Bersama Mbak Esti, editor Qanita. Sering kali waktu kami bertemu, beliau sedang flu. Tapi Mbak Esti-nya nggak ngeh:D

Bersama Mbak Esti, editor Qanita. Sering kali waktu ketemu, beliau sedang flu.

Tapi Mbak Esti-nya nggak ngeh:D

Sebenarnya ini lanjutan postingan sangat lama. Beberapa waktu lalu Bhai Benny Rhamdani, Chief Editor Mizan, menyarankan di twitter-nya agar penulis rajin “stalk” TL para editor. Beliau setengah berseloroh (tapi benar), kalau editornya sedang galau, alangkah baiknya jangan ditanya-tanya soal naskah dan sebagainya.

Penerjemah dan editor lepas pun perlu menerapkan itu. Stalk dalam konotasi positif, ibarat suatu ucapan bijak “bertanya untuk mendengarkan, bukan bertanya untuk berkomentar.” Mungkin klise kedengarannya, namun editor in house pun manusia. Komunikasi personal, jika memungkinkan dan telah cukup akrab, akan menciptakan saling pengertian.

Menjelang pameran, contohnya, editor biasanya kalang-kabut. Ada buku jagoan yang mesti selesai tepat waktu agar dapat diluncurkan pada salah satu hari pameran itu. Atau menyelenggarakan talkshow yang berarti menghubungi narasumber (lebih dari satu berarti koordinasinya lebih panjang), adakalanya menjadi MC sekaligus. Untuk mengadakan gathering dan peluncuran “biasa” pun, tak jarang editor harus lembur selaku persiapan hajatan. Menghadiri acaranya berarti tidak berlibur akhir pekan.

rini_ayuEmpat tahun lalu, bersama Nyonya Editor In HouseūüėÄ

Sama halnya sewaktu ada festival sastra atau kepenulisan tahunan. Lantaran pengarang kelas internasional hendak datang, gedebak-gedebuk satu tim menyelesaikan penerbitan buku (otomatis terjemahannya juga). Target-target lain ada yang bisa ditunda, ada yang tetap harus diangsur. Bisa dibayangkan jika Anda menjadi editor bersangkutan, sudah menyunat jatah tidur, kemudian pada detik-detik terakhir sang pengarang berhalangan hadir.

solo

 

Andar (tengah), yang pertama kali mengeditori saya selaku penerjemah lepas penuh. Dhyan (kanan) menghubungi saya ketika membutuhkan penerjemah bahasa Prancis tapi ternyata dia sudah mau mengundurkan diri:D

Itu seputar pekerjaan, bagaimana dengan urusan domestik dan personal? Dipamiti editor suatu tahun untuk cuti melahirkan buat saya berarti dua hal: jangan mengganggu dengan SMS-SMS selama kurun waktu tertentu dan bersiap untuk kemungkinan beliau tidak kembali ngantor. Saya harus siap “beradaptasi” dengan editor penggantinya. Dari sedikit pengamatan dan ngobrol-ngobrol (kadang dengan editor lain), bisa diketahui bahwa sang editor tengah kelabakan karena rekan sedivisinya mengundurkan diri, orangtuanya masuk rumah sakit, asisten rumah tangga berhenti dan beliau kesulitan memperoleh yang baru, dan seterusnya dan seterusnya.

gusdin

Mas Agus dan calon editor cilik:D

Kok kesannya menderita susah terus sih? Tidak juga. Apabila mereka sedang ikut kegiatan outbound dari kantor ke tempat menyenangkan atau cuti sekian hari untuk liburan, tetap saja saya harus berusaha tidak mengganggu. Sangat wajar apabila ada editor yang tidak memberitahukan nomor ponsel meski kami sudah bekerja sama bertahun-tahun.

Sewaktu saya sakit atau ada halangan sehingga tenggat terpaksa mundur, saya berharap dimengerti. Mestinya tidak susah untuk bersikap sama kepada para editor tersebut.

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)