Penulis: Sophie Kinsella

Alih bahasa: Siska Yuanita

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2012

Tebal: 576 halaman

Desain sampul: eMTe

 

Tidak semua hal bisa dibagi. Tidak semua orang pula mampu berbagi. Namun bila keadaan memaksa, apa boleh buat? Pasangan sekalipun enggan berbagi ponsel, salah satu ruang privasi yang cukup “keramat”. Gara-gara kecopetan di saat genting dan tidak berpikir panjang kala mendapati ponsel lain di tempat sampah, Poppy Wyatt harus “bekerja sama” dengan pria asing yang mengklaim alat komunikasi tersebut. Seorang lelaki bernama Sam Roxton, eksekutif suatu perusahaan yang ditinggalkan mendadak oleh asistennya. Karena perlu mencari cincin pertunangan yang lenyap, Poppy bernegosiasi untuk meminjam ponsel kantor Sam itu lalu mem-forward semua pesan dan e-mail yang masuk kepadanya.

Sejujurnya, bagian awal novel ini, terkhusus menyangkut Poppy dan rencana pernikahannya dengan Magnus relatif melelahkan. Bukan karena penuturan Kinsella tersendat, justru begitu hidupnya sehingga saya ikut “terkuras” dengan urusan wedding planner yang malah menambah pusing, kecanggungan Poppy di hadapan calon mertua dan adik ipar yang gemilang, pernak-pernik yang belum menghapus ingatan dari tema sejenis (hanya saja di sini menjadi subplot) karya Kinsella lain, Shopaholic Ties The Knot. Stres calon pengantin yang bertimbun, sampai upaya diet agar gaunnya kelak tetap muat ibarat mudik Lebaran dan kemacetan membludak yang rutin menjadi perkara tanpa pernah menemukan penyelesaian.

Tetapi ketika Poppy mulai meneropong profil Sam melalui urusan komunikasinya, rasa penasaran tak lagi terbendung. Muncullah sinar talenta Kinsella yang dulu: menggulirkan suasana humor sehingga apa yang biasa dan sudah menjadi ciri khas buku-bukunya (wanita kikuk dan tidak percaya diri, satu kekasih, satu kenalan pria) tetap spesial untuk diikuti dari bab ke bab. Ihwal kekakuan Sam membalas pesan-pesan, mulai dari yang bersifat personal sampai cara menjawabnya yang serbapendek, misalnya. Saya tak urung geli dan, tanpa bermaksud menyamaratakan dari segi gender, mengingat kebiasaan suami. Satu SMS panjang yang mungkin diketik susah payah oleh pengirim yang memilah kata-kata hanya dibalas “Oke, sama-sama.” Itu pun baru esok paginya.

Dalih Sam adalah prioritas. Benturan kebiasaan itu kian tidak biasa ketika diolah menjadi pengungkapan karakter.

“Semua e-mailmu seperti jeritan keras. ‘Cipika, cipiki, peluk, peluk, tolong sukai aku, jangan benci aku!”

“Apa?” Rasanya seolah-olah dia baru saja menampar wajahku. “Itu… omong kosong.”

“Coba lihat ini. ‘Hai, Sue! Bolehkah aku mengubah janji konsultasi tatanan rambut pernikahanku agak lebih sore, katakanlah pukul lima? Aku punya janji dengan Louis. Tolong beritahu, ya. Kalau tidak bisa, tidak apa-apa kok. Terima kasih banyak! Aku sangat menghargainya! Semoga semua baik-baik saja. Love, Poppy, cup cup cup cup cup cup.’

(hal. 279)

Satu kata: drama.

Chicklit ini mengajari saya “metode konfrontasi”, demikian sebutan Sam. Banyak orang ingin terkesan “selalu damai”, menghindari konflik, tapi ada kalanya hal-hal tertentu perlu dihadapi dan diluruskan. Selain politik kantor yang menggelegak, sejumlah bab mengandung pelajaran mengenai komunikasi efektif, utamanya dalam area bisnis dan pemilihan bahasa resmi. Demikian pula masalah privasi dan kemutlakan menghargainya. Seperti kata Sam,

“Aku hanya capek harus terus memberitahu orang.”

(hal. 426)

Segi lain yang menyentuh? Saya pernah dengar ada yang mengatakan, “Zaman sekarang siapa yang masih pakai e-mail atau SMS?” Karakter-karakter cerita ini masih. Berbalas SMS menjadi adegan “seru”, mengasyikkan, hangat dengan sentuhan pribadi masing-masing. Dengan cerdik pula, Kinsella membuktikan bahwa pemakaian ponsel dan deretan pesan bisa menguak banyak hal, sekaligus membantu memecahkan kasus karena sifat tertulis dan terekamnya.

Pesan tak kalah jelas: jangan mudah menjatuhkan penilaian, memvonis, atau menarik kesimpulan. Dugaan bisa salah, dan akibatnya bisa fatal.

Terjemahannya ceria, dinamis, segar, dan menjiwai cerita. Ambil contoh:

“Semua yang dia miliki adalah hasil kerja kerasnya. Tak ada seruas pun urat sombong di dalam dirinya. Tidak seperti beberapa bangsat pongah yang berusaha menyingkirkan dia.”

(hal. 287)

Saya juga menemukan istilah “bala kurawa”, “semprul”, “kampret”, dan beberapa kata lain yang begitu pas digunakan. Sungguh tidak rugi membeli dan membaca karya Kinsella satu ini.

Skor: 4,5/5

 

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)