Setahun yang lalu, tepat di bulan September, ibu saya opname beberapa hari. Setelahnya, beliau tinggal di rumah kami beberapa minggu. Waktu itu saya mengerjakan terjemahan The Casual Vacancy, alhamdulillah “keroyokan” dan masih bertenaga meski disambi-sambi. Alhamdulillah bisa tepat waktu juga, “hanya” dua kali body painting alias kerokan.

Bulan ini, Mama harus menjalani terapi karena vonis penyakit lain. Bersamaan dengan itu, Mas Agus mengalami insiden yang menyebabkannya cedera dan kaki kirinya dihiasi enam jahitan. Baru kali inilah saya mengerti cara mengatasi suasana yang bergejolak dan menuntut ketabahan. Seperti halnya membeli rumah dengan sistem KPR tidak jadi mudah dengan sekadar punya uang, merawat orang sakit (dan luka) pun tidak jadi gampang hanya karena yang siap ada lebih dari satu orang, punya waktu luang, dan hal-hal lainnya. Pernah saya membaca satu artikel bahwa perawat dan perawat lansia termasuk profesi yang rentan stres selain babysitter.

Kuncinya memang ikhlas, yang lagi-lagi tidak ringan. Saya juga ingin ikhlas, seperti sosok ART dalam iklan produk rokok Lebaran lalu yang berkata, “Ini bukan soal uang. Saya harus pulang merawat ibu saya yang sudah tua.” Butuh kekuatan mental tersendiri untuk membujuk Mama mengurangi kebiasaan menonton tayangan berbau analisis penyakit serbamengerikan, atau semata menyabarkan Mas Agus yang tidak biasa minum obat sehingga mual dan merasa kesulitan berpikir.

Sekian tahun ke belakang, saya memetik pelajaran berharga bahwa di masa kini utamanya, mendidik dan mengurus anak tidak bisa “sendirian”. Ternyata merawat orang(tua) sakit pun demikian. Saya kadang berkhayal seperti film-film Hollywood yang saya tonton, ada semacam konseling bagi mereka yang tertimpa musibah dukacita, atau keluarga pasien penyakit tertentu sebagaimana film 50/50. Mungkin berbagi dalam grup bisa saling menguatkan, bisa saling mendukung. Namun kenyataan yang saya temui dalam bentuk “tidak resmi”, kemungkinan besar temperamen dan sifat personal saya terlalu kuat berperan. Saya lelah berinteraksi dengan orang lain. Lelah bercerita hal yang itu-itu saja. Lelah mendengar reaksi yang sering menakutkan atau meningkatkan rasa cemas. Lelah kecewa karena salah memilih lawan bicara.

Memang ini bukan “kiamat”. Saya beruntung punya saudara-saudara yang tegar dan periang. Saya beruntung punya teman-teman, sahabat senasib yang mengajari secara tidak langsung untuk menertawakan masalah. Senyumlah, kata mereka, karena tinggal itu yang kaupunya. Saya diingatkan terus untuk menyederhanakan keadaan. Bernapas saja, tak usah berpikir (terlalu berat) terkadang.

Pelan-pelan saya melihat “cahaya” dalam kondisi ini. Saya sadar betapa sibuknya Mas Agus, ketika saya mencoba menangani sebagian urusannya dan menghadapi yang kecil-kecil tapi ruwet. Kembali saya ingat beberapa karib tadi. Secara tidak langsung, bukan dengan kata-kata, mereka memberi saya teladan. Pura-puralah tak ada yang berubah, tak terjadi apa-apa, perlahan semuanya akan membaik. Ternyata itu sangat membantu mengurangi ketegangan dan saya bisa santai. Mata saya lebih terbuka pada adik semata wayang yang sanggup bersikap jauh lebih dewasa. Pagi-pagi sekali dia mengantar Mama kemari berikut segala keperluannya, kemudian pulang dulu dan masuk kantor lewat tengah hari. Jangan ditanya jauhnya jarak yang harus dia tempuh dari sini, belum lagi macetnya. Tapi adik tidak mengeluh. Dia melakukannya seolah itu sangat biasa, bukan hal yang perlu dibuat panik.

Lusa Mama menjalani terapi pertama, bersama dokter yang rajin menyemangatinya. Saya baru paham manfaat nyelimur (menyamarkan) sakit dengan hal-hal menggembirakan. Ketika saya sakit parah dulu, sepulang opname Mas Agus memenuhi semua permintaan saya (yang kalau diingat-ingat konyol juga). Mama pun lebih ceria karena sebelum terapi bisa makan enak, jalan-jalan, bahkan memetik beri hitam dan pijat sampai tidur lelap. Ternyata sesimpel itu. Dengan satu syarat: jangan hitung-hitungan. Kini kebalikannyalah yang saya yakini: berkat jiwa yang sehat jadilah badan yang kuat.

Tidak mudah bagi saya menuliskan ini. Namun ini sajalah yang dapat saya lakukan untuk berterima kasih pada para karib yang memberi dukungan moril di atas dan menjadikan saya tidak merasa sendiri. Kalian orang-orang hebat, tabah, dan sungguh menginspirasi.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Karena Hidup Harus Terus Berjalan ”

  1. gravatar nurcha Reply
    September 10th, 2013

    waah, semangat terus mbak rin. Aku jadi inget pengalaman jagain tante di rumah sakit. Persis seperti yang mba Rin bilang. kita harus ceria menghadapi orang sakit, mengajaknya bercanda. Aku malah mendandani tanteku itu, memakaikannya handbody lotion dan membedakinya.
    Memang tidak bisa meredakan sakit yang dirasakannya, tetapi sepertinya itu membuatnya bahagia. 🙂
    Semangat mba Riin.
    *peluuk*

    • gravatar Rini Nurul Reply
      September 10th, 2013

      Aamiin… makasih ya. Doa yang sama untuk Nung sekeluarga:)

Leave a Reply

  • (not be published)