Dalam makalah berjudul Penerjemahan Buku Sebagai Peluang Karier, Pak Hendarto Setiadi (penerjemah buku senior yang juga putra almarhum Agus Setiadi, penerjemah kampiun di masanya) menyampaikan:

Bagaimana dengan penerjemah yang jago berbahasa sasaran tetapi kurang jago berbahasa sumber? Wah, ini tipe penerjemah yang ‘berbahaya’. Ia mungkin saja keliru menangkap naskah asli, namun berkat kepiawaiannya dalam bahasa sasaran tetap mampu menghadirkan naskah yang mengalir dan enak dibaca. Seorang penyunting kenalan saya pernah mengomentari penerjemah seperti ini: “Terjemahannya lancar, tapi sayangnya tidak sesuai dengan cerita aslinya. Mungkin lebih baik apabila penerjemah ini beralih menjadi penulis saja.”

Mengenai ketidaksesuaian tersebut, sependek pengalaman saya, biasanya berupa “imajinasi” alias penerjemahan yang terlalu bebas. Dengan kata lain, penerjemah menambahkan kata-kata yang tidak ada di karya aslinya. Semisal arti sebenarnya cukup “mengetuk pintu” menjadi “mengetuk pintu berulang kali sampai dibuka”.

Adakalanya orang yang sudah terjun menjadi editor ternyata lebih cocok menjadi penerjemah. Berdasarkan keterangan seorang kolega, ini terjadi kala editor bersangkutan sangat terdorong mengubah semua diksi dan menyamakan hasil terjemahan yang sudah pas dengan gayanya sendiri. Bukan karena terjemahan melenceng, kurang tepat, atau gayanya belum sesuai dengan napas cerita atau pengarang. Semata karena dia lebih sreg dengan gaya pribadi tanpa mengacu pada selingkung. Karena pakemnya sudah terlalu “khas”, sebaiknya dia menjadi penerjemah saja.

Ihwal editor buku terjemahan, bukan berarti dia tidak mampu menjadi penerjemah. Ini telah diungkapkan Lulu dalam salah satu postingannya. Pemahaman bahasa dalam kadar berbeda-beda menjadi faktor, ditambah keinginan pribadi. Contohnya, suami saya. Sesekali editor diharuskan menerjemahkan ulang dan ini diamini hampir semua editor. Karena merasa itu di luar kapasitasnya, suami memilih mengembalikan naskah pada penerbit kemudian editor PIC mengganti dengan tugas lain. Saya pribadi tidak keberatan menerjemahkan ulang asalkan tidak sampai sebuku penuh (maksimal sekitar 75%). Pasalnya, kalau seratus persen, energi dan waktu yang dikerahkan setara dengan menyunting “normal” lebih dari satu naskah.

Banyak editor yang merangkap penerjemah, tentu karena sanggup menarik batas antara keduanya.

Yang belum bisa saya pahami hingga sekarang, sekaligus kagum, yakni insting dan penilaian editor in house atas kompetensi penerjemah dan editor lepas yang cocok menangani naskah fiksi atau nonfiksi saja.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

3 Responses to “ Lebih Cocok Menjadi Editor Atau Penerjemah? ”

  1. gravatar Femmy Reply
    January 13th, 2013

    Saya lebih cocok menjadi penerjemah 🙂

  2. gravatar Nadiah Alwi Reply
    December 20th, 2013

    Aku lebih suka jadi penerjemah. 🙂

    Thanks for sharing, ya.

    • gravatar Rini Nurul Reply
      December 26th, 2013

      Thanks for reading:)

Leave a Reply

  • (not be published)