Membaca hasil suntingan sendiri sering membuat geli bercampur tak enak hati. Seperti kata seorang teman, rasa tak puas pasti selalu ada. Semoga dengan mempelajari dan membolak-balik lagi, keteledoran serupa dapat dihindari. Minimal dikurangi.

Yang ini dari suntingan saya 3 tahun lalu.

Contoh 1

Tapi dengan banyaknya perkawinan yang sayangnya berakhir dengan perceraian, orang Amerika melakukan sesuatu yang kupikir sangat bijaksana, dan aku yakin kamu juga akan beranggapan begitu.

Seharusnya:

Tapi karena banyak perkawinan yang sayangnya berakhir dengan perceraian, orang Amerika melakukan sesuatu yang kupikir sangat bijaksana, dan aku yakin kamu juga setuju.

Contoh 2

Kalimatnya persis setelah yang di atas.

Aku menunggu untuk mendengarkan apa yang mestinya kuanggap bijaksana itu.

Seharusnya

Aku menunggu untuk mendengarkan apa yang pasti kuanggap bijaksana itu.

 

Contoh 3

Tanganku sudah lelah melindungi mata sehingga aku membiarkannya jatuh di pangkuan.

Seharusnya

Tanganku sudah lelah melindungi mata sehingga kubiarkan jatuh di pangkuan.

 

Contoh 4

Aku telah bekerja selama lima belas tahun untuk membuat diriku mapan

Seharusnya

Aku telah bekerja selama lima belas tahun supaya menjadi mapan

 

Contoh 5

Aku yakin wajahku pasti langsung memerah karena perasaan malu dan bersalah yang sangat besar.

Seharusnya

Aku yakin Wajahku pasti langsung memerah karena perasaan malu dan bersalah yang sangat besar.

 

Contoh 6

Ini terlalu memaksa dan mengontrol, tapi tidak ada yang bisa kulakukan di saat aku sudah tidak punya banyak waktu lagi.

Seharusnya

Ini terlalu memaksa dan mengontrol, tapi tidak ada yang bisa kulakukan karena waktuku tak banyak lagi.

Daftarnya semakin panjang, padahal ini baru dari satu bab belaka. Bisa saja saya berdalih dengan “memelintir” pernyataan seorang editor senior bahwa toh karakternya dari Timur Tengah yang memang terkenal dengan plot pelan dan kalimat cenderung bertele-tele. Tapi manusia memang paling pandai mengemukakan alasan:p.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)