Definisi TFD:

If you cannot recall the precise word for something, you have a case of lethologica, which may lead you to an obsession with trying to recall it—loganamnosis.

 

Saya sendiri sering mengalami ini. Penyebabnya, paduan pikun dan kurang membaca (kamus). Dalam kehidupan sehari-hari, ada yang lebih kerap lagi mengalaminya. Misalnya, keponakan saya yang cenderung terbiasa berbahasa Jawa dengan siapa pun di mana pun. Ketika kuliah di luar kota, semakin sulit dia berbahasa Indonesia kecuali kata-kata pendek dan sederhana yang sering digunakan. Pasalnya, lingkungan kampus dan kosnya pun 99% orang Jawa.

Konon, ini disebut monolingualisme. Saya tidak ingin mengaitkannya dengan penyakit atau hal menakutkan lain, semata karena kebiasaan saja. Ketika hendak menulis ini pun, saya terantuk satu bahasan bahwa bahasa Indonesia termasuk yang sukar dipelajari.

Alkisah, seorang teman berkecenderungan monolingualisme meski tidak kronis. Dia mampu berbahasa Indonesia, mampu pula berbahasa asing karena pernah tinggal di suatu negara selama beberapa tahun. Lumrah saja jika bahasa asingnya luntur kembali perlahan-lahan sepulang ke Indonesia. Seperti keponakan saya di atas, teman ini lebih fasih berkomunikasi dalam bahasa Jawa. Saya masih sepakat dengan pendapat Handrawan Nadesul dalam buku itu, ihwal sulitnya memadankan bahasa daerah dengan bahasa Indonesia yang pas.

Ini jadi kendala kecil ketika lethologica-nya “kambuh” di tengah kerja. Teman saya tersebut menyunting naskah hasil terjemahan, dan otomatis memeriksa keterbacaan bahasa Indonesia serta diksinya. Suatu kali dia bertanya pada saya, “Rin, piring kecil untuk alas cangkir itu namanya apa ya?” Dia menyebutkan kata yang dia ketahui dalam bahasa Jawa. Tentu saja, kata yang terpikir oleh saya adalah versi Sundanya:p

“Tatakan,” saya menjawab. Kemudian teman ini bertanya lagi tentang kata bilangan/satuan untuk beberapa kunci yang dikumpulkan jadi satu. “Bahasa Jawanya ini… ” kembali dia menyebutkan. “Apa ya, sebuntel?” Saya cekikikan.

“Serenceng,” jawab saya.

“Oh, benar!” kata teman itu… setelah mencocokkan dengan KBBI:))

Semakin terbuktilah bahwa untuk menjadi penyunting dan penerjemah, penguasaan bahasa Indonesia tidak bisa disepelekan.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)