Satu fakta yang tak bisa dimungkiri dalam bidang ini: jam terbang berbanding lurus dengan besaran honor. Di penerbit-penerbit tertentu, ada editor yang menerapkan kebijakan bahwa seterkenal apa pun seorang penerjemah di luar sana (baca: di penerbit lain), sistem honor yang berlaku adalah ‘tarif perkenalan’. Disebut demikian karena jika kinerja memuaskan dari segala segi di mata sang editor, honor penerjemah tersebut akan mengalami peningkatan.

Ini sah-sah saja. Menurut cerita kebanyakan editor in house, hasil tes, sampel terjemahan dan kecemerlangan nama sang penerjemah (dengan kata lain: masyhur dan pernah menggarap buku-buku untuk penerbit besar) bukan jaminan. Harus diakui bahwa kapasitas penerjemah bisa naik-turun tergantung genre buku atau tingkat kesulitan yang dikerjakan, sehingga ada kalanya pengalaman yang telah lalu tidak bisa dijadikan tolok ukur.

Pada umumnya, penerbit memberlakukan sistem kenaikan bertahap kendati tidak dirinci dan disampaikan dalam pemberitahuan tertulis. Saya pernah mengalami (dalam tugas penyuntingan), tahu-tahu honor naik begitu mengecek transfer pada tanggal jatuh tempo. Menurut kolega penerjemah dan editor yang bekerja sama dengan penerbit tersebut, memang kenaikan akan merambat terus seiring dengan waktu. Sekadar info, saat itu adalah proyek ketiga saya, cukup sulit dan memakan berbulan-bulan untuk menyelesaikannya. Entahlah apakah komponen ‘kesukaran’ dan tempo yang panjang itu dijadikan pertimbangan oleh penerbit.

Cara meminta kenaikan akan lebih mudah jika kita sudah mengenal editor secara personal. Taruh kata, tidak hanya berkomunikasi kaku sebatas kapan SPK turun, tanggal honor, lalu buku sudah diterima dan semacam itu. Dalam suatu bincang-bincang ringan, saat editor sebuah penerbit hendak menawari saya pekerjaan lagi dan tenggatnya cukup ‘segera’, saya berkomentar santai, “Boleh minta naik, nggak?” Ia langsung menanggapi, “Nanti ya Mbak, sekitar 2 kali kerja lagi.” Ketahuanlah bahwa di sana, penerjemah bisa memperoleh kenaikan setelah menggarap 3 buku.

Bila aturan main tidak bisa diketahui dengan jelas, boleh-boleh saja mengajukan kenaikan meski baru mengerjakan satu buku, misalnya. Istilah lebih tepatnya adalah negosiasi. Contohnya kurang lebih seperti ini, dalam email:

Dear Mbak/Mas… (nama editor),

Bukunya menarik sekali dan saya berminat mengerjakannya. Mengingat topiknya cukup berat dan saya memerlukan riset khusus, kalau boleh saya ingin mengajukan fee (sebut sekian rupiah) per karakter.

Saya tunggu jawabannya. Terima kasih.

Hindari kata namun yang cenderung negatif, misal: Namun mengingat topiknya cukup berat…

Kata-kata tidak profesional yang bernada mengancam sangat tidak dianjurkan. Misalnya:

  • Jika permohonan saya tidak dipenuhi, silakan cari penerjemah lain saja.
  • Mohon diperhatikan permohonan kenaikan ini, sebab honor saya di penerbit lain sudah lebih tinggi lagi.

 

Bila permohonan tidak diterima, terserah Anda. Jika disetujui, pastikan kinerja kita meningkat sehingga klien tidak merasa rugi memenuhi permintaan tersebut. Baca ulang lebih dari satu kali, misalnya, guna meminimalisir kekeliruan. Hindari terlambat setor, bahkan jika memungkinkan, serahkan lebih awal dari tenggat. Satu hari pun menjadi catatan istimewa bagi editor. Otomatis, apabila performa kita prima dan menunjukkan perbaikan secara signifikan, tanpa meminta pun honor akan dinaikkan. Di samping itu, order juga mengalir terus.

Bocoran tambahan:

Dalam satu grup penerbitan, sistem honor antarlini/imprint bisa berlainan. Ada yang menetapkan per halaman, ada yang per karakter. Hati-hati menetapkan kisaran, sebab editor antarlini satu sama lain bisa mencari tahu jika di CV kita mencantumkan pernah bekerja sama dengan imprint yang masih satu ‘keluarga’ dengan tempat mereka bekerja.

Semoga bermanfaat, maaf bila ada bagian-bagian yang ngelantur.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

11 Responses to “ Kiat Mengajukan Kenaikan Honor Penerjemah Buku ”

  1. gravatar Dina Begum Reply
    December 15th, 2011

    Betul sekali. Apalagi kalau sudah mulai kewalahan kebanjiran order, mungkin ada baiknya mempertimbangkan minta kenaikan honor. Sebagai wirausaha,jangan takut untuk menghargai jerih payah kita dengan imbalan yang menurut kita sepadan. Tentu saja sambil memastikan kualitas pekerjaan juga tetap terjaga.

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      December 15th, 2011

      Dan sebaliknya, penerbit pun punya pertimbangan tersendiri yang perlu dimaklumi:)

  2. gravatar tezar Reply
    December 15th, 2011

    editor yang disebut, beda dengan editor buku ya teh?

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      December 15th, 2011

      Maksudnya yang diberi pengajuan di atas? Editor buku yang biasa kerja sama dengan kita, tentu saja.

  3. gravatar Uci Reply
    December 15th, 2011

    Thanks Rin 🙂 *sambil berharap ada yg nawarin kenaikan jadi gak perlu minta* hehehe

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      December 15th, 2011

      Aamiin, itulah yang kita semua harapkan, hihi. Sama-sama, Ci, thanks udah baca:D

  4. gravatar Linda B Reply
    December 15th, 2011

    payahnya…aku org yg paling tidak bisa berbasa-basi… (which is one of the most essential business tricks >.<)

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      December 15th, 2011

      Hmm, nggak wajib juga sih, Mbak.
      Ada editorku yang tidak sempat berbasa-basi:)
      Mungkin Mbak Linda lebih cakap berkomunikasi di darat?

      • gravatar Linda Reply
        December 16th, 2011

        hmm…lebih nyaman lewat online social networking sih…hehehe…

  5. gravatar Meggy Reply
    December 15th, 2011

    Wah, makasih banget kiat2nya mbak Rini 😀 Tapi kalau melamar ke imprint lain di grup penerbit yg sama, bagaimana caranya tidak mencantumkan nama penerbit dgn siapa kita pernah bekerja sama?
    Biasanya saya mencantumkan nama para penerbit itu justru utk menunjukkan pengalaman kerja.. Salah yah, mbak? *bingung*

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      December 15th, 2011

      Hehehe, nggak salah kok, Mbak. Maaf kalau mengesankan begitu. Maksudnya, dalam proses negosiasi, editor bisa menimbang dengan menanyakan honor terakhir kita di imprint tetangganya itu:)

Leave a Reply

  • (not be published)