18253062_236998090113929_615972793569247232_n

Apa pun profesi kita, pertetanggaan sedikit-banyak memengaruhi keseharian. Tempat tinggal yang tampak nyaman sebelum kita pindah bisa jadi berubah tak menyenangkan jika kita tidak cocok dengan tetangga, utamanya yang berdekatan (sebelah atau berhadapan). Saya sering termenung melihat klaster yang lagi musim, termasuk di daerah pegunungan ini. Berpagar, berdekatan sekali, ada yang hanya dua rumah. Kalau sampai tidak klop dengan tetangga satu-satunya itu, gimana solusinya ya?

Sewaktu mencebur ke Google untuk topik pekerja lepas dan hubungan dengan tetangga, yang keluar rata-rata keluhan akan ketidakmengertian tetangga (padahal kerabat sendiri juga sering begitu). Yah, namanya profesi tidak “lazim” pasti mengundang pertanyaan melulu. Namun bila sudah melakoninya cukup lama, saya pikir kita sebaiknya “kebal” dengan sangkaan nganggur, main game terus karena pegang hape/depan laptop, dll. Bagaimanapun, kita tetap butuh tetangga.

CM160113-09322501

Banyak cara untuk membina hubungan baik tersebut. Bagi saya pribadi, tidak mesti dengan ikut arisan, dasawisma, koperasi, jadi kader Posyandu, dan sebagainya. Bisa dengan ambil bagian di kegiatan kerja bakti, paling minimal memberikan sumbangan uang atau konsumsi. Tindakan seperti ini bukannya bisa menghindarkan omongan tetangga sama sekali, itu sih sulit dikontrol. Tapi menurut saya, lebih baik menyumbang daripada hadir tapi malah menambah repot/menghambat pekerjaan, atau bahkan sekadar komentar sana-sini sambil “nonton”.

Cara lain menjaga hubungan baik adalah bangunan rumah yang “ramah”. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, pagar dan tembok tinggi yang dimaksudkan melindungi privasi acap kali malah jadi bumerang sehingga kita terpenjara di rumah sendiri. Tidak semua orang senang dikunjungi (lama-lama), namun pada umumnya yang bertamu pun ingin seperlunya saja. Kasihan juga kalau ada tetangga yang butuh bantuan atau menyampaikan sesuatu yang sebenarnya kita butuhkan, jadi malas mampir ke rumah kita karena kita lama sekali membukakan pintu. Atau malah, pintu terbuka dan tampaknya “ada orang” (misalnya motor ada di teras), tapi kita dipanggil tak kunjung menyahut. Ini biasanya risiko rumah (terlalu) besar dan ada pintu keluar-masuk lebih dari satu.

Masalah tetangga ini tidak selalu berkaitan langsung. Pada suatu masa ketika aktif mengulas buku, saya sering sekali terima kiriman dari penerbit melalui kurir. Tetangga-lah yang berbaik hati ketitipan paket bila kami tidak ada di rumah. Kalau mau sih, sah-sah saja tetangga menolak atau menyarankan sang kurir kembali lain kali. Tidak enak juga bila tetangga terganggu oleh kurir yang berseru, “Permisi”, berkali-kali ke rumah kita karena pagar tak kunjung dibuka.

CM160215-06333004

Ada baiknya kita memberitahu kurir, tetangga mana yang tidak keberatan dititipi dan tentunya tidak jadi repot. Soalnya tidak jarang di zaman “modern” ini, di desa kecil sekalipun orang bersebelahan rumah tidak saling kenal. Bahkan tidak tahu nama. Padahal di film-film, jika ada warga yang mengalami musibah, termasuk jadi korban tindak kejahatan, tetangga pasti ditanyai FBI dan polisi. 

Masih banyak tempat/alamat yang mengharuskan kurir menitipkan barang. Katakanlah, perkampungan tempat rumah warga saling berjauhan. Tidak jelas nomornya, tak ada nama jalan, hanya RT/RW, biasanya titip ke rumah ketua RT atau RW tadi. Di situlah semakin perlunya menjaga etika. Tidak berarti harus netangga sering-sering, namun alangkah baiknya membayar iuran rutin tepat waktu, memperhatikan kebersihan lingkungan, dan mempertimbangkan tetangga ketika merenovasi/membangun rumah. BIla halaman kita memadai, tidak ada salahnya menyediakan tempat parkir ketika tetangga mengadakan acara. Lebih-lebih saat dilanda musibah atau ada yang meninggal. Jika tidak bisa menjenguk anak yang khitanan atau tetangga yang opname, kita bisa datang belakangan ke rumah dalam suasana yang lebih santai.

Saya sendiri cukup beruntung karena dalam tradisi erte kami, orang segan bertamu bila pintu tertutup karena khawatir mengganggu istirahat/shalat/lain-lain. Tentu kecuali ada urusan sangat mendesak. Sebisa mungkin di malam hari atau pagi-pagi sekali, buka pagar dan menyalakan motor pelan-pelan saja. Membunyikan klakson terkesan “tabu”. Kalau lampu teras saya masih menyala, saya kadang dikira masih tidur padahal memang lupa mematikannya sampai diingatkan tetangga:))

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)