iwok

Profesi Kang Iwok sebagai penulis buku anak dan komedi, yang belakangan merambah buku remaja dan roman, banyak orang sudah tahu. Mengenai proses kreatifnya menulis dan kegiatan terkait itu, tinggal baca blognya saja. Saya pernah menyimak beberapa wawancara Kang Iwok, termasuk di radio provinsi tetangga lewat telepon dan jenis pertanyaannya. Masih seputar cara menjadi penulis, cara mencari ilham, dan seterusnya.

Saya ingin mewawancarai beliau dari celah lain, yaitu pengalaman dan pengetahuan di bidang Sumberdaya Manusia yang diperoleh di kantor dikaitkan dengan kepenulisan dan dunia kerja lepas. Memikirkan jenis pertanyaannya lumayan lama, seperti menunggu wangsit:)) Alhamdulillah di sela kesibukan, Kang Iwok berkenan menjawab sepanjang-lebar mungkin.

  1. Sering ada slogan “statusmu harimaumu”, sebaliknya juga ada “akunku terserah aku”. Terkait fenomena media sosial yang makin menggejala, menurut Kang Iwok sebaiknya bagaimana bersikap proporsional di medsos agar tidak “membahayakan” karier?

Kalau buat saya sih, medsos menjadi sarana untuk berinteraksi dengan teman, saudara, dan juga relasi. Sebagian besar postingan saya berupa promosi karya-karya saya (selain kegiatan saya sehari-hari). Sebagai freelancer yang bergiat di dunia perbukuan, medsos menjadi perangkat agar setiap kontak mengenal saya lewat karya-karya, syukur-syukur mereka mau kemudian tertarik untuk membelinya. Hehehe. Medsos benar-benar saya manfaatkan untuk promosi, karena bentuk promosi seperti itulah yang saya bisa untuk karya-karya saya.

 

Sedapat mungkin saya menghindari ‘mengeluh atau melampiaskan emosi’ di medsos. Bukan karena tidak punya masalah (siapa sih yang tidak pernah punya masalah pribadi atau pekerjaan?), tetapi karena saya pikir tidak perlu sampai semua orang harus tahu. Mending kalau kemudian ada solusi, gimana kalau malah menjadi semakin panas dan berbelit? Kalau memang butuh masukan atau curhat, biasanya saya akan menghubungi teman-teman yang sekiranya bisa membantu lewat japri (jalur pribadi). Itu lebih bermanfaat. Inginnya sih, saya bisa menularkan hal-hal positif di setiap postingan. Aamiin … mudah-mudahan saya bisa melaksanakan hal tersebut.

 

Saya tidak mempermasalahkan bagaimana setiap orang menggunakan akun medsosnya, asal –tentunya—harus siap dengan segala risikonya. Semakin bijak tentunya akan semakin baik, karena sudah semestinya media sosial digunakan untuk hal-hal yang bersifat positif, bukan sebaliknya.

 

  1. Benar nggak bahwa kebanyakan perekrut sekarang ini melihat-lihat dan membaca akun medsos calon rekan/freelancer-nya untuk mengetahui perilaku dan etos kerja?

 

Sudah lama kantor saya tidak melakukan perekrutan karyawan baru. Dan, dulu, fenomena medsos juga belum setinggi sekarang. Hanya saja, sekarang ini, sesekali saya mengecek juga akun-akun facebook teman sekantor. Karena tidak bisa mengawasi satu per satu setiap saat, terkadang saya juga butuh masukan—selain dari performa yang sudah ditunjukkan—kira-kira karyawan mana yang cocok apabila dibutuhkan rotasi posisi. Seseorang yang sering ‘ngomel-ngomel, ngeluh, atau marah-marah’ di statusnya, tentu tidak cocok ditempatkan di layanan pelanggan. Ditakutkan, hal itu akan memengaruhi proses bekerja. Sedikit banyak, akun medsos karyawan membantu membaca karakter mereka, meski proses interview dan konseling lebih diutamakan dalam pengambilan keputusan.

