“Masya Allah, naik motor? Tapi motornya sudah sehat, kan?” demikian reaksi Mama ketika saya menelepon dan memberitahunya bahwa kami sedang istirahat di Malangbong, dalam perjalanan mudik pertengahan Mei lalu.

“Mama, kayak baru kali ini aja,” cengir saya. Sekitar tahun 2006, pertama kali saya ikut Mas Agus mudik pakai motor. Namanya belum pengalaman [kalau Mas Agus sendirian sih sering], masih banyak kekurangan dari peristiwa itu. Seperti kehabisan bensin di Rawalo, ditambah jenis motor matic yang membuat saya capek karena duduknya tidak nyaman. Tidak ada step, harus menjulurkan kaki ke depan dan joknya melengkung.

Tahun 2010, kami berangkat naik motor ke Demak. Percobaan yang lumayan sukses, sekaligus menerapkan satu ‘eksperimen’ perjalanan yang tidak disengaja sebenarnya. Kami benar-benar santai, bahkan sempat nginap segala pas berangkat di Brebes, karena saya sedang kurang sehat.

Waktu itu, saya juga menelepon Mama ketika sudah berangkat. Alias sedang istirahat di Indramayu, di pinggir jalan.

Pernikahan keponakan bagi kami menjadi kesempatan mudik, liburan, dan silaturrahim sekaligus. Harus diakui, butuh strategi keras untuk menyesuaikan jadwal masing-masing karena kami jarang bisa libur lama. Tapi pengalaman tahun 2010 membuktikan kami sudah bisa menyiasatinya, tanpa jatuh sakit atau kelelahan sewaktu pulang. Caranya? Ya itu tadi, selain berhenti tiap satu setengah jam karena kaki pegal, menyempatkan menginap. Kami memang tidak mau ambil risiko menempuh perjalanan malam hari.

Berikut poin-poin acak yang tercatat dari kesan perjalanan Bandung-Banjarnegara-Bandung bulan Mei lalu:

1. Motor yang sudah bekerja keras 2 tahun silam, juga mondar-mandir naik-turun jalan terjal di lereng gunung tentu saja butuh waktu dan biaya ekstra untuk servis sebelum berangkat. Saya baru tahu (sewaktu akan pulang) bahwa speedometer dan penunjuk bensinnya hanya aksesoris alias sudah tidak berfungsi. Mas Agus cuma nyengir, menggunakan feeling untuk mendeteksi bensin habis dan memang terbukti “tajam”.

Dalam hal ini, kata dia, “Jangan lihat bodi, yang penting tenaganya.”

Apakah saya takut? Ah, tidak. Kami pernah menjalani sekitar satu tahun menggunakan motor Cina yang klaksonnya mati. Alhamdulillah baik-baik saja.

2. Meski jok sudah dipertebal, belajar dari pengalaman ke Demak dulu [sampai dilapisi baju kotor supaya empuk], pegal tidak terelakkan. Istirahat tetap 1,5 jam sekali, tapi ini barangkali faktor U kami berdua dan mesin motor yang butuh didinginkan. Catatan baru buat saya: bepergian pagi hari lebih aman untuk mesin si Ijo.

3. Masih soal berhenti-berhenti itu, di samping menangkal kantuk yang bisa berbahaya, juga bagus untuk maag saya yang mengharuskan makan sedikit-sedikit tapi sering. Kambuhnya bukan karena telat makan, tapi makan bakso yang ternyata ada pedasnya di Banjar, jadi berhenti sambil minum obat dulu di Karangpucung.

4. Pengetahuan bertambah mengenai tarif penginapan dan kualitas kamar. Simpulan kami, Jawa Barat dan Jawa Tengah memang bedanya lumayan sadis. VIP di Majenang jauh lebih “bersahabat” dan nyaman daripada di Banjar Patroman, misalnya. Di Wangon (lihat foto di atas) masih ada kamar di bawah 100 ribu yang lumayan, walau serasa tidur di terminal karena sebentar-sebentar ada bus lewat yang bergemuruh:D

5. Satu pencapaian: tidak bawa oleh-oleh (biasanya makanan) sehingga kami lebih tenang sewaktu kehujanan di jalan.

6. Kehujanan sambil nyasar tiga hari berturut-turut, yang saya ingat waktu dari Tasik mau ke Garut lewat Singaparna, malah nyasar lumayan jauh ke arah Cipatujah dan salah belok ketika hendak ke Majenang. Di sanalah kehujanan paling dahsyat. Untungnya memang mau menginap di sana sekalian reuni.

