Setelah beberapa tahun mengedit rutin untuk suatu penerbit, saya mengecek kesalahan yang sering berulang dari catatan masukan PJ (Penanggung Jawab). Malu juga jika koreksian itu masih banyak, walaupun “kecil-kecil”. Umumnya mengenai kesalahan yang terlewat dikoreksi, terutama pada naskah tebal.

Atas saran seorang rekan editor lepas, yang juga teman saya berdiskusi soal mata dan kacamata, saya mengganti format Track Changes dari balon menjadi inline. Bagi saya, inline memudahkan mengecek kembali (baca ulang hasil editan sebelum disetor ke PJ) dan meminimalkan kesalahan. Terbukti, catatan dari PJ tidak sepanjang dulu. Secara bertahap, kesalahan saya berkurang, bahkan pernah sangat minim sehingga PJ merasa tidak perlu memberi catatan sama sekali.

Suatu ketika, ada masukan dari seorang penerjemah yang naskahnya saya sunting bahwa saya kebablasan memotong/membuang kalimat sehingga tidak enak dibaca. Ibaratnya, mengepel tapi airnya banjir sehingga lantai malah licin dan bikin kepeleset. Dia sarankan saya menggunakan balon kembali. Saya terima masukannya khusus untuk naskah itu saja karena setelah dicek, saya yakin kebablasan itu bukan salah TC, melainkan tangan saya yang mulai tidak sinkron dan keteledoran saya pribadi.

Saya beri gambaran seperti ini, ketika harus mengecek ulang editan yang menggunakan TC balon:

balon

Entah bagi Anda. Saya pribadi pening membaca ke kanan-kiri seperti itu. Terutama jika revisi saat baca ulang ternyata banyak.

Tampilan inline seperti ini:

tc_inline

Tapi masukan rekan penerjemah tadi perlu saya perhatikan agar tidak menambah beban kerja proofreader.  Ada tiga metode:

  • Mengecek ulang dalam bentuk printout

Ini jelas repot dan memakan waktu, walau harus diakui (dan pernah saya buktikan) bahwa pengecekan hasil printout lebih memudahkan daripada digital.

  • Apabila kesalahan berulangnya banyak, atau “khas”, langsung terjemahkan ulang saja per kalimat

Ini saran seorang editor senior, yang bikin saya ciut. Ada benarnya, jika keseluruhan terjemahan bisa dikatakan perlu rombak besar atau kurang enak dibaca. Langsung baca dari buku asli dan terjemahkan ulang jauh lebih efektif. Namun yang lebih sering saya dapatkan, kesalahannya tidak sampai satu kalimat. Katakanlah satu-dua kata, atau separuh kalimat saja. Jadi saya blok kalimatnya, kemudian saya ketik ulang termasuk yang sudah benar. Dengan begitu, kelebihan atau kekurangan karakter akibat kebablasan ngedit dapat dihindari.
Begitu juga ketika mengoreksi “walau pun”, misalnya. Bila ini bertebaran di naskah setebal 500 halaman, saya pilih blok seluruh kata dan ketik “walaupun” daripada hanya membuang spasinya.

  • Menggunakan shortcut keyboard lebih sering

Ini sebenarnya saran suami sejak lama, yang saya abaikan karena saya kira sama repotnya dengan mengedit berat menggunakan laptop ber-mouse internal (yang sering kesenggol itu). Namun saat bahu dan tangan saya sering sakit belakangan ini, saya praktikkan juga beberapa shortcut-nya. Khususnya fungsi Control dan Shift. Lumayan membantu, sekaligus mengurangi kesalahan. Memang agak lambat jadinya, karena saya masih perlu membiasakan diri.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)