gramediaonline.com

Penulis: Alberthiene Endah

Editor: Fachmy Casofa

Penerbit: Metagraf (imprint Tiga Serangkai)

Tebal: xii + 276 halaman

Harga: Rp 77.000,00

Bahwa buku ini terbit tidak dalam rangka kampanye, juga dirilis setelah beliau resmi menjadi gubernur, saya malah baru sadar belakangan ketika ditegaskan di bagian menjelang akhir. Memang saya jarang membaca memoar seorang pemimpin terkait dunia politik, namun ada ketertarikan besar yang menggiring ketika bermunculan berita, pro dan kontra, serta obrolan-obrolan menyertainya. Karena sosok satu ini pula, saya kadang menyalakan televisi sambil membahas berita dan menyimak uraiannya.

Satu kata saja: adem. Kembali lewat penampilan di media dan buku yang tampak jelas ditulis dari hati oleh Alberthiene Endah ini, saya meyakini bahwa di balik setiap sosok yang teduh, lembut, dan sabar menjawab aneka pertanyaan (kadang bikin tertawa juga) tersimpan prinsip keras dan hati yang teruji ketabahannya. Saya beri kesempatan Mama lebih dulu membaca buku ini, karena beliau salah satu pengagum berat Jokowi.

Memang sayang membaca buku ini cepat-cepat. Tiap kalimatnya tidak “sia-sia” dan layak disimak. Sedari awal sang gubernur menyatakan bahwa langkahnya tidak istimewa, reaksi publik (utamanya media dan pemberitaan) berlebihan belaka. Sesungguhnya yang ia lakukan semata tugas semestinya. Saya sepaham dengan beliau akan tidak enaknya kata “pencitraan”.

Beliau jujur mengenai berat hatinya keluarga yang merasa sudah cukup Jokowi menjadi pengusaha, tak perlu melangkah ke dunia politik atau hijrah ke ibukota segala. Juga terkesiapnya sang istri ketika harus menjalani hidup dikungkung hutan meski sudah menyiapkan mental. Ilmu mensyukuri kehidupan, berwirausaha, bisa dipetik dari buku ini selain kepemimpinan dan optimisme.

Bagian favorit saya ketika Jokowi melakukan pendekatan yang amat sabar dengan mengajak bicara PKL. Sedangkan Mama terngiang terus ihwal putra-putrinya yang disekolahkan di Singapura agar mandiri.

Ini buku yang spesial untuk belajar hidup, ditambah lagi tak ada sudut sedikit pun yang menjelek-jelekkan orang lain (baca: lawan politik dan sebagainya). Memoar ini pun bukti bahwa memberi inspirasi bisa diiringi senyum, pikiran positif, tidak melulu bersedih-sedih dan mengenang masa lalu yang sulit dengan “dendam”.

Tidak perlu merasa miskin ketika kita berada dalam kondisi berkekurangan. Merasa miskin hanya pantas disematkan pada orang-orang yang putus harapan dan tak memiliki semangat apa-apa lagi untuk mengubah nasib.

(hal. 37)

Simak pula cerita editornya yang sangat menarik di sini.

Skor: 4,5/5

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)