Berikut ini informasi terkait tes penerjemah fiksi dari Mbak Tyas, editor fiksi Elexmedia (kini beliau sudah resign), atas izin beliau.

Catatan: kebijakan di penerbit lain belum tentu sama.

Hasil tes penerjemah dikelompokkan menjadi beberapa kelas:

1. Biasanya untuk hasil penerjemahan yang nyaris sempurna, artinya, secara makna tidak meleset, dari segi tata bahasa juga minim kesalahan dan khusus untuk novel, bahasanya juga mengalir, pilihan diksinya variatif sehingga enak dibaca.

2. Kelas kedua ini berisi hasil tes yang secara makna sudah benar, namun dari segi tata bahasa masih ‘lumayan’ amburadul atau pilihan diksinya masih terbatas sehingga ketika membaca, pembaca ketemu kata itu lagi itu lagi. Dalam penerjemahan teknis atau buku pegangan, mungkin ketepatan istilah menjadi keharusan, tetapi dalam menerjemahkan novel, diksi harus bervariasi. Satu maksud bisa saja diungkapkan dengan beragam cara.

3. Kelas ketiga ini biasanya yang secara tata bahasa Indonesia bagus, tetapi penerjemahannya sendiri kacau, jauh dari maksud penulis aslinya.
Kadang-kadang ada juga yang menambah-nambahi kalimat atau bahkan mengarang bebas. Kesalahan seperti ini kami anggap lebih susah diperbaiki dibandingkan dengan kelas yang kedua. Sekalipun demikian, datanya tetap kita simpan. Mengapa? Siapa tahu tidak bisa menjadi penerjemah, bisa menjadi editor bahasa atau korektor.

4. Nah, yang keempat ini yang paling parah, dari segi makna jauh dari aslinya, dari segi tata bahasa Indonesia juga amburadul.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)