ia sunting (Geography of Bliss dan Bikepacker Nekat di antaranya) sama saja. Ketika saya minta menulis barang sedikit tentang penerjemahan dan penyuntingan, katanya seperti disuruh lari 10 kali keliling Bangkok. Untunglah Indra bisa saya “ganggu” dengan tanya ini-itu alias wawancara santai, dengan banyak ngalor-ngidul di awalnya.

Berikut obrolan tempo hari:

R: Sebelum jadi editor in house, gimana bayangan Indra mengenai tugasnya? Apakah kenyataannya sekarang mirip, atau jauh berbeda?

I: Sebelum jadi editor in house, saya malah jadi guru bahasa inggris. tapi saya sudah cukup banyak tahu seperti apa detail pekerjaan seorang editor. Modal untuk tahu soal itu cuma dengan browsing dan blogwalking. ditambah minat, tentu saja. Setelah jadi editor di sini selama 4 tahun, tugas editor tak jauh berbeda dengan bayangan saya. Aslinya sih saya memang ingin jadi editor.

R: Kabarnya penerjemah bisa ketahuan lebih bagus di nonfiksi atau fiksi. Adakah kriterianya?

I: Ciri paling gampang bisa dilihat dari apa minat bacanya. Kalau bacanya hampir selalu buku fiksi, ya kemungkinan besar di situ kemampuan dan pengetahuannya. Saya sendiri membaca banyak tema, baik fiksi maupun nonfiksi. Imbasnya, buku yang saya edit juga beragam temanya. Sejauh ini saya sangat menikmati kok.

R: Jadi Indra sekarang menangani nonfiksi saja atau fiksi juga?

I: Saya sekarang lebih banyak diberi jatah buku nonfiksi. Persentasenya kira2 65% nonfiksi dan 35% fiksi.

R: Apakah pernah menangani buku yang dirasa kurang cocok?

I: Editor in chief kan udah tau genre ini cocoknya buat editor A atau B, sudah terpetakan di sini. Kalaupun saya ngerasa nggak sanggup, boleh nolak kok… atau cari editor freelance yang pas untuk naskah tersebut.

 

R: Bagaimana cara Indra sendiri menentukan penerjemah yang cocok untuk naskah tertentu?

I: Diliat track record juga, plus ngobrol-ngobrol dulu. Buku ini temanya begini-begitu, sanggup/mau nggak?

Kalau dari pengalaman, penerjemah yang merasa tidak sanggup atau tidak berminat pasti menolak. “Wah, saya mendingan buku bisnis/manajemen aja Mas.”

Untuk penerjemah/editor freelance baru, dalam artian yang belum pernah bekerja sama dengan penerbit saya, ya tentunya dilihat CV-nya, dites dulu, plus ngobrol dan dilacak hal-hal lainnya, misalnya blog atau buku-buku yang pernah dia terjemahkan di penerbit lain. Makanya, penerjemah/editor freelance perlu banget punya blog. Apalagi kalau si editor/penerjemah lepas ini juga bisa nulis bagus, makin tinggilah skornya. Makin besar kesempatan buat dicolek sama penerbit.

R: kalau memang biasa garap berbeda-beda genre/tema, gimana cara beralih dengan mulus waktu nerjemahin/ngedit?

I: Awalnya baca bismillah dulu, abis itu skimming dan scanning. Dengan beban pekerjaan seperti ini, begitu satu naskah sudah masuk percetakan, lupakan yang sudah lewat dan langsung hajar yang berikutnya.

R: Bisa otomatis melupakan gitu aja?

I: Lama-lama ya biasa. Kalo buku yg sudah dicetak ada masalah, memori itu akan kembali, karena jeda waktunya juga tidak lama.

R: Apa asyiknya industri perbukuan buat Indra?

I: bisa terus belajar skill editing dan penerjemahan, sama nulis. Ini masih ditambah kesempatan belajar memburu penulis potensial yang belum “digosok”. Kalo ada kesempatan mungkin saya mau aja belajar cara mencetak buku di percetakan.

I: Banyak yang bilang editor buku kerjanya berat, tapi pendapatannya tidak besar. Menurut Indra gimana?

