gramediapustakautama.com

Penulis: Tere Liye

Desain dan ilustrasi sampul: eMTe

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 512 halaman

Cetakan: ketiga, April 2012

 

Untuk siapakah novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah?

Untuk pembaca fiksi yang jemu menemui latar lokasi itu-itu saja. Bukankah denyut kehidupan berikut segala permasalahan yang menjadi bagiannya terjadi di setiap pelosok dunia? Lewat novel ini, penulis mengajak kita “menjejakkan kaki” di Pontianak dengan hikayat unik sumber namanya. Menyaksikan keseharian para pengemudi sepit, liku-liku penduduk sekitar sungai, mulai dari gelegak air yang menyebabkan seseorang memaki karena kehilangan sabun, perselisihan antarpengemudi akibat aturan dan konflik personal, sampai bahu-membahu yang menggedor hati. Potret kelas menengah ke bawah yang acap kali tak disadari itu justru menciptakan keindahan tersendiri. Apa pasal? Tak ada yang meratap, merasa diri sengsara atau miskin, selalu ada alasan tertawa, meminta maaf, berbagi, berterima kasih.

Ini satu pertanda bahwa di hiruk-pikuknya persaingan dan tuntutan dunia, masih ada manusia budiman dan saling memedulikan. Tentu ada liku-liku yang tak ringan dilalui. Contohnya ketika Borno diplonco Bang Togar untuk membersihkan kakus, diledek tetangga agar tidak dekat-dekat warung karena tubuhnya bau karet, dienggani penumpang karena dicap pengemudi sepit baru dan tidak berpengalaman. Ada pengetahuan baru yang saya peroleh, semisal menghilangkan bau tajam menyengat dengan daun singkong, menyiasati sikap galak satpam dengan berakrab-akrab menyebut namanya, dan sebutan pelampung untuk kapal feri.

“Kau tahu, Borno. Tempat bekerja kau sebelumnya, meski bau, membuat orang lain menutup mulut saat kau lewat, hasilnya wangi. Halal dan baik. Dimakan berkah, tumbuh jadi daging kebaikan. Banyak orang yang kantornya wangi, sepatu mengilat, baju licin disetrika, tapi boleh jadi busuk dalamnya. Dimakan hanya menyumpal perut, tumbuh jadi daging keburukan dan kebusukan.”

(hal. 42)

Untuk mereka yang ingin belajar tentang hidup. Percakapan Borno dengan ibunya merupakan suatu potret bahwa tidak di semua penjuru bumi terjadi kesenjangan generasi yang menghambat komunikasi. Hierarki mengandung sisi positif, dan orang yang lebih banyak mengecap asam garam tak ayal menjadi tempat bertanya.

Dari segi ini, penulis membuktikan bahwa fiksi bernada roman tidak melulu harus bicara cinta antara lawan jenis setiap waktu, setiap halaman, setiap alinea. Mengingat cinta adalah salah satu jalur peta kehidupan, manusia juga perlu menjalani sisi-sisi lain yang adakalanya menjadi lebih pokok. Relasinya dengan orangtua, keluarga, baik yang memang berhubungan darah maupun sahabat semenjak kecil yang ibarat saudara sendiri karena eratnya.

“… Kau tahu, orang paling bersyukur di dunia ini adalah orang yang selalu makan dengan tamunya. Sebaliknya, orang yang paling tidak tahu untung adalah yang selalu saja mengeluhkan makanan di hadapannya.”

(hal. 121)

Untuk mereka yang mereguk hikmah dari hal-hal kecil. Hal-hal yang kerap dipandang sepele kemudian dirasa layak diabaikan. Penulis tidak hambur bermain deskripsi, namun justru ketepatan proporsi unsur kisahnya baik berupa tempat maupun hidangan khas jadi menggiurkan. Kian menjelmalah kisah yang digulirkan bab demi bab secara visual dalam imajinasi saya, sebagaimana menentramkannya suara Pak Tua tatkala memberi wejangan. Bukan menggurui, tentunya, melainkan sarat perhatian dan kasih sayang. Karakter Pak Tua ini merupakan salah satu daya tarik yang membuat kerasan membaca sampai tuntas karena rahasia unik yang disimpannya.

Terkadang memang aneh urusan ini. Andi setiap malam memaksaku, tidak sabaran mendesak, aku justru tidak mau bercerita. Pak Tua sebaliknya, santai melanjutkan menghabiskan kepala kakap, aku justru tanpa disadari mulai bercerita, tiba-tiba merasa penting membagi informasi padanya.

(hal. 122)

Untuk para orangtua yang ingin tahu kiat mengetuk hati putra-putri ketika beranjak dewasa. Sesungguhnya cara Pak Tua yang tidak mendesak ini berlaku di segala situasi dan posisi. Darinya, saya juga belajar dan berharap bisa sesabar Borno.

