Buat saya, blogwalking termasuk mencari inspirasi dan badai otak. Tak mesti dari sesama pekerja lepas, meski idealnya begitu. Sering kali sesuatu yang baru saya pungut dari praktisi bidang lain. Hari ini dari freelancer di mancanegara.

Dari artikel Walt Kania ini, saya terpekur di bagian:

How simple could it be? Tennis players hit tennis balls all day. Bricklayers lay brick all day. Executives . . . well I don’t know. Bank tellers tell all day.

But me, a supposedly professional writer, I can easily do everything but write from dawn till dusk. When I make it my mantra to write all day, everything is simpler. I’m either writing a job. Or writing an email to get a job. Writing a blog post to get an email to write a job. When I write all day, only good things happen. Even if I write dross and dreck. When I don’t write all day, things start to suck, and fast.

Substitute ‘design’, ‘translate’, ‘code’, ‘illustrate’. Same thing. Do what you do. All day. Life will change.

Kemudian tentang pekerja lepas yang merangkap bidang berlainan. Ini petikan, jadi menurut saya, bisa diterapkan hanya secara kasuistis.

Don’t wait for perfection. Don’t wait until you’re ‘qualified.’

Dan yang ini, judulnya saja sudah menohok.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

Leave a Reply

  • (not be published)