Hampir semua buku nonfiksi yang saya terjemahkan dilengkapi daftar isi. Seperti buku fiksi, menata daftar isi relatif tidak repot karena tinggal menyamakan dengan judul setiap bab. Namun karena menyangkut ketelitian, tentu saja langkah ini memakan waktu padahal biasanya dilakukan paling akhir dan tenaga sudah tinggal sisa-sisa. Efektifnya, judul masing-masing bab diterjemahkan lebih dulu kemudian dimasukkan ke daftar isi setelah disunting.

Bagaimana kalau daftar isinya banyak dan tidak berurutan? Beberapa kali saya menghadapi buku nonfiksi yang terdiri atas sejumlah tulisan singkat seperti yang satu ini. Daftar isinya menjadi puluhan judul, bahkan ratusan, dan dikelompokkan sesuai topik. Karena berupa subjudul, konten daftar isi ini lebih panjang-panjang ketimbang buku pada umumnya.

  • Langkah pertama: luangkan waktu khusus, sedapat mungkin satu hari penuh dengan mata yang segar. Pembenahan daftar isi tetap dilakukan terakhir, seusai mengedit keseluruhan teks.
  • Usahakan tidak ada yang berubah lagi. Ini sukar, tapi sebaiknya diminimalisasi. Paling tidak, upayakan agar istilah yang sering muncul sudah “final” dan benar. Sebab bila satu kata ini saja diganti, bisa jadi kita harus mondar-mandir dengan Ctrl+F ke sekujur naskah. Yang saya alami, ini sangat membutuhkan waktu meskipun naskahnya “hanya” seratusan halaman.
  • Ketik daftar isi di dokumen terpisah untuk memudahkan pengecekan. Letakkan buku asli dekat-dekat. Apabila materinya berupa buku asli, fotokopi bagian daftar isi itu saja agar dapat dicentang ketika dicocokkan.
  • Hafalkan “kata kunci” dan “kata kunci tambahan”. Karena sudah menerjemahkan dan memoles isi, berarti setidaknya kita sudah membaca dua kali. Kata kunci yang saya maksud mempermudah kita mengingat bahasan yang sering muncul. Misalnya di satu tulisan singkat membahas paus, artinya ada kata kunci “paus”. Jika paus dibahas lebih dari satu kali, kata kunci tambahan itu adalah “paus biru”, “bayi paus”, dan “hiu paus” sesuai inti teksnya. Bila bukan didasarkan jenis, bisa juga merujuk topik tulisan. Contoh untuk kata kunci “kucing”, saya menghafalkan “kumis kucing” dan “kucing mendengkur”. Kalau perlu, tulis tangan di kertas dan simpan di sebelah komputer.
  • Mulai mengetik daftar isi dengan acuan keseluruhan teks. Tentu saja, modal kita adalah ingatan, catatan, dan Ctrl+F. Ikuti urutan yang diacak, bukan urutan naskah yang biasanya dinomori. Akan sangat merepotkan jika kita ketik dulu sesuai urutan bernomor di konten naskah, kemudian diacak sesuai urutan daftar isi. Contoh:

[sws_yellow_box box_size=”100″] Di daftar isi asli “Pourquoi il y a des maladies?”

Saya cari di naskah terjemahan (karena dokumennya terpisah tadi) “penyakit”. Lalu sampailah di subjudul “Mengapa ada penyakit?”

Blok kalimat itu, Ctrl+C, kemudian Ctrl+V di bab daftar isi. Dan selanjutnya. [/sws_yellow_box]

  • Setelah selesai, cocokkan jumlah daftar isi yang diacak ini dengan subjudul di naskah. Misalnya ada 250 subjudul. Nomori daftar isi dengan format Numbering “Continue Numbering” (di Word 2007) supaya mudah meski telah diklasifikasikan. Bila ternyata sudah lengkap, hapus nomor-nomor tadi (Ctrl+A, klik Numbering di toolbar).
  • Langkah terpenting: jangan sampai lupa menggabungkan daftar isi dengan keseluruhan konten naskah. Dengan begitu, cukup setor satu file saja.

Ada metode lain yang saya coba ketika menyunting lanjutan buku sejenis belum lama ini. Mengecek daftar isi menggunakan monitor ganda tidak terlalu efektif, sebab harus sering pindah-pindah kursor. Saya print dulu daftar isinya, sekitar 14 halaman. Kemudian file naskah terjemahan yang sudah digabungkan dicek poin per poin. Terlebih dulu, saya nomori daftar isi di laptop untuk memastikan tidak ada yang ketinggalan. Jadi kalau ada teks/kalimat yang tidak ditemukan, tinggal disinkronkan saja.

Bukan berarti tidak repot memang. Kadang kalimat di daftar isi lebih efektif dan cair daripada yang di badan naskah, kadang sebaliknya. Jadi bergantian mana yang diperbaiki. Keuntungannya, terjemahan yang terlewat dikoreksi bisa ditemukan. Sekalian cek ulang untuk kesekian kalinya, walau melelahkan sebab ini sudah tahap penyelesaian. Tapi begitulah, ibarat luka yang hampir sembuh dan terasa gatal. Jika diabaikan, rasanya tidak enak hati.

daftar isi

Berkas cetak tadi dijajarkan seperti foto di atas, mirip salinan skripsi di fotokopian menjelang sidang sesuai klasifikasi supaya tidak bingung ngubek-ngubek. Lembaran yang sudah diperiksa ditaruh terpisah (agak jauh) supaya tidak memenuhi meja dan memberi kesan tumpukan yang mengintimidasi. Tiap subtopik bisa panjang, bisa juga hanya satu setengah halaman (entah berapa artikel, saya tidak menghitung). Contohnya, di daftar isi buku yang saya tangani ada Penemuan dan Bumi yang kadang-kadang hampir sama. Karena itulah setelah lembaran pertama selesai, yang selanjutnya juga ditulisi. Menyusunnya kembali pun lebih mudah.

Untungnya, bila topik sejarah baru pertama kali dibahas, di subtopik daftar isi pun muncul pertama. Mungkin juga karena sudah buku ketiga, jadi saya lumayan hafal. Hanya satu-dua kali perlu mengecek di buku aslinya, mana yang dimaksud ketika kalimat daftar isi dan judul di badan naskah masing sangat berbeda.

Setelah itu, koreksi di daftar isi yang ditulis tangan barulah diketik. Gabungkan lagi daftar isi dengan naskah selebihnya, kemudian kirim ke editor penanggung jawab. Saya tidak ingat mana yang lebih cepat sebab penanganan buku pertama sudah dua tahun lalu, tapi teknik cetak ini lebih nyaman untuk mata dan sekalian olahraga ringan (baca: gerak tangan). Jadinya tidak bosan juga, karena saya akui suka mendengar keresak kertas dan membolak-baliknya:)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)