Saya termasuk senang membaca proses kreatif dalam bentuk buku, artikel media cetak, makalah, atau blog. Tidak pandang profesinya apa, di luar dunia perbukuan pun, saya berusaha mengerti. Keragaman gaya bahasa yang digunakan penulisnya pun terasa menyegarkan. Ada yang sangat serius, ada yang ceria dan gaul.

Cerita proses kreatif penerjemahan dan penyuntingan sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda dengan penulisan (buku). Selalu ada unsur yang bisa disampaikan, menurut saya relatif lebih menarik ketimbang hanya melampirkan sampul, data buku, dan sinopsis. Isinya bervariasi, seperti kesan pribadi tentang cerita/konten buku, ilustrasi, tahap-tahap mengerjakan yang mungkin diselingi hambatan teknis, dan yang paling sering adalah teknik. Mencari makna kata tertentu, menemukan padanan, dan sejenisnya. Segi mana pun, bagi saya senantiasa asyik disimak dan menambah pengetahuan.

Sulit-sulit gampang menuliskan ini, memang. Kalau menunggu buku terbit dan melihat isinya untuk menyegarkan kembali ingatan, bisa jadi terlalu lama. Apalagi jika naskahnya bukan PDF dan sudah dikembalikan, menjenguk yang sudah terbit tetap kurang membantu. Namun bukan berarti tidak boleh menunggu hingga saat itu tiba, karena ada sensasi tersendiri sewaktu membaca ulang dan melihat-lihat koreksi yang terjadi.

Opsi lainnya, mengangsur ketika mengerjakan. Biasanya dorongan ini timbul lantaran kita menemukan unsur yang seru, kosakata unik, permainan kata yang memusingkan, atau karakter yang mengharu-biru. Berhubung belum terbit, judul buku dapat dirahasiakan dulu. Langkah ini mirip penulisan catatan penerjemahan/penyuntingan, tapi jujur belum pernah saya coba.

Kalau benar-benar tidak ingin hilang “kenangan” selagi masih segar, proses kreatif bisa ditulis seusai menerjemahkan atau menyunting (setelah menyetor tentu). Kadang tak urung kita harus mencuri waktu, apabila sudah ditunggu pekerjaan berikutnya. Bagian inilah yang bisa “melabur” ingatan jika penulisan proses kreatif tertunda.

Anda pilih yang mana? Atau bergantian sesuai kondisi?


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

One Response to “ Kapan Sebaiknya Menulis Proses Kreatif? ”

Leave a Reply

  • (not be published)