killing

Untuk menjawab pertanyaan pembaca kesekian kalinya, saya tidak tahu mengapa seri Charlie Parker ini tidak diterbitkan berurutan. Saya juga tidak tahu apakah penerjemahannya berurutan atau tidak. Yang terang, ketika tugas menyunting buku ini (yang keberapa ya? Nggak cari tahu juga:p) sampai ke meja saya, rasanya girang banget. Sekitar sekian bulan sebelumnya saya tak sengaja membaca Twitter penerjemahnya yang mengutip salah satu kalimat… saya menebak-nebak saja itu thriller dan berharap akan diserahi naskah tersebut. Alhamdulillah.

 

Sulit mengukur kadar horor dalam karya-karya Connolly, mana yang paling seram, mana yang tidak terlalu ngeri dan sebagainya. Buat saya, dia sangat konsisten dalam ciri khas itu. Termasuk elemen puitisnya, yang bisa dibaca di prolog.

Agaknya itu teknik istimewa Connolly agar pembaca dapat menikmati keseluruhan kisahnya yang mencekam dan terhanyut dalam segi-segi drama pula. Saya sendiri tersedot dan merenung menyimak terjemahannya:

Masa lalu tak pernah benar-benar mati. Hal itu ada di sana, menunggu, tak seberapa jauh di bawah permukaan masa kini. Sesekali kita tersandung, kita semua, lewat kenangan dan ingatan. Kita tergerak memikirkan para mantan kekasih, anak-anak yang hilang, orangtua yang telah pergi, keajaiban satu hari tatkala kita merengkuh, meski sekejap, keindahan dunia yang tak terlukiskan dan begitu cepat berlalu. Semua itu adalah memori kita. Kita mendekapnya erat-erat dan menyatakannya sebagai milik kita, yang dapat dipanggil saat membutuhkannya.

Beberapa halaman kemudian, dengan lihainya sang pengarang menghadirkan horor lewat serangga yang lumayan sering membuat orang takut.

Namun kehancuran tubuh Alison tersembunyi oleh serpihan-serpihan jaring yang melingkupinya dalam cadar putih compang-camping, wajahnya nyaris tertutup di balik kantong-kantong benang yang padat. Di sekeliling jasad perempuan itu, gerombolan laba-laba cokelat kecil bergerak dengan kaki-kaki terentang, palpus mereka berkedut selagi merasakan perubahan di udara; yang lainnya tetap berkerumun dalam ceruk-ceruk gelap, kantong-kantong telur jingga bergelantung di samping mereka seperti setandan buah beracun. Kulit ari serangga-serangga yang telah dikuras bertebaran pada perangkap, diselingi sejumlah bangkai laba-laba yang dimangsa sesama.

Walaupun rada ngilu, saya mujur karena tengah membaca literatur fauna untuk keperluan penyuntingan buku lain. Membayangkan dan meresapi cerita jadi lebih mudah.

Seperti biasa, John Connolly menjawab e-mail saya dengan ramah. Saya juga suka banget cover edisi Indonesia karya Mas Iwan Mangopang.

kkjohn

Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)