MIRACLE-OF-GRACE-1

 

Terjemahan dan editannya mulus, pekerjaan saya jadi ringan. Karena itu saya akan bercerita mengenai kesan membaca novelnya saja.

 

Kate Kerrigan menyodorkan realita bahwa tidak semua anak perempuan dan ibunya akrab lagi mesra. Mereka saling menyayangi, itu sudah jelas, namun setiap pertemuan tak jarang diwarnai cekcok. Sebagaimana hubungan sesama manusia lainnya, anak dan ibu bisa berkonflik, tidak cocok, dan berbeda pandangan.

Secara cerdik, Kate menghadirkan dua profil wanita yang tidak “dijlimeti” urusan selain masa lalu. Grace yang menangani konseling di suatu sekolah menengah ternyata tidak mudah berkomunikasi dengan ibunya, Eileen, yang divonis kanker di masa senja. Namun kisah kedua wanita yang dipaparkan secara paralel tersebut tidak jatuh dalam melankolis “klise” berlatar belakang pameo “Jangan tunggu sampai orangtuamu menjelang akhir hayat untuk berbaik hati”. Tidak ada yang dominan. Eileen dan Grace mendapat porsi yang utuh.

[sws_red_box box_size=”100″] It is easy to make friends, but not so easy to keep them in the long term. You cancel a couple of arrangements because you are tired, or it seems too far to travel in traffic, and then next thing you know you have not seen somebody you considered a close friend in over a year. In the small town where I grew up, you saw the same people day in and day out for years. My mother was friends with the girls she went to school with until the day she died. I enjoyed the anonymous freedoms of the city, but now I wondered if I had enjoyed them enough to justify being lonely in my latter years. I missed seeing people every day, meeting old friends and making new ones. [/sws_red_box]

 

Lazim terjadi, orangtua senantiasa menganggap buah hati mereka masih kecil tak peduli berapa usia mereka. Miracle of Grace mengajak saya menggunakan perspektif bergantian bahwa dua wanita dalam perjalanan merambat usia perlu “disetarakan”. Itulah sebabnya Grace sangat berang karena Eileen tidak langsung memberitahunya ihwal penyakit yang dia derita, bahkan berpaling pada sahabat yang tidak terlalu disukai Grace.

Dalam banyak hal, Eileen mengingatkan saya pada ibu sendiri. Kate Kerrigan menggunakan dialog-dialog yang natural, perwatakan kuat, sehingga Grace dan Eileen tetap utuh sebagai wanita yang memiliki sisi rapuh dan tegar di waktu bersamaan.

Di sini, Grace putri tunggal Eileen. Namun tak urung saya berpikir, kita memang tak bisa memilih anggota keluarga. Saudara, ipar, menantu, sepupu, siapa pun yang sekarang ini terasa tidak klop… Siapa yang tahu justru dialah yang bersama kita di masa-masa terakhir. Siapa tahu orang paling akrab dan paling cocok sudah lebih dulu pergi.

Rating di atas diperuntukkan ceritanya, yang bagi saya, sangat memesona.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)