Let the Right One In

Penulis: John Ajvide Lindvist

Penerjemah: Tanti Lesmana

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2011

Saya tertantang membaca buku ini sampai selesai karena Mas Agus sudah merampungkan lebih dulu dan menyatakan suka. Mungkin selain ketahanan mentalnya akan buku-buku sadis (perlukah disebut hardcore?), Mas Agus juga lebih menyukai kisah vampir.

Terus terang, membaca buku ini butuh perjuangan. Total tujuh bulan sejak memulai. Jangan sambil makan, jangan menjelang tidur malam hari, tidur siang sebaiknya pun tidak karena bukannya lelap malah melek terus karena penasaran ditambah rada-rada merinding lantaran gelap di sekitar seperti waktu saya menulis kesan ini.

Dalam profil penulisnya di Wikipedia, Let The Right One In digolongkan berbau romantis. Menurut saya sih, tidak. Penuh kesedihan, bullying yang menjengkelkan, serta persahabatan makhluk dua dunia, itu benar. Setidaknya dua hal baru saya ketahui soal pervampiran:

1. Kalau manusia yang diisap sedang sakit parah, rasa darahnya tidak enak. Atau bau.
2. Vampir hanya bisa masuk kalau diundang/diizinkan manusia bersangkutan.

Saya banyak memperoleh kosakata relatif baru seputar onomatope, misalnya ‘mengeprukkan ranting’ dan ‘menceklak-ceklik’.

Endingnya bagus.

Skor: 3/5

sumber gambar: goodreads.com


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)