Bulan Mei yang sesak tanggal merah

Judul di atas adalah peribahasa Sunda yang artinya “mudah tergiur makanan orang lain”.

Saya pernah mengalami seperti Reita dan saya tulis juga. Bukan karena jenuh genre, karena kebanyakan klien tahu saya penerjemah dan editor generalis. Semata ingin menambah pengalaman dan memperluas jaringan relasi saja, sambil menantang diri sendiri (gayanya:p).

Yang namanya tergoda, sangat lumrah terjadi pada pekerja lepas umumnya. Terutama di “musim buka lowongan”. Kadang terlintas pertanyaan tidak penting, “Penerjemah mereka yang biasanya pada ke mana?” Tapi saya pikir, editor dan penerbit pun punya kewenangan memperluas jaringan relasi pekerja lepasnya. Ada yang karena merambah genre baru, buka imprint, bahkan ganti manajemen.

Dengan dorongan pikiran (baca: nafsu) manusia yang tidak pernah puas, adakalanya saya berpikir, “Kan boleh-boleh saja nyoba, yang penting jujur baru kosong bulan sekian. Terus, kalau mereka mau nunggu, bisa tenang menyusun antrean.” Kayaknya keren, gitu, jika sampai akhir tahun jadwal sudah penuh.

Kenyataannya, sering kali penerbit tak bisa menunggu. Jadwal produksi tidak memungkinkan. Dan ini sah-sah saja. Saya senang menyunting/menerjemahkan buku yang mengejar momen, ini berarti akan cepat terbit. Tapi kalau harus sering-sering, saraf saya nggak sanggup:))

Jadi yang saya lakukan adalah menerapkan “Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau, karena rumput di halaman kita merah atau kuning.” Saya tatapi proyek-proyek di tangan dan di depan mata, mengingat lagi sisi-sisi serunya. Harus diakui, dinanti proyek berikut bisa memicu semangat mengerjakan yang ada. Tapi kalau salah kelola, jatuhnya jadi terburu-buru doang sedangkan sependek pengalaman saya, namanya tergesa itu lebih capek lahir batin daripada kecepatan standar.

Masalah rumput merah dan kuning itu, saya berkata pada diri sendiri, “Yang ini kan saya yang minta ke editornya. Asyik juga kok. Belum tentu semua penerjemah/editor dapat kemudahan seperti itu.” Atau “Kalau yang ini terbit, bisa cerita-cerita ke saudara yang suka baca topik sejenis.” Alhamdulillah, sejauh ini selalu berhasil menyadari bahwa pekerjaan saya jauh dari membosankan.

Apa pasal? Yang berjudul godaan tadi pasti selalu ada. Entah pekerja buku yang berpengalaman berapa tahun mampu menolak tawaran dengan seikhlas-ikhlasnya. Maksudnya tanpa diam-diam bilang, “Duuh sebenarnya aku pingin deh… itu kan cita-citaku…” seperti yang saya alami sekian tahun lalu saat menolak tawaran menjadi editor kamus di suatu penerbitan besar. Mari, saya ceritakan dulu satu peristiwa.

Waktu itu, saya ditawari menerjemahkan buku anak-anak berbahasa Prancis. Menggiurkan banget dong, untuk sering-sering “kembali ke jalan lurus”. Tapi saya hafal kebiasaan penerbit ini, biasanya butuh segera. Saya masih harus mengerjakan sesuatu (lupa, karena sudah lama kejadiannya). Penerbit berterima kasih atas keterusterangan saya. Saya yakin kalimat “Semoga lain kali kita bisa bekerja sama” adalah doa.

Setelah pekerjaan yang dimaksud selesai, saya dihubungi penerbit lain. Berbeda dengan yang tadi. Memang bukan buku Prancis yang ditawarkan, tapi tema yang tak kalah menariknya. Tidak rugi kan, sudah “setia” pada jadwal? Tak jarang setelah mengerjakan yang sebelumnya, penerbit yang sama mengorder lagi. Jenis buku yang langsung saya jawab, “Mau banget.” Misalnya novel horor, atau genre lain tapi penulis dan/atau penerjemahnya termasuk favorit saya.

Rem paling kuat untuk tidak kabitaan memang kesadaran akan kondisi badan dan kemampuan manajemen energi. Pinjam istilah Mas Agus, “Endurance-nya sudah menurun.” Dia juga yang secara main-main mengingatkan, “Deu… istriku sibuk nih…”


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)