Kemarin saya membaca Panganteur Editor (Kata Pengantar Editor) di Kamus Basa Sunda karya R.A. Danadibrata. Selanjutnya disebut Pak Dana.

Dalam bahasa Sunda yang apik dan runut, Ajip Rosidi sang editor memperlihatkan ketajaman dan kecermatannya. Tetap menarik dan perlu dibaca, utamanya mengenai kisah perjuangan bersama penulis dan editor menerbitkan kamus ini. Terkhusus penulis.

Singkatnya, Pak Dana menyusun kamus ini sejak tahun 1930. Penataan ulangnya memakan waktu dan membutuhkan tenaga satu tim kecil lantaran susunannya belum sebagaimana kamus yang umum. Ketika Ajip Rosidi tidak bekerja di penerbit yang menerima naskah itu dan bertemu sang penulis lagi, otomatis Pak Dana menanyakan. Beliau mengharapkan dapat naik haji dengan honor kamus tersebut.

Diupayakanlah sedemikian rupa hingga dengan uang 2 juta (kala itu tahun 1980-an), Pak Dana dan istri dapat menunaikan ibadah haji.

Lama berselang Ajip Rosidi menetap dan bekerja di Jepang, sesekali teringat naskah kamus tadi. Hingga Pak Dana berpulang, kamus itu belum terbit juga. Bahkan hak ciptanya yang 2 juta rupiah tadi dibeli lagi. Naskah difotokopi oleh para ahli waris dan dibagikan pada lembaga-lembaga yang kiranya membutuhkan.

Setelah gonta-ganti penerbit dan banyaknya faktor di luar dugaan, kamus tersebut terbit tahun 2006. Kini sudah cetakan kedua.

Semoga jadi amal baik dan berkah untuk almarhum Pak Dana. Selain manfaat kamusnya, saya jadi termenung dan malu hati karena sering kurang sabar.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)