 

  1. Kang Iwok memulai sejak sebelum ada media sosial. Apa perbedaan signifikan dunia freelance dulu dan sekarang? Selain informasi yang membanjir tentunya. Lebih mudahkah mendapat tawaran menulis/kegiatan lainnya sekarang?

 

Ya, terasa sekali perbedaannya. Dulu, seorang freelancer harus lebih aktif mencari informasi peluang kerja. Sebagai penulis lepas, dulu, jarang sekali ada informasi-informasi proyek penulisan. Saya harus bisa bisa memacu semangat sendiri untuk menghasilkan karya, dan ‘nekat’ mengirimkan naskah ke penerbit-penerbit yang diinginkan hanya berbekal sudah membaca buku-buku terbitan mereka. Sekarang ini, informasi tentang penulisan banyak bertebaran. Mulai dari informasi peluang penerimaan naskah di sebuah penerbit, lomba-lomba, sampai proyek-proyek penulisan di komunitas. Begitu pula sharing ilmu penulisan dan tips-tips menarik (bahkan pelatihan gratis) dari para penulis dan penerbit. Freelancer tentu tinggal meraup informasi tersebut dengan mudah sebagai tambahan ilmu dan wawasan kepenulisan. Kemudahan informasi ini tentu saja harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

 

Medsos juga sangat berdampak positif karena saya bisa menjalin komunikasi lebih baik dengan relasi (penerbit, editor, ilustrator, penulis lain, dan tentunya pembaca). Peluang kerja sama terbuka luas, karena terkadang banyak tawaran masuk setelah mereka melihat status-status saya tentang buku baru, atau mereka melihat cover buku-buku yang saya posting. Kalau dulu penulis yang mengejar penerbit (IMHO), sekarang saya lihat sudah seimbang, karena penerbit pun banyak yang mencari penulis untuk menawarkan kerja sama. Tinggal dipilah saja tawaran mana yang cocok dan bisa dieksekusi dengan baik. Tentu kita harus menunjukkan karya dan prestasi terlebih dahulu.

 

  1. Kalau seseorang baru lulus kuliah, apakah sebaiknya dia kerja kantoran dulu walau nggak lama atau langsung jadi freelancer saja nggak apa-apa? (Soalnya menurut hemat saya, sebaiknya pernah ngantor, supaya terasah kerja timnya).

 

Dua-duanya tidak masalah sebenarnya, selama calon freelancer sudah mengetahui dengan baik apa yang harus dilakukan dengan profesinya. Sekarang ini sudah banyak informasi tentang profesi freelancer, suka dan dukanya. Banyak freelancer yang sudah berbagi pengalamannya melalui blog atau website tertentu (googling saja). Seorang calon freelancer harus mengetahui itu sebaik-baiknya sebelum memutuskan untuk menjadi freelancer seutuhnya setelah lulus kuliah nanti.

 

Tetapi, memiliki wawasan lain tentang dunia kerja kantoran tentu akan menjadi pembanding yang lebih baik. Seorang calon freelancer dapat merasakan perbedaan, kelebihan dan kekurangan kedua posisi ini secara nyata. Bukan tidak mungkin saat ia mencoba dunia kantoran ternyata malah lebih cocok berada di sana? Tidak ada yang tahu, kan?

 

  1. Freelancer yang sudah dikenal/berpengalaman relatif lebih mudah mendapat tawaran kerja sama. Apakah itu mutlak benar? Adakah kiat promosi yang santun agar tidak terkesan “menodong” orderan?

 

Tidak selalu yang berpengalaman itu lebih baik, karena pada akhirnya hasil kerja dan prosesnya itu yang lebih punya nilai. Pemberi order akan menilai dari hasil karya dan disiplin. Freelancer yang bisa menyerahkan pekerjaannya tepat waktu dengan hasil maksimal tentu akan lebih disukai, siapa pun ia, terkenal atau tidak.

