Memang ini berlaku di segala bidang profesi, namun bolehlah kiranya saya menyatakan salut pada para klien penerbit dan editor in charge dengan sikap memercayai yang begitu patut diteladani.

Sependek pengalaman saya menerjemahkan dan menyunting buku, bisa dihitung dengan jari jumlah editor in house yang pernah bertemu muka. Memang bukan berarti mereka sembarang “tunjuk”, utamanya dalam pekerjaan-pekerjaan yang ditawarkan dan tidak melalui tes. Selain menilik hasil kerja yang sudah terbit, lebih memudahkan apabila di tempat yang termasuk grup penerbitan tersebut, para editor menanyakan penilaian kinerja pada tim yang menangani dan berkomunikasi dengan saya. Mengingatkan saya pada beberapa atasan semasa ngantor dulu yang langsung mengesampingkan ijazah dan transkrip nilai (membuat saya malu karena terpaku pada aturan “baku”) lalu berkata, “Bukan berapa IPK-mu yang penting di sini, tapi kamu bisa apa?”

Pemberian tes melalui e-mail sudah membutuhkan kepercayaan besar yang membuktikan pihak penerbit bukan pemelihara buruk sangka. Padahal bisa saja (seperti anak sekolah iseng, kalau mau) pelamar mengerjakan tes dengan “gotong royong” alias kerja kelompok. Namun pelamar adalah orang dewasa yang sudah paham bahwa nyontek itu merugikan diri sendiri.

Saya dihinggapi kecemasan terus-menerus sewaktu harus mengirimkan tes lewat warnet sekitar delapan tahun lalu. Mengerjakannya tetap di komputer di rumah/kamar, tapi kami masih kos dan tidak ada fasilitas internet. Waktu itu modem berpaket murah meriah pun belum semerajalela sekarang. Orangtua tidak keberatan rumahnya dipasangi internet, namun jaringan telepon saja buruk sekali. Alhasil, setelah mengirim file, saya bolak-balik mengecek apakah sudah menghapusnya di harddisk warnet. Ngeri bocor, terutama kalau ada naskah aslinya.

Dipinjami buku asli untuk menyunting dan menerjemahkan memang enak, ada semangat tersendiri ketika memandangi desain dan tataletaknya yang cantik. Juga bisa baring-baring santai membaca dulu untuk memudahkan penghayatan isi. Tapi ada unsur panas dinginnya, khawatir terciprat teh, tertekuk, atau hilang dalam perjalanan mengirim kembali.

Bukan berarti fotokopian yang tak perlu dikembalikan bikin tenang-tenang saja. Lantaran tak tega menjadikannya bungkus seperti kalender bekas, atau membuang begitu saja dengan risiko bocor, sampai hari ini berkas-berkas bahan itu masih saya simpan di dus khusus. Mengingat segala risiko yang dapat timbul, saya paham betul sewaktu harus menandatangani Non Disclosure Agreement sebelum menerjemahkan The Casual Vacancy. Lain-lainnya secara umum sudah tertuang dalam SPK.

Perkara SPK ini juga membuat saya bertambah kagum pada salah satu relasi penerbitan yang tidak menetapkan kebijakan surat perjanjian. Pendataan tetap dilakukan oleh bagian keuangan sejak awal, juga ada dokumen informasi transfer dan lainnya. Tanpa mengurangi rasa hormat pada penerbit yang beda ketetapan, harus diakui proyek minus SPK ini memperingkas prosedur.

Menjaga kepercayaan jelas merupakan bekal melanggengkan karier pekerja lepas. Sangat menyenangkan ketika itu terbina antara kedua belah pihak.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)