Apa jadinya bekerja tanpa kamus? Bingung, linglung. Termasuk di era internet ini, kala segala sesuatu berusaha dikompresi, di-softcopy-kan, dibuat ringkas dan bisa dilipat hingga mudah dibawa ke mana pun. Kamus cetak tetap bermanfaat ketika tak ada tempat bertanya (baca: teman diskusi), sebab di zaman medsos bertanya pun butuh upaya ekstra yakni menyalakan laptop, menunggu online dan gigit jarilah apabila sang teman yang jadi andalan sedang tidak online baik karena koneksi internetnya bermasalah maupun tengah sibuk.

Seperti yang sudah saya ceritakan di sana, saya termasuk telat memiliki KBBI dan Tesaurus. Bahkan yang disebut terakhir dirasa perlu semasa saya belum terjun penuh sebagai penerjemah. Seperti rekan penerjemah dan penyunting lain, saya pernah pula menggerutu karena relatif cepatnya konsensus dalam KBBI berubah dalam edisi baru (tentu sajalah:D), semisal ‘memerhatikan’ di KBBI III yang kemudian menjadi ‘memperhatikan’ di KBBI IV. Saya pernah penasaran apa yang mendasari perubahan itu, tapi sungguh tak berani serta-merta melabeli tim penyusunnya ‘kurang kerjaan’ karena mengganti-ganti aturan.

Bahasa memang variatif, tak luput dari perkembangan selaku unsur krusial perubahan. Kadang bertambah padanannya, ada yang menyempit maknanya, ada yang meluas, ada yang bergeser, ada yang keliru dipahami padahal secara tata bahasa sangat jauh berbeda namun justru yang keliru itulah yang diyakini benar karena sudah telanjur tertancap di mayarakat. Bukan, saya bukan bicara soal pemakaian bahasa dalam kehidupan sehari-hari, apalagi dialog lisan, melainkan relevansinya dalam penerjemahan dan penyuntingan, bisa jadi penulisan di area-area tertentu.

Sungguh tak bisa kita (ini menurut saya) meloloskan diri dari aspek berbahasa. Di Word saja ada yang namanya Spellchecker, di postingan blog ini ada juga. Tanpa sadar, kendati acap kali mengomel-ngomel pusing, saya membutuhkan dan barangkali ‘menggantungkan diri’ pada keberbahasaan ini. Mana yang benar, mana yang baku, mana yang pas digunakan sesuai konteks, mana yang menyampaikan makna secara jelas dan terang, mana yang taksa, mana yang ambigu, itu bagian pembelajaran jika tak hendak menyangkut profesionalisme belaka.

Keragaman pendapat, yang saya hormati, antara lain tecermin pada aneka selingkung penerbit. Ada yang tetap menggunakan ‘nafas’ dengan alasan kuat, ada yang taat KBBI (termasuk EYD) seratus persen, ada yang sebagian-sebagian saja juga dengan argumen berdasar. Semua itu pilihan, sebagaimana layaknya kita selaku rekan kerja penerbit. Suka? Turuti. Tidak suka? Hadapi saja, karena pasti diubah juga oleh penyunting dalam proses ke depan. Protes? Tidak bayar, kok. Sebagaimana arbitretnya sifat bahasa, dalam dunia kerja ada yang namanya subjektivitas. Ini sah-sah saja, apabila subjektivitas ditafsirkan preferensi pada pihak-pihak yang kooperatif selain membuka wawasan.

Kembali pada kaitan dengan judul postingan, bolak-balik dan ‘menghafal’ KBBI serta EYD (salut setinggi-tingginya pada para proofreader) memang repot. Siapa bilang pekerjaan ini mudah? KBBI dan EYD bukan kitab suci, mungkin ada kekeliruan, sering pula ada kosakata yang belum tercantum di dalamnya. Tapi saya pribadi memilih menghargai kerja para lexicographer yang menggarapnya, beliau-beliau yang sudah meneliti dan menyusunnya dalam tempo tidak sebentar, dan memanfaatkan tetap sesuai konteks.

Sekali lagi, ini pendapat saya pribadi. Tidak mewakili penerbit atau klien mana pun. Anda tidak setuju? Boleh-boleh saja. Tapi maaf, saya tidak melayani debat.

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.