Jembatan penyambung jalur belakang yang sudah ambrol, tapi masih bisa dilalui pemotor yang berani

Jembatan penyambung jalur belakang yang sudah ambrol, tapi masih bisa dilalui pemotor yang berani

Jujur saja, dorongan agar saya menulis lagi di sini adalah kesadaran bahwa foto-foto pemandangan yang saya kumpulkan (hasil jepret sendiri) lebih enak dilihat di layar laptop daripada ponsel.

Kalau boleh beralasan dulu, saya lama meninggalkan blog karena terjadi sesuatu dalam hidup. Kami mengambil keputusan besar yang berdampak besar juga, termasuk rutinitas keseharian yang banyak berubah. Bisa dikatakan, saya butuh waktu beradaptasi dan “mengorbankan” hal-hal yang saya sukai. Di antaranya membaca buku, yang dengan sedih saya akui, sudah jauh berkurang. Sisi bagusnya, saya tidak menambah timbunan alias kalap belanja lagi.

Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, karena konon “perubahan itu salah satu hal paling pasti”. Seiring hobi saya jeprat-jepret dengan kamera ponsel, objeknya kian beragam. Paling sering kehidupan manusia (apa yang terlihat di jalanan, misalnya), langit, dan aneka hewan yang berkeliaran di rumah. Banyak yang heran sih karena saya kok hobi motoin serangga. Tapi biar sajalah. Koleksi terbanyak tetap foto kucing, tapi saya berhenti dulu sejak empat anak kucing kami mati berturut-turut dalam tempo berdekatan.

Jadi apa maksud judul di atas?

Saya menempuh “keputusan” lain di bulan Mei yang subur tanggal merah ini. Rasanya kok ya, nggak tanggal merah pun, libur anak sekolah bergantian. Lama pula. Maklum, menjelang akhir tahun ajaran. Awal minggu ini, anak-anak SD kelas 1 sampai 5 libur sepekan karena siswa kelas 6 menempuh Ujian Nasional. Saya sudah siap dengar anak-anak yang main ke rumah mengeluh bingung. Sudah siap “mengabaikan” juga, hehehe.

Rupanya anak-anak sudah menyusun rencana untuk jalan pagi (kata mereka, olahraga) tiap hari. Sejak hari Minggu saya sudah di-WA, tapi saya tolak. Saya baru memulai suatu pekerjaan yang lumayan berat, dan proses awal tidak boleh diganggu. Saya perlu riset dan baca-baca materi secara fokus. Si anak tampak kecewa, kemudian mencoba mengajak suami saya. Jelas-jelas lebih sulit, karena dia bukan “manusia pagi”:D

Setelah setengah jalan pekerjaan, otak saya mulai ngebul. Saya nyatakan diri mau ikut mereka jalan pagi (karena rutin banget, serius rupanya) mulai Kamis kemarin. Pikir saya, tidak ada salahnya keluar rumah pagi-pagi dan bawa teman cilik. Anggap saja perubahan suasana, yang penting mereka mudah diatur. Rutenya sih sekitar rumah saja, walaupun medannya memang luas. Maklum, perumahan di lereng gunung. Dan saya baru ingat, anak-anak sangat kuat berjalan jauh. Setekad kuat mereka bangun pagi di hari libur.

Sering lihat anak muda berfoto-foto di kebun ini

Sering lihat anak muda berfoto-foto di kebun ini

 

Kamis itu, kami berangkat pukul 7.30. Pasalnya, saya ditinggal jam 6, kirain batal. Rupanya mereka jalan-jalan duluan, ke rute yang biasa di perumahan sebelah bawah lalu berputar ke gerbang. Tapi masih semangat pas tahu saya mau ikut, bahkan dengan sabar nunggu saya sarapan. Mereka sendiri baru ngemil sekadarnya, karena kepingin jajan dalam perjalanan.

20170518_083042

Lalu terjadilah peristiwa lucu itu… setelah naik jalan pintas lewat tebing seberang rumah (atau belakang rumah), mereka bilang kepingin ke lapangan trail dekat Panti Rehab Mental. Itu saja sudah lumayan jauh, tapi mereka berkeras. Okelah, pikir saya. Turuti dulu, sampai sana akan saya ajak kembali lewat jalan semula. Jalannya memang enak dilalui, lebar, tidak ramai, dan rata. Kami sempat berpapasan dengan tetangga yang berangkat ke sekolah dan pulang kerja.

Pemandangan di lapangan trail dan sekitarnya sangat menyenangkan, cuaca masih segar, sempat mampir juga ke warung dekat sana sambil lihat-lihat kebun dan ladang. Tapi kedua bocah yang menemani saya enggan kembali ke jalur tadi, maunya muter ke komplek lain yang gerbangnya sudah mereka lewati tadi pagi. Entah bosan, entah merasa kuat, entah gimana. Mereka semangat banget, pokoknya. Saya turuti deh, sambil berjalan pelan-pelan dan dikira capek. Padahal saya lagi hemat tenaga, ditambah sedang datang bulan hari kedua.

