stabilo

Proses perjalanan saya menekuni profesi ini bisa dibaca di buku Business Moms (Triani Retno, terbitan Gramedia Pustaka Utama). Sekarang saya hendak memberikan gambaran secara garis besar ihwal kalkulasi modal dari segi bisnis. Sekadar catatan, saya tidak mengenyam pendidikan formal penerjemah seperti ujian bersertifikasi atau jenjang S2 khusus penerjemahan dan semacamnya. ‘Hanya’ kuliah Sastra Prancis jurusan linguistik dan saya bersyukur mendapat bekal berupa mata kuliah terjemahan beserta kajian-kajian teks.

Perangkat wajib

Komputer. Yang saya pakai bukan keluaran terbaru, melainkan notebook yang mencukupi sesuai kebutuhan. Rp5.850.000,- Dibeli pada tahun ke-7 jadi freelancer.

Modem dan internet berlangganan. Rp475.000,- dan bulanan Rp99.000,- Beli pada tahun ke-6.

Ponsel, meski sekarang sudah jadi barang jamak dengan naik daunnya gadget. Yang saya pakai ponsel 3 G tidak sampai 700 ribu rupiah.

Listrik, sudah termasuk pengeluaran rutin rumah tangga.

PC untuk layar tambahan saat mengerjakan softcopy. Rp2.000.000,-

Cool pad Rp30.000,-

Printer 3 in 1 (scanner dan fotokopi) Rp850.000,- Beli kira-kira pada tahun ke-10.

KBBI IV sekitar Rp400.000,- Beli pada tahun kelima.

Tesaurus Rp175.000,-

Panduan EYD Rp12.000,-

HD eksternal Rp500.000,- Kira-kira dibeli pada tahun kesepuluh.

Kursi kerja ergonomis Rp250.000,- Belinya sekitar tahun kesepuluh juga.

Catatan:

Banyak perangkat yang mengalami pergantian, seperti modem dan koneksi internet selain komputer. Saya mulai dari PC dan printer LX pemberian orangtua. Membeli peralatan itu pun tidak sekaligus.

Belum termasuk biaya pemeliharaan yang relatif tidak menentu (bisa disebut biaya tak terduga), semisal ketika saya membeli HD baru karena HD jebol akibat sering mati listrik.

Lain-lain

Book holder buatan tangan. Kemudian ditambah bookstand yang dibeli di toko buku, harganya tak sampai Rp100.000,00

Desain website dan hosting. Yang ini biayanya rahasia:)

Yang sulit dihitung adalah kamus selain KBBI dan Tesaurus di atas (setiap penerjemah memiliki prioritas berbeda). Saya kerap berburu buku-buku penunjang kebahasaan beserta kamus yang relevan dengan bidang tertentu, misalnya kamus fisika, kamus istilah teknik, kamus kedokteran, dan kamus idiom. Demikian pula novel atau buku nonfiksi yang diperlukan untuk riset.

Karena pada dasarnya saya hobi membaca, buku-buku tersebut tidak terasa membengkakkan pengeluaran atau ‘memberatkan’.

Ihwal cukup atau tidaknya penghasilan penerjemah buku (yang hanya menerjemahkan buku seperti saya) sangat relatif. Bagi saya pribadi dan gaya hidup yang saya terapkan, tergolong memadai.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Kalkulasi Modal Menjadi Penerjemah Buku ”

  1. gravatar lulu Reply
    October 1st, 2011

    Thanks infonya, rin. Ada satu benda lagi yang penting sebagai modal bagi penerjemah: kursi kerja. Hehe berdasarkan pengalaman sendiri sih. Gapapa, beli yang agak mahal, tapi kuat dan baik buat punggung.

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      October 1st, 2011

      Ah, benar juga. Makasih ya, Lul. Kutambahkan sekarang:D

Leave a Reply

  • (not be published)