Tulisan ini dikarenakan obrolan ngalor-ngidul spontan dengan beberapa kawan freelancer, terkhusus yang seratus persen kerja di rumah (bukan orang kantoran yang jadi pekerja lepas di akhir pekan). Baik yang sudah punya anak atau belum serentak mengamini bahwa pekerja lepas memiliki banyak waktu luang hanyalah mitos. Yang sudah jadi orangtua, misalnya. Saya sering kali melihat para orangtua kantoran bukan berarti bisa leyeh-leyeh Sabtu-Minggu. Mereka “ditempel” anak-anak, terutama yang masih kecil. Sangat wajar, karena anak-anak sadar orangtua ada di rumah dan saat itu harus dimaksimalkan.

[sws_red_box box_size=”100″] Sekilas info: saya bukan tipe orang yang setuju dengan pendapat “ketika anak sudah besar, orangtua lebih santai”. Penyebabnya akan saya tulis di postingan terpisah. [/sws_red_box]

Seorang rekan proofreader dan editor di provinsi tetangga bercerita, dia kerap kasihan pada suami tercinta. Waktu bersama mereka yang paling banyak adalah saat wiken, sebab sang suami masih ngantor. Alhasil ketika dikejar tenggat, teman satu ini bisa membaca proof sambil antre di bioskop. Bila tenggatnya relatif longgar, dia mengusahakan target selesai pagi-pagi kemudian berkencan dengan tenang hari itu. Tetapi pasangan ini punya ritual rutin menonton bareng setiap malam sebelum beristirahat.

Teman tersebut bertanya, “Teteh sama Mas Agus sebidang gimana? Lebih mudahkah?”

Saya jadi nyengir malu.

Di musim deadline, kami jarang mengobrol. Belakangan Mas Agus mengupayakan berubah kebiasaan, bekerja siang hari agar tidak sering begadang dan badan tidak ambruk. Itu artinya dia bangun lebih pagi dan nyawa belum konek betul, obrolan jadi tidak nyambung. Maka hampir sepanjang hari kami terpekur di depan meja masing-masing. Suara yang terdengar hanya musik favorit dan bisa sangat berbeda. Kalau makan bareng (sebisa mungkin tidak di depan meja), percakapan tidak jauh-jauh dari kerjaan. Bahkan banyak diamnya untuk menghemat energi. Harus diakui, bicara itu capek. Paling kami sempat ngobrol rada santai sewaktu saya memijat dia atau kami iseng makan sambil nonton TV. Yang terakhir ini lebih banyak nyela dan bikin bete, jadi tidak sering. Selesai makan, TV dimatikan lagi.

Belanja bulanan bisa jadi kesempatan nongkrong sebentar, dengan catatan tidak mampir sana-sini dan pilih lokasi terdekat. Jujur saja, topik pekerjaan selalu terselip di antara yang lain. Apalagi jika sedang ketawa-tiwi atau menikmati pemandangan lalu malah teringat sesuatu yang ada hubungannya dengan PR di rumah.

[sws_red_box box_size=”100″] Tambahan info: saya tidak selalu membaca buku editan Mas Agus, demikian pula sebaliknya. [/sws_red_box]

Buat saya sih, yang penting saling mengerti. Ada saja yang menilai kehidupan kami membosankan karena kerap jadi makhluk gua ketika orang “berpesta-pora” dengan kemacetan di akhir pekan. Ibarat pelajar hendak ujian, nonton film rasanya semacam pelanggaran. Jadi saya cengar-cengir saja di tengah obrolan tentang seri yang lagi happening.

Kembali ke topik di atas, kapan santainya dong? Inilah saat bertoleransi. Saya kerap menemani Mas Agus nonton berita politik, asalkan bukan sebelum tidur karena jadinya pasti nggak tidur-tidur. Kalau dia nonton siaran atau berita olahraga, saya tidak memintanya pindah saluran lagi. Toh dia tidak marah kalau saya tanya melulu sebagai awam. Contohnya, Mas Agus tidak menertawakan saya ketika bilang, “Kirain CR-7 itu tipe motor berapa CC gitu…”

Tidak jarang sewaktu membutuhkan sesuatu dan harus turun gunung, saya bertanya, “Rencanamu apa hari ini?” atau “Kamu ada janji nggak nanti siang/besok?” Bila di sela-sela menangani urusan itu saya harus ikut mampir ke bengkel, membeli ATK, memperbaiki jok, atau ke toko material, saya belajar menikmatinya. Selalu ada hal menarik yang bisa menjadi inspirasi di tempat-tempat tak disangka.

Bukan berarti tidak ada enaknya, tentu. Kehadiran secara fisik itu berpengaruh pada psikis. Sebut saya cengeng, melankolis, atau manja, tapi kalau suami tidak ada seharian penuh, rasanya kosong. Seperti hilang separuh. Mungkin itu sebabnya pasangan disebut belahan jiwa.

Singkat kata, tak ada waktu “keramat” untuk bersantai sejenak. Dulu memang saya sempat mengomel karena wiken tetap harus bekerja. Tapi kalau ingin libur yang “lazim”, ya tidak usah jadi freelancer. Bagaimanapun klien senang dengan pekerja lepas yang fleksibel. Saya sependapat dengan kawan proofreader yang saya sebut di permulaan, “Kalau terus menolak kerjaan hanya karena wiken, lama-lama klien bisa malas ngorder.”


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)