Ini trik yang saya terapkan dalam gaya terjemahan pribadi, belum tentu sepaham dengan penerjemah lainnya.

  1. Boleh-boleh saja membaca buku puisi karya asli untuk mempermudah penghayatan, sekiranya ada yang senapas. Karena saya tidak terlalu mampu mencerna puisi, biasanya saya pilih puisi yang sederhana dan tidak terlalu bersayap sekadar menambah kosakata.
  2. Ada beberapa terjemahan puisi yang dapat ditengok, misalnya di blog ini.
  3. Tidak ada salahnya menulis puisi sederhana sendiri, yang singkat sekalipun, sebagai latihan. Biasanya saya baca-baca lagi terjemahan yang itu.
  4. Pastikan lebih dulu di Google (kalau ada judul puisi tersebut lebih baik lagi) kalau-kalau puisi/syairnya memang benar-benar ada. Jika ya, cari telaah mengenainya atau proses kreatif si penggubah untuk meraba maksud.
  5. Selalu berima. Sejauh ini saya belum pernah melihat puisi yang tidak berima dalam materi terjemahan. Untuk kesesuaian rima tersebut, saya rela ‘menabrak’ dalam arti menerjemahkan bebas asalkan tetap relevan dengan isi/makna keseluruhan, seperti contoh ini.
  6. Dalam puisi kanak-kanak seperti di situ, gunakan kosakata yang ringan dan mudah dimengerti. Sedangkan untuk dewasa, boleh mengobrak-abrik struktur secara dahsyat atau menggunakan diksi yang ‘langka’.
  7. Tidak perlu patuh pola rima. A-B-A-B bisa dijadikan A-A-B-B.

Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Kiat Menerjemahkan Puisi ”

  1. gravatar Linda Reply
    September 2nd, 2016

    A-B-A-B bisa jadi A-A-B-B? Ciyus?
    *merasa beban berat terangkat*

    • gravatar Rini Nurul Reply
      September 8th, 2016

      Iya, serius.

Leave a Reply

  • (not be published)