20170518_084956

 

 

 

Sesampai di jalan masuk kompleks besar itu, yang sebenarnya “pintu belakang”, mereka masih ceria. Nyanyi, mendongeng, menari-nari… saat itu hampir pukul sembilan dan matahari sudah tinggi. Terangnya bukan main. Keringat mulai bercucuran, sedangkan jalannya menanjak lumayan tinggi. Tidak hanya sekali, pula. Jalannya sih bagus, tapi jarang pohon, agak berdebu, dan banyak kendaraan lewat. Jreng jreeng… kedua bocah ini ngos-ngosan dan mengaku capek. Kami mulai sering berhenti, mampir ke warung, bahkan ada penjual serabi memberi kami minuman teh hangat tawar.

Saya bukannya nggak capek, nggak pula gengsi. Badan saya akan terasa lebih remuk jika duduk berlama-lama. Walaupun semakin pelan, kami teruskan perjalanan. Toh sudah ke arah pulang, walaupun masih dua komplek lagi. Di komplek kedua, jalannya lebih bagus dan dihiasi banyak pohon besar di beberapa titik. Tapi kok ya, rasanya malah makin jauh… Hingga akhirnya kami menyerah dan saya diminta menelepon suami. Takut juga dua bocah ini pingsan, belum makan berat, dan salah memperkirakan jarak padahal tadi “nantang”:p

Untungnya kami menurun, lumayan juga ini:))

Untungnya kami menurun, lumayan juga ini:))

Total jenderal pagi itu, kami bertiga menempuh empat kilometer selama dua jam lebih sedikit. Pegal-pegal? Iya dong. Tapi saya ingat kata seorang sepupu, sembuhnya harus dengan jalan kaki lagi. Jadilah besoknya kami janjian, kali ini lebih pagi. Itu juga nawar. Mereka ajak setengah tujuh, saya bilang jam 6.45. Pokoknya perut harus diisi. Sebabnya, jalur yang kami pilih lebih dekat, tapi banyak tanjakannya. Dari rumah ke gerbang komplek saja harus nanjak. Jamnya orang berangkat kerja dan sekolah, pula. Jadi sudah ada asap kendaraan.

Lucunya, mereka sempat duduk dulu di salah satu bangku beton desa sebelah (masih sekomplek, tapi lain desa). Katanya, “Sebelum nanjak, kumpulin tenaga.” Saya nyengir dan bilang kalau mau, mereka boleh mampir di setiap warung yang kami lalui. Pokoknya dibawa santai ajalah. Toh masih pagi.

Perumahan kami pagi itu

Perumahan kami pagi itu

Mereka pilih jajan di warung dekat bengkel, persis di luar gerbang perumahan. Sembari menunggu, saya lihat-lihat pemandangan pagi itu. Asyik juga melihat dari sisi lain, perumahan kami dari jalan perkampungan yang lebih tinggi. Oh ya, kedua bocah ini sudah hafal hobi saya foto-foto. Jadi mereka mau nunggu dan mengerti.

Sesuai “rencana”, banyak istirahatnya. Tanjakan pertama saja sudah lumayan melelahkan, sampai dipandangi warga setempat yang mungkin heran kok ada yang jalan pagi jam segitu. Tapi saya ajak anak-anak cuek saja, kalau memang capek ya menepi. Tidak perlu gengsi.

Total tanjakannya ada tiga, salah satunya menikung. Untung pemakai jalan belum banyak dan baik-baik, motornya relatif pelan walau jalannya mulus. Anak-anak menunjukkan sudut-sudut yang bagus untuk saya foto, lalu minta dikirimkan sepulangnya nanti. Mereka saya larang bawa tablet, takut ribet dan nggak aman. Ini saja sudah latihan buat saya, mengawasi dua anak di luar rumah yang cukup jauh. Kalau saya mau motret, mereka harus dekat-dekat. Saya rajin menoleh, dan saat berjalan, saya selalu paling belakang.

“Rintangan” kami pagi itu adalah dua ekor anjing penjaga besar. Serem. Untunglah pemiliknya mengerti dan memanggil mereka pulang. Kami melewati peternakan ayam dan sapi yang cukup banyak di perkampungan tersebut.

CM170519-071321010Kami pulang melalui tebing jalan pintas yang dilalui kemarin (berangkatnya), saya agak deg-degan karena menurun. Tapi memang jam segitu belum banyak motor lewat, paling yang mau berangkat satu-dua. Kami masih bisa menepi ke ceruk atau kebun, pemotornya pun berhati-hati. Waktu anak-anak asyik bercanda mengusili saya yang memotreti rumah dari sudut lain, saya bilang, “Kuajak belok kiri ya habis ini.” Mereka takut. Jalur kiri adalah pemakaman desa. Saya sih kepingin saja ke sana, soalnya belum pernah dan belum lama pula diperbaiki jalannya.

Yah, saya masih punya PR agar mereka tidak takut kuburan dan sejenisnya gara-gara aneka tontonan dan khayalan.

Kesimpulan: enak juga jalan kaki ke tempat yang biasanya didatangi/dilewati dengan motor. Ada sesuatu yang baru dan dapat diamati lebih saksama, tanpa terburu-buru.

Akhir kata, maafkan tampilan postingan ini yang berantakan karena saya lupa menu-menu WP:(


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)