“Kau tahu, Borno. Perasaan adalah perasaan, meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan putih luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera makan, kehilangan semangat. Hebat sekali benda bernama perasaan itu. Dia bisa membuat harimu berubah cerah dalam sekejap padahal dunia sedang mendung, dan di kejap berikutnya mengubah harimu jadi buram padahal hari sedang terang benderang.”

(hal. 132)

Untuk penyuka untaian kata puitis dalam takaran yang pas. Tidaklah benar bahwa melankolisme, kesenduan, haru-biru, mutlak milik kaum Hawa. Penulis menampik stigma hitam-putih itu tanpa jatuh menjadi cengeng. Percakapan Pak Tua dengan Borno, hubungan erat mereka yang bak ayah dan anak kandung, menrenyuhkan hati. Menyenangkan sekali ketika kita punya tempat bertumpu, mencurahkan perasaan, meminta saran yang menenangkan. Kian jelaslah bahwa peran Pak Tua tidak kecil dalam perkembangan karakter Borno yang makin lama makin dewasa. Di zaman yang mempertentangkan, bahkan memperlebar jurang antargenerasi ini, masih ada sosok pemuda yang menyerap tuntunan orangtua dan menghargainya. Seperti ucapan Borno di halaman 164, Pak Tua benar, masa muda adalah masa ketika kita bisa berlari secepat mungkin, merasakan perasaan sedalam mungkin tanpa perlu khawatir jadi masalah.

Bukan berarti kekariban Pak Tua dan Borno tidak mengalami kendala, seperti lazimnya hubungan dua manusia. Ketika kekalutan melanda, Borno menjadi pemberang dan Pak Tua salah satu yang kena getahnya. Menggelikan juga kala Borno meninggalkan Pak Tua di klinik untuk bertemu dan bercakap-cakap dengan Mei.  Kali lain, lelaki sepuh yang membujang seumur hidup itu menyindir Borno hingga bersemu merah dan mati kutu kendati bermaksud membantu. Menurut Pak Tua, perjumpaan yang lancar berkat bantuannya senilai dengan pijat semalam suntuk.

Dalam perbincangan dengan Borno dan Andi, utamanya, Pak Tua tetap membuka ruang untuk berbeda pendapat. Diizinkannya Andi berkilah di suatu kesempatan, dan Borno menunjukkan keraguan sebagai reaksi. Namun penulis tak hendak menancapkan pameo bahwa yang tua seratus persen benar, apalagi sempurna. Dalam skala minor, Borno bersabar-sabar mengingatkan Pak Tua untuk disiplin diet sehingga pria itu mengomel karena tak bisa menikmati hidangan lezat di perjalanan. Lain waktu, Borno jugalah yang berdiri tegar ketika ayah Andi terenyak mendapati kenyataan pahit yang menciutkan luapan semangat merintis masa depan.

“Camkan, bahwa cinta adalah perbuatan. Nah, dengan demikian, ingat baik-baik, kau selalu bisa memberi tanpa sedikit pun rasa cinta, Andi. Tetapi kau tidak akan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi.” (hal. 168)

Untuk yang tidak terlalu menyukai roman sekalipun, novel ini perlu ditengok dan disimak. Sejatinya kasih sayang menumbuhsuburkan cinta di tempat-tempat lain, antara lain dukungan mengharukan teman-teman sesama pengemudi sepit sekaligus tetangga gang yang didiami Borno ketika mengetahui rencana kencannya dengan Mei. Kadang mengesalkan memang, hal yang disimpan rapat-rapat malah bocor begitu saja ditambah aneka gurauan dan keingintahuan akan peristiwa selanjutnya.

Ihwal romansa Borno dan Mei sendiri, kemasannya tidak “terjerumus” klise lantaran perbedaan latar belakang ekonomi belaka. Dengan piawai, penulis menghadirkan kisah yang manis tanpa melupakan aneka rintangan. Yang paling istimewa, terbukti cinta tidak hanya bisa disampaikan di antrean bioskop hendak menonton film romantis, dengan berkirim bunga atau gelimang hadiah.  Romantisme itu bisa terwujud dalam kebersamaan penuh tawa, ketika Borno belum kunjung berani menanyakan nama Mei sedangkan si gadis sudah mengetahui namanya, skenario memuji dan memberi tanda mata yang berantakan. Sungguh percintaan lembut yang tidak biasa. Penulis memperlihatkan bahwa cukup hati saja yang hangat sehingga sepanjang perjalanan kedekatan Borno dan Mei terasa santun.

Diajak berkeliling sekitar Pontianak, singgah di Surabaya, bermain-main ke Kuching dengan beragam pernik yang menggelitik dan menghasilkan perenungan, mengikuti Borno menyusuri perjalanan mewujudkan cita-cita, belajar memaafkan dan tidak menyesali masa lalu, lengkap dengan pelbagai kejutan di klimaks cerita menjadikan ketebalan Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah sama sekali bukan penghalang menikmatinya.

Skor: 5/5


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)