Setahun lalu, saya membaca postingan beberapa kontak di media sosial ihwal terungkapnya sosok Enid Blyton sebagai pribadi. Sebagaimana dituturkan dalam berita satu ini, pengarang yang menduduki peringkat ke-6 penulis yang karyanya paling banyak diterjemahkan di dunia tersebut merupakan ibu yang buruk. Itu berasal dari pernyataan satu-satunya putri Enid Blyton yang masih hidup. Bertolak belakang dengan cerita-ceritanya yang “moralis”, demikian sebutan beberapa orang.

Saya terguncang bukan karena keterkuakan itu, melainkan komentar-komentar penuh kecaman yang terlontar atas sang penulis. Saya tidak membenarkan tindakan bunuh diri seperti yang dilakukan Virginia Woolf dan Sylvia Plath, namun merasa tidak patut pula langsung mengatai macam-macam atas berita yang mungkin saja mengandung keberpihakan atau menjual kontroversi.

Sebut saya penggemar yang defensif. Cukup lama terguncang, saya mengobrolkannya dengan seorang kawan baik. Bukan kebetulan, kawan tersebut sudah menonton biopic Enid Blyton besutan BBC. Sepertinya yang dibintangi Helene Bonham Carter ini. Saya berusaha mencari-cari, namun belum berhasil. Mungkin upaya saya kurang keras.

Pagi ini, saya sempatkan mengorek-ngorek Google dan menemukan kisah pendukung yang dipaparkan kawan baik tadi. Menurut beliau, Enid Blyton menjadi pribadi yang demikian ada sebabnya. Berikut nukilan artikel yang saya peroleh,

Many of her authorial obsessions can be traced to her father, who left her mother when Enid was 12. She effectively seized up, physically. Later when she consulted a gynaecologist about her failure to conceive, she was diagnosed as having an “immature uterus”.

Rasanya wajar, kalau hati saya ikut sakit.

Di artikel lain, dipertegas trauma yang dialami Enid semasa remajanya.

Blyton’s brother Hanly has previously described the distressing impact of the fights, saying: “Enid and I used to stop at the top of the stairs with our arms around each other, crying and listening to all that was going on.”

Dengan kondisi psikologis dan latar belakang keluarga yang demikian, masuk akal apabila Enid Blyton sukar hadir selaku potret ibu ideal bagi anak-anaknya. Saya teringat Pearl of China yang ditulis Anchee Min, betapa Pearl S. Buck dicemooh suami sendiri tatkala berusaha berkarya. Demikian pula novel buah pena Mbak Triani Retno belum lama ini, Ibuku Tak Menyimpan Surga di Telapak Kakinya. Keresahan dan potret kelam Enid Blyton tersirat dalam karya-karyanya, menurut saya. Sosok remaja yang kadang memberontak, anak-anak yang dikasari orangtua angkat sehingga melarikan diri (Rumah Pohon di Tengah Hutan), ibu yang egois dan suka menghardik anak-anak (Rumah Beratap Merah), belum lagi sejumlah karakter familier di Seri Malory Towers. Indikator terang bahwa kehidupan anak dan remaja tidak selalu ceria, hanya saja baru belakangan diketahui keterkaitannya dengan penulis sendiri.

Kendati tiap karya mencerminkan pendapat penulis atau pesan yang ingin disampaikannya secara implisit atau eksplisit, alangkah baiknya pembaca berhenti menaruh ekspektasi tinggi terhadap penulis dari segi personal dan menganggap mereka “sempurna”.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.