7. Cilacap benar-benar kawasan (kabupaten?) terluas di Jateng. Dengar-dengar mau memisahkan diri, malah.

8. Dalam perjalanan ke Teluk Penyu, dengan polosnya saya bertanya apa maksud “Wisata Religius” yang tertera di papan penunjuk. Mas Agus nyengir lebar sekali.

9. Hati-hati bila makan di tempat yang memasang foto artis. Ini tidak selalu sama sih, tahun 2010 di restoran Cirebon yang katanya didatangi banyak artis, harganya masih terjangkau.

10. Lewat Jalur Selatan benar-benar menyenangkan, hijau, sejuk, banyak tempat mampir istirahat, daripada jalur Utara yang aduhai panasnya. Bukan berarti kemarin tak kepanasan, kami mengalami juga di Cilacap sampai mandi malam di luar kebiasaan. Mungkin gara-gara itu, hujan angin turun lama sekali sampai esok paginya:p

11. Mas Agus tetap sempat nonton bola dan kerja. Tapi dalam perjalanan saja, karena di rumah kakak tempat kami menginap selama di kampung halaman, tidak ada sinyal. Total:D

12. Hitung-hitung, dari segi biaya tidak jauh berbeda dengan tahun 2010.

13. Dampak paling terasa usai perjalanan ini, tambah malas menerobos kemacetan ke kota Bandung yang bikin capek di hari kerja sekalipun. Untuk ke Selatan, contohnya, makan waktu hampir 2 jam padahal dari rumah kami yang pinggiran ini 1,5 jam sudah sampai Cipanas:D

14. Sesampai di Cilacap, pas masuk hotel melati, resepsionisnya sempat memberi kami brosur hotel satu ini. Kata beliau, “Lagi ngetren.” Saya dan Mas Agus hanya lirik-lirikan, lalu setelah jauh, Mas Agus bilang, “Nanti mau ke toilet aja bingung, lho.” Saya tertawa, ingat sewaktu menghadiri suatu acara di sebuah hotel berbintang di Bandung. Kami sama-sama menunggu orang lain menggunakan wastafel, sebab ternyata krannya pakai sistem sensor:))

15. Waktu baca KTP kami, Pak Resepsionis itu bertanya, “Cileunyi itu Bekasi bukan, ya? Anakku di sana soalnya, kerja.” Alhamdulillah, bukan tempat terkenal:))

16. Sebaiknya tidak bepergian di tengah pekerjaan yang tenggatnya sudah dekat atau relatif mepet, sebab sesampai di rumah butuh adaptasi sejenak untuk bisa kembali bekerja seperti biasa. Kalau “terpaksa”, sewaktu deadline-nya longgar (sekali) saja sehingga lebih tenang. Namun dari pengalaman kami ini dengan menerapkan strategi khusus, memang paling enak pergi pas pekerjaan sudah selesai. Ada bekal cukup, pulangnya kantong tidak bocor:D

17. Bersyukur memutuskan naik motor. Jalan Majenang sampai Wangon, termasuk Lumbir, rusak. Tahun 2006, melewati perbatasan Jateng-Jabar, jalan Jabar yang jreg-jreg terasa tidak mulus. Sekarang terbalik. Kalau kemarin saya naik bus, sakit badannya plus mabuk darat (alias jackpot).

18. Meskipun Lumbir masih terkenal karena kelok-keloknya yang bikin mabuk darat, menurut saya Malangbong jauh lebih mengerikan. Nagreg alhamdulillah sudah lebih lebar. Karenanya, bersyukur sewaktu pulang dari Cipanas tidak lewat Malangbong lagi.

19. Pertama kalinya melihat Gunung Papandayan yang cantik memesona, juga kota Garut persis di kawasan almarhum Bapak dibesarkan. Entah apa kata beliau jika tahu, anaknya baru menginjakkan kaki di sana kemarin:D


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

3 Responses to “ Liburan ke Jateng Naik Motor ”

  1. gravatar Uci Reply
    June 6th, 2012

    Kata siapa Rini nggak suka travelling? Ini buktinya, pengalaman touring yang seru 😀

    • gravatar Rini Nurul Reply
      June 6th, 2012

      Hehehe, jadi malu dikomentari pakar travelling:)

      • gravatar Uci Reply
        June 6th, 2012

        Hah, pakar travelling? *nyungsep*

Leave a Reply

  • (not be published)