 

Seorang freelancer berpengalaman tentu sudah mengenal dunia ini dengan baik, bagaimana ia harus memperlakukan pekerjaannya agar dapat diterima oleh klien. Dan ia sudah bekerja keras untuk menunjukkan potensinya selama ini. Jadi, kalau seorang freelancer berpengalaman sering kebanjiran order, sepertinya tidak perlu dijadikan kecemburuan, justru harus dijadikan contoh penyemangat. Siapa pun bisa sukses di profesi masing-masing karena prestasi dan kerja kerasnya.

 

Kiat promosi untuk mendapatkan orderan? Hmm … cukup dengan menunjukkan hasil karya dan prestasi saja kayaknya ya. Insya Allah rezeki akan mengikuti setelah itu.

  1. Menurut Kang Iwok, masih perlukah freelancer belajar dengan training, ikut lomba, dan semacamnya?

 

Belajar itu tidak berbatas waktu. Berpuas diri dengan apa yang kita bisa hanya akan mematikan kreativitas. Semakin banyak kita belajar, (biasanya) semakin menyadarkan banyak kekurangan yang kita miliki. Apa pun medianya; training atau lomba-lomba penulisan, sangat disarankan untuk diikuti, sekaligus menjajal kemampuan berkompetisi juga. Biasanya, melalui kompetisi kita dipacu untuk memberikan yang terbaik. Saya masih sering ikut lomba-lomba, dan masih sering kalah. Itu artinya, saingan saya di luar sana banyak sekali, dan mereka hebat-hebat. Kalau tidak mau belajar, saya harus siap untuk jauh tertinggal.

 

  1. Bagaimana pengaruh kepenulisan terhadap pekerjaan Kang Iwok sehari-hari di kantor? Mungkin ada tugas yang jadi lebih mulus… seperti menulis laporan, berkomunikasi lisan, dan sebagainya?

 

Bos saya baru tahu saya penulis belakangan ini. Dulu, setiap kali mau mengonsep surat-surat atau dokumen lainnya, selalu harus ngasih draft dulu untuk diperiksa. Setelah tahu saya penulis, beliau akhirnya malah bilang: “Ah, sudahlah, kamu pasti lebih mahir menyusun kata dibanding saya.”, lalu tanpa ragu membubuhkan tanda tangan. Hehehe.

Pengaruhnya memang cukup besar. Untuk setiap penyusunan laporan (dari unit apa pun) harus melalui saya sebagai verifikator. Begitu pula kalau ada penyusunan draft-draft kerja sama. Tanggung jawab lebih sebenarnya, tapi saya anggap ini sebagai apresiasi dan penghargaan pimpinan atas kemampuan saya. Disyukuri saja. 😀 Selain itu, secara verbal pun mungkin kemampuan saya bertambah, karena kebiasaan merangkai kalimat untuk menulis cerita. Alhamdulillah … menunjang kemampuan juga dalam berkomunikasi dengan karyawan maupun dengan pihak eksternal.

 

  1. Apa buku terakhir yang Kang Iwok baca?

Masih membaca The Cuckoo’s Calling-nya Robert Galbraith

 

Ketika mengonsep wawancara ini, saya sodori keponakan buku terbaru Kang Iwok, Laguna (sekarang sudah ada lagi, Dandelion). Lantaran keponakan ini baru lulus kuliah, saya berharap dia belajar tentang dunia kerja dari Laguna. Memang benar, meski saya lumayan repot ditanya begini-begitu tentang hierarki kantoran dan aneka tanggung jawab sembari mengejar tenggat di depan laptop. Tapi namanya anak muda, sembari mengatakan, “Laguna apik,” dia berkomentar seusai baca, “Kapan ya aku ketemu cowok bule ganteng?”


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)