Kerap terlintas di benak saya, bagaimana perasaan keluarga pelaku kriminal yang dijebloskan ke penjara? Saya pernah menonton beberapa film terkait ini, baca berita yang simpang siur, tapi jarang membaca secara detail di buku yang terkemukakan secara realistis. Tapi bukan nonfiksi.

Rasa penasaran itu terjawab ketika saya menerima tawaran mengedit novel drama thriller ini. Dari sekian banyak cabang genre thriller, menurut saya dramalah yang paling mencekam secara psikologis. Heather Gudenkauf memberikan lebih daripada yang saya harapkan, dari segi penceritaan, penokohan, dan seterusnya. Berkat bantuan Sinta, saya bisa memperkuat riset dengan membaca karya Heather sebelum ini, The Weight of Silence. Maklum, buku terbitan lama dan sulit ditemukan. Namun bukan berarti These Things Hidden mirip dengan cerita satu itu. Heather sangat pandai memberi kejutan, layaknya penulis thriller yang bermutu.

Penghayatan terasa mudah karena TTH menggunakan sudut pandang “aku”, meski penuturnya bergantian tiap bab. Ini jenis gaya yang menuntut konsentrasi sekaligus saya sukai. Begitu pula plot maju-mundurnya. Bila ingin mengikuti pola pikir pengarang, mungkin saya akan bikin semacam peta alur. Tapi saya memilih duduk sebagai pembaca dan menikmatinya, sembari menyunting tentu saja. Sinopsis dan uraian beberapa alinea yang menggedor perasaan menarik saya semakin terhanyut sehingga kadang harus “bangun” dan lebih mencermati lagi kalimat-kalimat yang harus diperiksa.

thesethings

Beberapa poin penyuntingan yang saya camkan sependek pengetahuan saya akan novel jenis ini:

  1. Untuk memperlancar pembaca, sebaiknya tokoh ber-POV “aku” tidak menggunakan kata kerja berawalan “me”.
  2. Dialog diusahakan senatural dan seringkas mungkin, kecuali konteks menuntut sebaliknya. Misalnya, “Siap keluar dari sini?”
  3. Kalimat yang sangat panjang boleh dipenggal sepanjang tidak mengubah maksud penulis.
  4. Menghindari pengulangan.

Heather menghadirkan karakter wanita sebagai tokoh utama secara proporsional, tidak jatuh terlalu sendu, tapi ketika suasananya emosional, sangat mengaduk-aduk perasaan. Saya tidak akan bercerita terlalu banyak karena khawatir jadi bocoran, ditambah pengalaman pribadi yang menjadikan saya termenung-menung di beberapa bab. Bagaimana sikap seseorang ketika mencoba kembali ke masyarakat, terutama keluarganya seusai dipenjara sekian tahun, mengingatkan saya pada film Shawshank Redemption kendati tokoh utama TTH masih relatif muda. Di tengah rasa ngilu dan trenyuh karena Allison dihukum akibat membunuh bayi kandungnya sendiri, beberapa anak tetangga bercerita melihat bayi terapung-apung di sungai. Heather merangkai semua itu dengan haru-biru persaudaraan kakak-adik sesama perempuan, kehamilan remaja, ekspektasi tinggi orangtua, rumah persinggahan, dan upaya adopsi.

Brynn berhenti mencabuti alis, tetapi menemukan cara lain untuk menghukum diri. Ia mengigiti kuku sampai habis, menggigit bagian dalam pipi, menggaruk serta mencongkeli luka dan koreng hingga bernanah.

Aku menangis karena kakak yang kusayangi tampaknya tak menginginkanku lagi. Ia meninggalkanku tanpa menoleh sekali pun.

Saya juga dilibatkan dalam penulisan materi sinopsis yang diolah Mei selaku PJ. Kemudian mengonsep desain sampul, yang saya buat dengan sketsa kasar. Jiwanyalah yang ditangkap untuk sampul final, yaitu air sungai sebagai elemen terkuat dalam cerita. Saya sendiri tak terpikir akan dominan warna biru yang begitu indah dan mewakili dramanya:)

Pendek kata, saya bersyukur sekali dipercaya menyunting novel ini. Benar-benar pengalaman berharga yang mengasyikkan.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)