Saya lupa persisnya kapan "berkenalan" dengan Dita, demikian panggilan kolega pekerja buku satu ini. Yang terang kami awalnya berkomunikasi di Twitter, sama-sama penggemar trilogi Millennium, kemudian bertukar info mengenai film yang seru, dan banyak lagi. Setelah berbulan-bulan terlupa karena ini dan itu, saya berkesempatan mewawancarai Dita di sela tenggatnya yang cukup mendebarkan. Selamat menyimak, semoga bermanfaat:) 1. Dita mulai sebagai editor, baru kemudian sering mem-proofread. Bagaimana adaptasinya? Apakah ada hal-hal yang terkait naskah namun bukan tanggung jawab proofreader dan hanya merupakan kewenangan editor? Banyak adaptasi karena tanggung jawabnya jauh berbeda. Saya dulu kebagian peran sebagai editor inhouse (6 tahun). Tugas saya meliputi 3 wajib dan 1 sunah, hehehe. Begini. Tiga wajib: Merencanakan, Mendampingi, Mengawasi. Satu sunah: Menulis. Merencanakan dimulai dengan mengusulkan tema, presentasi, lalu membikin jadwal proses produksi. Mendampingi, antara lain mencari naskah, berdiskusi dengan penulis perihal konten buku, hingga mengajari cara “memainkan kata kunci” untuk mencari informasi/gambar di internet, dan memberi masukan kepada layouter untuk ilustrasi dan kover buku. Mengawasi berarti memastikan naskah masuk ke tiap-tiap bagian produksi sesuai jadwal. Menulis? Ya, saya diberi kesempatan untuk menulis mengenai tema yang sudah disepakati. Dengan catatan: waktu yang saya pakai untuk menulis tidak mengganggu keseluruhan proses produksi. Jadi, dulu saya lebih banyak berurusan dengan managing. Tata bahasa, ejaan, efektivitas kalimat, selingkung, dan sebagainya dikoreksi oleh rekan-rekan saya lulusan Sastra Indonesia. Terjemahan saya yang di-proofread Dita Ketika berkenalan dengan proofreading kali pertama, saya sempat kewalahan. Saya tidak mengikuti perkembangan ejaan sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia. Padahal, hal itu mutlak untuk proofreading. Jika dulu mengoreksi garis besar isi naskah, kini saya berkutat dengan detail naskah. Saya belajar simbol-simbol proofreading, membiasakan diri membuka KBBI, mempelajari EYD, dan menghafal selingkung penerbit. Proofreading tidak sekadar mengoreksi typo dan tanda baca, tetapi juga meneliti keseluruhan naskah. Misalnya, kesesuaian daftar isi & catchword, indeks, daftar pustaka, kelengkapan gambar/foto, penggalan kata, konsistensi istilah & nama, paragraf “janda”, penomoran atau urutan bab, menandai kalimat/gambar yang SARA/porno, menandai kalimat tidak logis, bahkan terjemahan yang kurang pas. Hal-hal terkait naskah yang menyangkut kewenangan editor, misalnya mengubah isi naskah, mengubah terjemahan, menghilangkan atau menambahi kalimat. Namun, proofreader boleh mengusulkan dengan cara menandai bagian tersebut untuk dilaporkan kepada editor.   Yang ini juga dikoreksi Dita:) 2. Sebagai lulusan Biologi, apakah Dita merasa lebih mudah mengerjakan buku-buku sains atau sama saja? Kapan terakhir kali Dita menggarap sains? Sama saja karena begitu menggeluti proofreading saya menggarap berbagai tema, fiksi maupun nonfiksi, yang semuanya bersumber pada aturan umum yang sama. Hanya saja, ketika menerima order terkait sains, latar belakang Biologi memudahkan saya memahami isi atau maksud kalimat atau istilah sehingga hemat waktu karena tidak sering wira-wiri mengecek di internet, kamus, ataupun buku-buku sains. Kali terakhir mengerjakan sains sekitar 3 bulan lalu. Jika bisa lebih sering bersinggungan dengan sains untuk anak-anak rasanya asyik juga. Selain untuk menyegarkan ingatan, saya juga masih senang baca ensiklopedi untuk anak-anak. Lagi pula, setidaknya biar agak nyambung dikittt dengan latar belakang saya, hehe. 3. Jika harus memilih antara ngedit, proofread, dan menulis, Dita paling suka yang mana? Pertanyaan sulit ^_^”. Suka semua,…

0%

User Rating: Be the first one !
0

 

Saya lupa persisnya kapan “berkenalan” dengan Dita, demikian panggilan kolega pekerja buku satu ini. Yang terang kami awalnya berkomunikasi di Twitter, sama-sama penggemar trilogi Millennium, kemudian bertukar info mengenai film yang seru, dan banyak lagi.

