Kemarin siang, saya dan suami mengobrol tentang evaluasi pribadi cara kerja saya. Tepatnya cara kerja masing-masing, sih. Saya gembira merasakan perubahan kecil, misalnya tidak terlalu panik seperti dulu. Itu hasil mengamati suami yang tidak pernah kelabakan ketika diserbu tenggat kemudian tumpang tindih dengan urusan lain.

Saya bilang, “Tapi saya belum bisa kayak kamu, sama sekali nggak online pas kerja. Memang ada manfaatnya sih, terutama kalo nggak penting-penting amat atau kerjanya nggak butuh googling. Kelarnya jauuh lebih cepat, kalau cuma disambi chatting.”

Suami berkomentar, “Lho, kan sama saja saya juga ada distraksi lain. Kamu online, saya main game. Nggak usah distop total gitu. Memang kalo nggak diseling, jadi lebih cepat. Tapi coba baca lagi deh hasilnya, “ruh”-nya nggak ada.”

Memang maksud suami, selama tidak berlebihan. Ternyata jeda sejenak-sejenak itu memiliki istilah khusus: psychological distance alias jarak psikologis. Supaya tidak jenuh. Saya temukan di artikel ini.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)