I: Ada beberapa pekerjaan yg menurut saya menuntut dedikasi. Beberapa di antaranya: wartawan dan editor buku. Soal pendapatan itu kan relatif banget. Tentu jangan dibandingkan dengan kerja di perusahaan minyak global. Dalam kasus saya, pekerjaan sebagai editor buku itu secara penghasilan dan kepuasan batin baik-baik aja tuh. Dalam pekerjaan ini, setiap buku yang digarap selalu punya cerita yang berbeda. Tantangannya juga selalu berbeda. Ketika melihat buku keluar dari percetakan dengan tampilan keren, saat mengetahui buku yang saya garap jadi bestseller, atau berhasil membimbing seseorang yang berpotensi yang belum menulis hingga dia selesai menulis, kepuasan semacam ini sulit dilukiskan.

Khusus editor buku, ini jenis profesi yang menuntut kecintaan. Anda bisa jadi staf keuangan atau administrasi di semua perusahaan. Tapi editor buku hanya bisa bekerja di penerbit buku, termasuk editor freelance yang bersimbiosis mutualisme dengan penerbit. Yaa paling banter masih bisa kerja di surat kabar atau ngajar bahasa deh. Kecuali orang tersebut memang punya keahlian lain di luar yang saya sebutkan itu.

Kalau saya, sejak dari mahasiswa sudah mencoba menjelajahi berbagai profesi yang berhubungan dengan bahasa. Wartawan, guru bahasa Indonesia untuk orang asing, guru bahasa Inggris, dan sekarang editor buku. Saya lebih menikmati yang terakhir ini.

Catatan: Indra menempuh studinya di jurusan Sastra Prancis UGM.

R: Editor in house kadang mendapat tugas menerjemahkan untuk kantornya, adakalanya bersama editor lain. Adakah kiat menerjemahkan atau mengedit keroyokan? [Indra pernah menerjemahkan Anne of the Island bersama Nur Aini dan Mbak Esti Budihabsari, juga menyunting Dragon Bones bertiga]

I: Memang agak merepotkan ya. Menerjemahkan keroyokan itu biasanya kan karena penerbit ingin buru-buru menerbitkan sebuah buku terjemahan demi mengejar momentum. Yang pasti, sering-sering komunikasi sama rekan lain. Dari awal pastikan aja beberapa hal yang perlu. Misal lagi mo ngerjain novel, pastikan mau pake kata ganti apa, mau kalimatnya seluwes apa, berapa halaman yang dikerjakan masing-masing, dsb.

Soalnya nanti di tengah-tengah, kalau kita kebagian nerjemahin yang bukan dari awal, mungkin sekali kita rada ahistoris. Si A ini siapa sih? Hubungannya apa sama si B? Wataknya gimana? dll

Kalo udah selesai nerjemahin, enaknya dibaca lagi, baik terjemahan sendiri atau terjemahan rekan. Idealnya barengan.

Terima kasih, Indra. Hidup Pesta Kolesterol!:p

Ingin lihat meja Indra yang katanya berantakan? Silakan ke sana.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

7 Responses to “ Indradya SP: Penerjemah dan Editor Lepas Sebaiknya Punya Blog ”

  1. gravatar lulu Reply
    April 2nd, 2013

    Jadi harus lebih rajin update blog nih 🙂

    • gravatar Rini Nurul Reply
      April 2nd, 2013

      Ayo Lul, kan banyak bahannya tuh:D

  2. gravatar Nadiah Alwi Reply
    April 2nd, 2013

    Paling suka bagian ini: “Khusus editor buku, ini jenis profesi yang menuntut kecintaan. Anda bisa jadi staf keuangan atau administrasi di semua perusahaan. Tapi editor buku hanya bisa bekerja di penerbit buku, termasuk editor freelance yang bersimbiosis mutualisme dengan penerbit.”

    Langsung mikir, iya juga ya…baru kepikir sekarang. Telat niaaannn! ^_^

    • gravatar Rini Nurul Reply
      April 3rd, 2013

      Itu salah satu yang kusuka, Nad. Senada dengan alinea penutup tulisan Indra di sini🙂

  3. gravatar nunik utami Reply
    April 5th, 2015

    Berarti, ayo lanjutin ngeblog! ^_^ awalnya kupikir ngeblog itu “tempat ngumpet” yang pas. Ternyata, editor in house pun hunting para freelancer dari blog2nya yaa 🙂

    • gravatar Rini Nurul Reply
      April 6th, 2015

      Iya Nik, kebanyakan editor in house tidak sempat berlama-lama ngejesos. Jadi blog alat promosi yang sangat ampuh:)

Leave a Reply

  • (not be published)