Setelah berbulan-bulan terlupa karena ini dan itu, saya berkesempatan mewawancarai Dita di sela tenggatnya yang cukup mendebarkan. Selamat menyimak, semoga bermanfaat:)

1. Dita mulai sebagai editor, baru kemudian sering mem-proofread. Bagaimana adaptasinya? Apakah ada hal-hal yang terkait naskah namun bukan tanggung jawab proofreader dan hanya merupakan kewenangan editor?

Banyak adaptasi karena tanggung jawabnya jauh berbeda.

Saya dulu kebagian peran sebagai editor inhouse (6 tahun). Tugas saya meliputi 3 wajib dan 1 sunah, hehehe. Begini. Tiga wajib: Merencanakan, Mendampingi, Mengawasi. Satu sunah: Menulis.

Merencanakan dimulai dengan mengusulkan tema, presentasi, lalu membikin jadwal proses produksi. Mendampingi, antara lain mencari naskah, berdiskusi dengan penulis perihal konten buku, hingga mengajari cara “memainkan kata kunci” untuk mencari informasi/gambar di internet, dan memberi masukan kepada layouter untuk ilustrasi dan kover buku. Mengawasi berarti memastikan naskah masuk ke tiap-tiap bagian produksi sesuai jadwal.

Menulis? Ya, saya diberi kesempatan untuk menulis mengenai tema yang sudah disepakati. Dengan catatan: waktu yang saya pakai untuk menulis tidak mengganggu keseluruhan proses produksi.

Jadi, dulu saya lebih banyak berurusan dengan managing. Tata bahasa, ejaan, efektivitas kalimat, selingkung, dan sebagainya dikoreksi oleh rekan-rekan saya lulusan Sastra Indonesia.

Terjemahan saya yang di-proof Dita

Terjemahan saya yang di-proofread Dita

Ketika berkenalan dengan proofreading kali pertama, saya sempat kewalahan. Saya tidak mengikuti perkembangan ejaan sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia. Padahal, hal itu mutlak untuk proofreading. Jika dulu mengoreksi garis besar isi naskah, kini saya berkutat dengan detail naskah. Saya belajar simbol-simbol proofreading, membiasakan diri membuka KBBI, mempelajari EYD, dan menghafal selingkung penerbit. Proofreading tidak sekadar mengoreksi typo dan tanda baca, tetapi juga meneliti keseluruhan naskah. Misalnya, kesesuaian daftar isi & catchword, indeks, daftar pustaka, kelengkapan gambar/foto, penggalan kata, konsistensi istilah & nama, paragraf “janda”, penomoran atau urutan bab, menandai kalimat/gambar yang SARA/porno, menandai kalimat tidak logis, bahkan terjemahan yang kurang pas.

Hal-hal terkait naskah yang menyangkut kewenangan editor, misalnya mengubah isi naskah, mengubah terjemahan, menghilangkan atau menambahi kalimat. Namun, proofreader boleh mengusulkan dengan cara menandai bagian tersebut untuk dilaporkan kepada editor.

Terjemahan saya ini juga dikoreksi Dita

 

Yang ini juga dikoreksi Dita:)

2. Sebagai lulusan Biologi, apakah Dita merasa lebih mudah mengerjakan buku-buku sains atau sama saja? Kapan terakhir kali Dita menggarap sains?

Sama saja karena begitu menggeluti proofreading saya menggarap berbagai tema, fiksi maupun nonfiksi, yang semuanya bersumber pada aturan umum yang sama. Hanya saja, ketika menerima order terkait sains, latar belakang Biologi memudahkan saya memahami isi atau maksud kalimat atau istilah sehingga hemat waktu karena tidak sering wira-wiri mengecek di internet, kamus, ataupun buku-buku sains.

Kali terakhir mengerjakan sains sekitar 3 bulan lalu. Jika bisa lebih sering bersinggungan dengan sains untuk anak-anak rasanya asyik juga. Selain untuk menyegarkan ingatan, saya juga masih senang baca ensiklopedi untuk anak-anak. Lagi pula, setidaknya biar agak nyambung dikittt dengan latar belakang saya, hehe.

3. Jika harus memilih antara ngedit, proofread, dan menulis, Dita paling suka yang mana?

Pertanyaan sulit ^_^”. Suka semua, bergantung sikon. Menulis itu mengasyikkan, tetapi terkendala waktu #soksibuk #alesan :D. Untuk ngedit dan proofread, seimbang, lah. Beda  pada alokasi waktu juga.

Proofreading memiliki tenggat yang lebih singkat, bisa satu, dua, hingga enam hari. Harus pintar-pintar bagi waktu. Menurut pengalaman mem-proof, target jumlah halaman hari itu sebaiknya terpenuhi hari itu juga, entah jam kerja dimajukan atau dimundurkan. Karena kalau dapat naskah dengan tenggat dua hari, sulit untuk mem-proof hanya satu hari selesai. Apalagi, biasanya naskah sangat kejar tayang bisa bertenggat separuh dari jumlah alokasi hari naskah normal. Misalnya, menurut jumlah halaman normalnya enam hari, bisa menjadi tiga hari saja.

