Di sini saya berbicara sebagai penyunting lepas. Konteksnya bisa jadi sama dengan kondisi in house.

Menurut saya, ini adalah aturan penting yang tidak boleh dilupakan ketika menyunting dan mengoreksi. Masih banyak yang menganggap bahwa jika menyerahkan naskah tanpa coretan (atau coretannya minim) berarti editor tersebut tidak bekerja. Bila pemikiran itu tidak dihapus, sangat mungkin penyunting malah mengecewakan penerjemah seperti pengalaman Lulu di sana.

Memang, pekerjaan yang biasanya dilimpahkan kepada penyunting lepas adalah naskah yang ‘butuh penanganan khusus’. Selain itu, penerjemah senior pun tidak luput dari kekeliruan. Akan tetapi ini tidak berarti kita boleh sewenang-wenang atau menanamkan prinsip (yang bisa disebut prasangka), “Pasti deh ada yang ngawur.” Kendati relatif jarang, saya sendiri pernah menemukan karya terjemahan yang tidak tergolong mulus tetapi tidak juga sampai membuat mata berair karena mencorengi setiap kalimat dalam paragrafnya. Demikian pula dalam kasus buku lokal.

Dalam wilayah buku lokal, salah satu kiatnya adalah mengenali gaya penulis bersangkutan (jika ia sudah pernah menerbitkan buku). Segemas apa pun, walau saya tidak biasa dengan kalimat yang berbunga-bunga, saya harus menghormati jika itu ciri khas pengarang. Keleluasaan lebih biasanya digenggam penulis bila membuat karya fiksi. Sependek pengetahuan saya, ada pengarang tertentu yang memang menganut pakem berlawanan dengan ejaan KBBI, misal tetap menggunakan ‘sekedar’ alih-alih ‘sekadar’. Selama ia tidak menulis ‘disitu’ atau ‘ku perhatikan’, sah-sah saja.

Bagaimana dengan buku terjemahan? Kembali, penyunting wajib berpedoman kepada naskah aslinya. Di situlah tergambar jelas mengapa penyunting karya terjemahan hendaknya seorang yang paham menerjemahkan atau sudah pernah menerjemahkan. Penyunting yang demikian bisa bertoleransi kalau ada typo yang tidak berlebihan alias masih wajar, contohnya, atau tingkat kemelesetan yang tidak tergolong ‘kronis’. Ada kalanya bab-bab awal terjemahan masih ‘terbata’ karena penerjemah meraba-raba atau belum menghayati cerita, apalagi jika plotnya lambat. Ada juga yang menurun di tengah, kemungkinan karena jenuh. Intinya, tidak ada yang sempurna dan selalu ada permakluman selama tidak melampaui batas.

Catatan koreksi adalah jembatan yang dapat mengelakkan kesalahkaprahan dan ketersinggungan, khususnya dalam ruang lingkup penerjemahan. Memang kemungkinan berdiskusi cukup kecil, mengingat kesibukan masing-masing pihak. Penerjemah berhak memperoleh masukan langsung berikut argumen yang mendasarinya.

Terkait pengalaman Lulu yang tidak enak di atas, saya sendiri pernah merasakan yang kurang-lebih sama. Ketika buku terbit, saya tidak mengenali hasil terjemahan nyaris sepatah kata pun. Seolah-olah buku itu bukan diterjemahkan oleh saya, melainkan orang lain.

Semoga hal ini tidak terulang pada mereka yang mengalaminya, tidak pula terjadi kepada yang belum pernah, dan menjadi pengingat bagi saya pribadi selaku penyunting.

Sebagai penutup, saya menyitir pernyataan Ibu Daisy Mansoor Subakti dalam buku Menatah Makna:

Jadi, marilah kita jalankan tugas masing-masing dengan semangat saling menghormati dan menghargai, bukan dengan keinginan untuk menunjukkan siapa yang paling besar punya kuasa. (hal. 70)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

NEXT ARTICLE

8 Responses to “ Jangan Mencari-cari Kesalahan Sewaktu Menyunting ”

  1. gravatar Melody Violine Reply
    May 26th, 2011

    agak gawat kalau sebuah serial disunting oleh orang yang berbeda2, sebagai penerjemah, kita perlu memeriksa hasil suntingannya kembali apakah istilah2nya sudah seragam, takut malah diganti…

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      May 26th, 2011

      Sebaliknya, menyunting karya terjemahan yang berbeda-beda juga mendebarkan, Mel:) Jadi terilhami untuk tulisan berikutnya.

  2. gravatar Uci Reply
    May 26th, 2011

    “Memang, pekerjaan yang biasanya dilimpahkan kepada penyunting lepas adalah naskah yang ‘butuh penanganan khusus’”

    Oh iya kah?

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      May 26th, 2011

      Pengalamanku sih begitu, walaupun tidak semua, dan ada editor yang mengonfirmasikan demikian:)

  3. gravatar selviya Reply
    May 27th, 2011

    Langsung dicatat dalam memori 🙂 Makasih Mbak Rini, sangat suka artikel ini 😀

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      May 27th, 2011

      Terima kasih kembali, Selvy:)

  4. gravatar Bang Aswi Reply
    May 30th, 2011

    Manggut-manggut dan belajar dulu dari halaman ini … ^_^

    • gravatar Rini Nurul Reply
      March 22nd, 2013

      Terima kasih sudah membaca, Bang Aswi:)

Leave a Reply

  • (not be published)