“Baru” di sini bukan saja baru menerjuni, tetapi juga sempat jeda karena menjadi orang kantoran lagi lalu kembali jadi pekerja lepas, menempuh studi dulu, cuti melahirkan, dan lain sebagainya.

Yang paling kerap “terpeleset” adalah perkara waktu. Ini juga saya alami sewaktu belajar menjadi pekerja lepas dan masih kuliah tahun-tahun terakhir. Karena mengira bekerja nonkantoran ini santai, saya lalai melaporkan perkembangan proyek kepada klien. Padahal tinggal kirim e-mail atau SMS saja, dulu belum zaman smartphone. Tahu-tahu klien menanyakan dan saya kaget sendiri, ibarat dosen pembimbing yang bertanya, “Sudah bab berapa?” Kita harus ingat bahwa di kantor, klien bekerja tim dan sebenarnya kita termasuk secara tidak langsung. Jadi perlu lapor berkala mengenai status proyek, yang biasanya disampaikan klien dalam rapat.

Masih soal waktu, lazim terjadi “gegar budaya” begitu kita “lepas” dari kantor. Karena merasa dunia kerja lepas itu leluasa (padahal leluasa dan bebas itu berbeda), sangat mungkin rem kita jadi blong. Kenyang-kenyang tidur mumpung tidak perlu berangkat pagi dan mengatasi kemacetan, nongkrong sambil rumpi sana-sini, tahu-tahu hari sudah sore dan pekerjaan belum dimulai sedikit pun. Bukan rahasia lagi, kali pertama biasanya terasa sulit dan berat. Kalau memang belum siap, sebaiknya jangan langsung menerima proyek atau mengajukan diri untuk bekerja selepas berhenti dari kantor.

Pengakuan: Saya sih, kebablasannya keluyuran di dunia maya. Apalagi waktu baru punya akun di beberapa jesos, bisa melantur habis dari jam kerja. Pembenarannya, “Kan mumpung bayar sendiri, terserah saya dong mau online berapa lama.”

Mengabaikan masa peralihan pun kerap jadi pemicu. Sepeeti pindah rumah, pindah divisi, pindah kantor, menjadi pekerja lepas juga perlu penyesuaian barang sejenak (atau beberapa jenak, tergantung kemampuan beradaptasi dan motivasi masing-masing). Terkadang bekerja lepas (atau bekerja di rumah) nyaris tidak berbeda dengan ngantor, ada proyek kejar tayang yang menuntut lembur. Adakalanya lembur bukan karena keharusan pekerjaan atau permintaan klien, melainkan kendala dadakan seperti sakit atau persoalan teknis komputer/internet. Bukan menakut-nakuti, kenyataannya setiap pekerja lepas pasti pernah mengalami gangguan koneksi internet, komputer kena virus, atau minimal pemadaman bergilir.

Kekeliruan lainnya ialah masalah pengelolaan energi. Nyambung dengan gegar budaya tadi, sesungguhnya kerja di rumah tidak berarti lebih banyak waktu untuk pasangan (bagi yang sudah berkeluarga). Lebih-lebih ada tenggat “abadi” tak ubahnya kuku yang memanjang lagi setelah dipotong, urusan cuci-setrika dan sebangsanya yang lumayan menyita waktu serta tenaga. Di tahap ini, selain kreatif mencari penyelesaian, kemampuan tebal muka dan tebal kuping makin perlu ditingkatkan:)

Satu lagi, persoalan teknis yang tampak “remeh” namun sering terulang. Lolos satu seleksi, tapi pekerjaan tak langsung datang. Menjadi pekerja lepas seyogianya tak membuat kita lupa bahwa tiap orang punya kesibukan dan kendala, walau inginnya segala hal lancar-lancar saja. Saya teringat tulisan seorang pemilik jasa online, “Kalau pesan lama tidak dijawab, mungkin lagi di jalan, makan, koneksi bermasalah, kerjaan lagi numpuk banget…” “Penundaan” bisa saja terjadi pada tawaran yang diterima pekerja lepas berpengalaman sekalipun. Sudah mengiyakan, sudah siap-siap kerja lembur akhir pekan, lho dua minggu kok tak muncul-muncul? Ternyata sang klien mendadak harus ke luar kota dan tidak sempat cek e-mail. Begitulah seni dunia kerja, perlu menyibukkan diri agar tidak jemu menunggu.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)