Tenggat waktu ngedit lebih panjang, bisa dua hingga tiga minggu. Untuk ngedit, masih bisa dicicil. Jika target hari itu tidak terpenuhi, halaman-halaman “utang” masih bisa “diselipkan” di hari-hari lain.

Hmmm… tapi bicara tentang bersenang-senang, menulis paling mengasyikkan. Bisa berkhayal, bebas menyalurkan imajinasi, dan menjadi dalang bagi “dunia ciptaanmu”. J

4. Sebagai pekerja buku generalis, apa kiat khusus Dita supaya tidak “jetlag” karena beralih genre? Apakah pekerja buku generalis tidak pernah jemu?

Sebagai proofreader, saya sering tidak sempat “jetlag” karena peralihan genre bisa berlangsung dalam setengah hari. Misalnya, pagi hari menyetor genre remaja, sore hari menerima naskah baru bergenre nonfiksi. Mau tidak mau langsung “tancap” mengingat tenggat proofreading yang singkat.

Sebagai editor, “jetlag” bisa diakali dengan membaca buku yang setipe dengan naskah yang akan digarap, tidak harus membaca full satu buku. Setidaknya untuk membiasakan diri dengan gaya kalimat yang lebih “masuk” untuk genre tersebut. Bisa juga dengan menonton film bertema mirip naskah yang akan dikerjakan.

Pekerja buku generalis juga bisa jemu. Biasanya karena jadwal terlalu padat dan belum sempat refreshing.

5. Adakah kiat khusus supaya awas dan teliti mengoreksi naskah? Mungkin cukup tidur, makan wortel banyak-banyak, atau semacam itu?:))

Nah, itu salah satunya sudah disebutkan. Cukup tidur. Dalam kondisi biasa saja kurang tidur menyebabkan bego dan lemot. Itu kalau saya, hehe.

Kiat teknis yang umum disarankan, misalnya

  • Menurunkan kecepatan membaca
  • Memperbesar pandangan (zoom out)
  • Mengeja dengan jari (lebih pas untuk naskah print out)
  • Membaca dengan bersuara
  • Memosisikan membaca teks baris terbawah pada layar

Kiat versi saya

  • Sesuaikan jumlah halaman dan alokasi waktu. Jika target jumlah halaman per hari sudah ketemu, kita bisa bekerja dengan tenang. Estimasi waktu yang keliru bikin kerja jadi terburu-buru (bisa selesai lebih awal, tapi tidak teliti) atau malah terlalu santai (lalu pontang-panting menjelang tenggat).
  • Begitu mulai bekerja, awali dengan niat untuk tidak mengakses media sosial/chatting/grup WhatsApp/sejenisnya. Tetapkan aktivitas tersebut sebagai refreshing setelah target sekian halaman terpenuhi atau setelah bekerja selama sekian jam. Bagi saya, hal-hal tersebut banyak mengurangi fokus bekerja dan tak terasa memakan waktu.
  • Sering kali mem-proof ditekankan pada masalah teknis, jangan terhanyut pada cerita atau alur. Namun menurut pengalaman, ada baiknya “melek” cerita. Kadang penulis lupa atau tidak sengaja salah tulis subjek/nama. Misalnya, seharusnya A yang berbicara kepada B. Tapi, di naskah tertulis C yang berbicara kepada B. Contoh lain, di beberapa halaman sebelumnya disebutkan bahwa M mengantar N ke bandara. N akan berangkat ke Jogja. Sampai di Jogja, tertulis M dan N mencari taksi untuk mengantar mereka ke hotel. Nah, sebelumnya telah disebutkan bahwa M hanya mengantar ke bandara. Kadang ditemukan kesalahan semacam itu.
  • Jika ingin ditemani musik, sewaktu mem-proof saya memilih musik instrumen yang lebih bersahabat dengan konsentrasi. Keberadaan vokal membuat mulut gatal ikut bernyanyi, lalu otak berusaha mengingat-ingat lirik, yang berimbas pada buyarnya fokus (kadang berlanjut browsing lirik lagu, tergoda buka YouTube J)). Begitu balik ke naskah, mata memprotes sambil mencari-cari, “Apa tadi ya, sampai mana?” Jadi baca ulang kalimat, deh. Waktu yang diperlukan jadi lebih lama. Hihihi 😀

6. Apa yang Dita lakukan untuk refreshing namun tidak berkaitan dengan buku?

Jalan-jalan, bertemu teman, kulineran, nge-game, nonton di bioskop, hingga bengong sendirian bermodalkan teh atau kopi hangat di teras. Oya, mengerjakan pekerjaan rumah sederhana juga bisa buat refreshing, lho. J

7. Terakhir, sebagai freelancer (kalau tidak salah sudah dua tahun ya?), paling lama Dita pernah libur berapa hari?

Sekitar seminggu. Pernah karena saya minta libur. Pernah juga karena memang sedang sepi order.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)