Itu pertanyaan mbakyu ipar saya ketika melihat saya mengedit dengan netbook beberapa waktu lalu. Padahal saya sedang nyengir melihat typo akibat jari buntet yang tidak pas di keyboard rapat kecil-kecil.

Ini beberapa kebiasaan saya yang mungkin menjadi penyebabnya:

1. Tidak suka begadang. Belum tentu setahun sekali saya baca sampai mengorbankan tidur.

2. Kerja selalu di-zoom, minimal 150%. Plus dua spasi, huruf Verdana 12.

3. Jarang pakai netbook kecuali terpaksa. Beberapa bulan menggunakannya, mata saya sakit dan sering pening. Begitu, deh.

4. Huruf di ponsel dibesarkan maksimal biar nyaman. Sebisa mungkin baca SMS sambil duduk dan penerangan cukup, supaya tidak salah balas juga.

5. Minum jus wortel.

6. Tidak pernah baca SMS/buku di kendaraan yang sedang berjalan.

7. Jarang nonton TV. Kalau mati listrik saja, saya ‘menyerah’ baca kecuali masih siang. Makanya heran dengan yang bela-belain nonton TV sambil tiduran, lalu lampunya dipadamkan. Kelap-kelip dari layar itu bikin pusing.

8. Bila berada di tempat yang segar, apalagi hijau-hijau seperti di foto di atas, saya memilih memanjakan penglihatan sepuas-puasnya:)

9. Mengingat-ingat obat tetes yang pedih bukan kepalang dan pengalaman dengan juru rawat di ruang periksa dokter mata yang… ehm… galak. Peace, Suster.

Tapi masih ada kebiasaan jelek saya:

1. Baca buku sambil tiduran.

2. Lupa berkedip atau senam mata.

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)