Bukan rahasia lagi bahwa menerjemahkan dan menyunting (baik terjemahan maupun lokal) merupakan simbiosis mutualisme dalam kepenulisan. Apa pun formatnya, tidak mesti buku. Saya pribadi merasakan pengaruhnya ketika menulis blog dan artikel. Rincinya, saya tidak bisa menjabarkan karena tak mampu menilai diri sendiri:)

Tidak perlu diulangi pula, betapa besar minat saya terhadap genre thriller dan horor. Genre yang sampai sekarang masih sedikit mendapat tempat di hati pembaca Indonesia, dengan beragam alasan. Itulah sebabnya saya menyebut diri “penulis ‘jalan sunyi'”. Ketika Dia Kembali membuktikannya, juga 101 Cerita Bijak Korea yang mengandung sekian persen kisah bernuansa horor.

Saya tidak seterampil teman-teman lain yang mudah beradaptasi dengan aneka genre, menulis komedi bisa, romansa bisa, buku anak-anak jago, dan sebagainya. Maaf, ini bukan mengeluh. Kalau boleh berargumen sedikit, di dunia ini harus ada yang menyukai genre ‘tidak populer’ tersebut kendati saya tidak menutup diri membaca dan menikmati buku-buku selain thriller dan horor.

Setelah blogwalking pagi ini, saya bersyukur sekali dibimbing Tuhan menerjuni profesi penerjemah dan editor. Dalam kategori terjemahan, thriller pun tidak bisa dikatakan banyak penggemarnya. Berbanding terbalik dengan penonton film horor (lokal pun), maafkan saya karena menyamaratakan. Penerbit mungkin terpaksa menyamarkan unsur horor dan thriller tersebut, seperti halnya kemasan sang penulis, dengan tidak menyajikan kedua genre itu sebagai menu utama. Tak pelak, apa yang digolongkan seram (demikianlah identiknya thriller dan horor ini di mata banyak orang) juga berbeda-beda. Misal, saya pernah mengelompokkan novel Century dalam genre horor, sedangkan bagi penerjemahnya, Mbak Poppy, itu fantasi remaja belaka. Mungkin saking jarangnya fiksi horor di jagat perbukuan Indonesia. saya jadi ‘mengada-ada’.

Catatan tak penting: Di tengah menulis, saya mengubah judul postingan ini:D

Namun kiranya ‘mengada-ada’ itu tadi menambah semangat dan motivasi saya bekerja. Saat ada adegan menegangkan sedikit saja, yang bahkan tidak penting dan sangat mungkin dilupakan pembaca kala terbit kelak, saya menganggapnya ‘horor’. Fantasi pun lebih berterima di imajinasi saya kala dihoror-hororkan (oleh saya sendiri). Ihwal menulis fiksi, bukan saya tak mencoba. Sudah berulang kali dan hasilnya selalu beraroma gelap, kendati tak selalu berbau pembunuhan atau kesadisan.

Ini sekadar ceracau dalam proses memahami diri sendiri:) Daripada kecewa, begitu.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)