Ini peristiwa dua bulan silam. Ceri, laptop Mas Caroge yang sudah berumur enam tahun, batuk-batuk dan mulai ngadat. Kami masih abaikan sembari harap-harap cemas. Laptop ini masih dibawa Mas Caroge untuk melayani konsumen pengetikan dan print (seringnya sih print) di fotokopi. Jadi semula kami kira kena virus dari flashdisk. Ternyata bukan. Dugaan berikutnya, charger bermasalah. Juga bukan. Dugaan terdekat menilik tanda-tanda serta konsultasi dengan pedagang langganan: gangguan hardware. Dag dig dug.

Beberapa jasa servis sekitar rumah tidak beroperasi lagi. Karena tenggat pekerjaan lumayan rapat, Ceri masih dipergunakan kendati kondisinya makin serius. Saya merasa sangat bersalah sewaktu Ceri mulai mati sendiri, bisa sampai berkali-kali dalam jarak sekian menit. Masih untungnya tidak ada bunyi mencurigakan dan tampilan Blue Screen. Jelaslah, dia sangat lelah. Saat baru dibeli dulu pun, Ceri sudah dibawa “kerja paksa” bersama rentetan tenggat.

“Tapi sudah balik modal, kan?” canda pedagang langganan kami ketika akhirnya kami “terpaksa” ke sana.

Mengapa terpaksa? Awalnya kami coba siasati dengan gantian memakai Toshi, laptop saya. Tapi repot nian, sebab Mas Caroge juga harus kerja siang hari supaya tenggat tercapai dan badan tidak ambruk. Waktu itu dolar tengah melesat, namun tak ada pilihan lain. Alhamdulillah, ada honor masuk yang kami perkirakan cukup untuk membeli laptop “standar”. Pada dasarnya, yang dibutuhkan “sekadar” laptop kuat dan tidak perlu fitur macam-macam.

Jeng jreeeng… hasil browsing sangat menciutkan hati. Ini tindak pembelanjaan yang lumayan berat bagi kami. Ceri dibeli ketika ada kelebihan dana dan pos lain-lain sudah aman. Toshi dibeli karena PC tewas, namun dananya juga tidak ngepas. Masih bisa napas besok-besoknya. Ketika menyambangi toko langganan di siang yang panas dan menceritakan kebutuhan, kami cuma bisa nyengir karena Mbak baik hati berkata, “Hari gini laptop 4 juta mana ada?” Mbak ini tahu kami telanjur cocok dengan dua merek tertentu dan enggan mencoba yang lain karena belajar dari kasus-kasus di tempat reparasi (hasil bisikan montir).

Dibelilah Certu (dari Acer Too), nilainya sama persis dengan Ceri 6 tahun silam. Kami nombok. Tadinya mau makan gulai otak dulu di rumah makan kegemaran dekat situ, urung deh. Langsung pulang saja, jajan bakso dekat rumah:p

Untungnya, tetap untungnya… hasil nombok tadi dapat segera dikembalikan sehingga saya tenang menggunakan Certu. Kok saya, bukannya Mas Caroge yang butuh? Kesannya dia dapat lungsuran melulu, ya. Toshi saya serahkan karena lebih ringan untuk dibawa-bawa ketemu klien dan terus terang, kerja prosesornya lebih cepat sehingga mengurangi stres. Biar saya saja yang beradaptasi lagi. Demikianlah.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)