Keberangkatan awal Mei lalu terbilang spontan. Kami tengah berbincang-bincang dengan Mbak Esti seusai peluncuran Seteru Satu Guru, novel suntingan Mas Caroge di Aula PSBJ di kampus. Masuklah SMS tentang kumpulan Bani Dawud pada hari Minggunya, lalu Mas Caroge bertanya, “Berminat ke Wonosobo?”

Waktu yang sangat pas karena kami sama-sama baru merampungkan proyek yang bikin kepala berasap, sementara yang berikutnya belum dimulai. Berikut sejumlah kesan yang saya kenang:

Saya tantang Mas Caroge, “Berani hanya bawa satu ransel?” Setelah beberapa kali ke Jateng, terutama di musim hujan, rasanya sungguh repot membawa ransel besar atau tas berisi laptop. Parkirnya tidak tenang, ke musala harus gantian, di jalan pun demikian. Berhasillah kami kali ini tidak berbekal pekerjaan. Beberapa nasihat dari Nunik dan Mbak Esti sangat membantu agar ransel tidak berat.

Waktu keberangkatan tetap menjadi perdebatan. Seperti awal tahun silam, Mas Caroge berkeyakinan banyak yang menghindari berangkat pas tanggal merah (bertepatan dengan Hari Buruh). Jadilah ini pertama kalinya kami pergi siang-siang usai Jumatan, agar tidak bertemu konvoi moge di jalan juga. Alhamdulillah jalan relatif lancar, tapi baru sampai Ciawi… jeglaaarrr! Hujan turun deras sekali. Plus petir dan tidak ada tanda-tanda berhenti. Syukurlah kami bawa jas hujan. Setelah mampir mengisi perut di rumah makan langganan, kami menemukan penginapan murmer yang nyaman dan bersih. Kendalanya hanya satu: kantin menyediakan camilan saja. Saking terjangkaunya tempat itu, tamu yang menginap lumayan banyak. Ada satu insiden, orang mencari kamar (baru datang) dan membuka-buka pintu kamar yang dilewati. Setelah Mas Caroge membuka pintu dengan rambut digerai, kami bisa tenang.

 

Ternyata esoknya kami tidak bisa berangkat “nyubuh” karena masih hujan. Karena khawatir kesiangan, sekitar pukul setengah sembilan kami melanjutkan perjalanan dan… berhenti lagi di SPBU Panjalu menunggu hujan reda. Sisi bagusnya, cuaca menjadikan Ireng tidak cepat panas dan jalan pun relatif lengang. Asyiknya, SPBU yang semakin lapang ini dilengkapi tempat duduk berbatu. Lumayan untuk pijat. Toiletnya juga nyaman sekali.

Menjelang perbatasan Jawa Barat, hujan berhenti. Kali ini kami tidak mampir lama di SPBU Bojong, sekadar copot jas hujan. Kami menemukan tempat istirahat yang lebih menyenangkan, SPBU Karangkamulyan yang luas sekali. Relatif jarang disambangi pelancong dan rombongan bus wisata. Saya bisa telanjang kaki bolak-balik, beli camilan di warung yang juga menyediakan dorokdok dan kurupuk ati maung. Pulangnya pun disempatkan singgah ke sini lagi untuk selonjoran. Melewati monumen ucapan selamat datang di Jateng, kami disambut jalan Wanareja yang bolong-bolong:((

Perjalanan ke rumah kakak di Wonosobo masih agak jauh, sedangkan tubuh sudah penat dan kedinginan. Jadi kami meluncur cari penginapan di tengah kota. Cap cip cup lihat penampilan hotel yang kira-kira tidak bikin nangis kantong (untuk ukuran Bandung tentunya). Alhamdulillah, dapat kamar di sudut, air hangat yang melimpah, dan sarapan diantar besok paginya. Mas Caroge juga bersukaria jajan angkringan berikut nasi garong (beberapa bungkus nasi kucing).

Secara keseluruhan, ada beberapa hal “baru” yang kami temukan:

1. Pedagang gorengan tempat kami berteduh sepulang dari Gombong 4 bulan lalu sudah tutup.

2. Lewat Purworejo dari Wonosobo, mampir di Sumber Adventure Center Kutoarjo yang ternyata pernah jadi lokasi pameran mobil antik se-Jawa Tengah.

3. Lewat jalur sini, khususnya Kebumen dan Gombong, masih sulit cari tempat istirahat yang lesehan.  Tapi saya lihat ada penjual sate tupai segala:D

4. Mampir lagi ke Sumpiuh setelah sekian tahun melewatkannya. Halaman belakangnya semakin hijau dan nyaman. Saya terkesan melihat pramusaji menemani anak seorang tamu ke toilet karena tengah turun hujan. Merangkap pengasuh jadinya:)

5. Taman Makam Pahlawan di Purworejo, kota bertabur lambang Pramuka.

6. Menginap di tempat yang dilanggani pemasok dan distributor barang keliling, menyaksikan mereka melengkapi catatan dan laporan jadi pemandangan tersendiri.

 

Khusus mengenai pengalaman perdana nyangklong ransel satu tanpa oleh-oleh, sepertinya mudah terwujud karena kemarin masih musim hujan. Walaupun agak repot mengeringkan sepatu dan jaket (untungnya ada kipas angin di hotel), tetap terasa santai. Sewaktu berteduh dalam perjalanan, tidak pusing dan cemas laptop kebasahan. Badan relatif tidak terlalu keringatan, jadi mandi saja cukup. Tidak perlu sering-sering ganti baju:D Tentu saja paling terasa sesampai di rumah, cucian tidak kelewat numpuk. Semakin ringan karena liburannya bukan dalam rangka kondangan dengan ekstra baju dan macam-macam lagi. Terima kasih, Nunik, atas saran-sarannya:)

Oh ya, kemarin bisa dikatakan paling sebentar di tempat tujuan. Hanya satu malam, sedangkan di jalannya lebih lama. Memang lebih lelah apalagi jaraknya lebih jauh sehingga pemulihan di rumah lebih lama. Tapi tetap menyenangkan dan tidak bosan.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)