Ini dari latihan menerjemahkan tahun 2009. Saat itu stamina saya masih bagus (baca: relatif kuat begadang) dan waktu luang pun relatif lebih banyak. Teks aslinya sudah tak ada, jadi saya menerka-nerka saja sambil menilai seadanya.

‘…dan aku terjaga, mendapati seekor ular perlahan menegakkan tulang belakang, menelan dengan rahangnya yang patah.’ – Bagaimana cara menelan kalau rahang patah?:D

Aku tengah berbaring di atas kasur angin terapung yang mengurangi gesekan dan membantu penyembuhan.

Pembalutku berkibar-kibar pelan di udara sekitar kepala.-> Agar tidak ambigu, lebih pas jika pembalut diganti perban. Konteksnya si tokoh utama tengah luka parah.

Yang ini membuat saya tersenyum-senyum saja:

Jilat dan endus, tes tes tes obat merembes, sss sss sss kata si ular.

Ternyata menengok ke belakang ada gunanya juga, bukan sekadar nostalgia:)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)